Diposting : 2 August 2016 10:48
redaksi - Bali Tribune
kapal ferry
Keterangan Gambar: 
Salah satu kapal ferry berlayar meninggalkan Pelabuhan Padang Bai menuju Pelabuhan Lembar.

Amlapura, Bali Tribune

Cuaca buruk disertai gelombang tinggi dan angin kencang terjadi di jalur penyeberangan Padang Bai-Lembar, Lombok. Tingginya gelombang membuat jarak tempuh dari dan menuju Pelabuhan Padang Bai, Karangasem cukup lama. Bahkan gelombang tinggi pada Jumat (29/7) lalu mengakibatkan sebuah truk di dek salah satu kapal ferry, terguling dan menimpa tiga mobil pribadi.

“Gelombangnya lumayan tinggi pak, kapalnya goyang sekali banyak penumpang yang mabuk laut,” ungkap Lukman Hakim, salah seorang penumpang kapal asal Sumbawa Besar yang baru turun dari kapal, Senin (1/8). Lukman juga mengaku memperhatikan kapal yang ditumpanginya berlayar mengambil jalur agak menepi ke perairan Karangasem untuk menghindari gelombang tinggi.

“Biasanya kapal kalau menyebrang agak dekat dengan Pulau Nusa Penida, tapi kali ini berbeda seperti menghindari gelombang dengan berlayar agak ke pinggir ke perairan Karangasem,” kata pengusaha yang mengaku sering bolak-balik Bali-Sumbawa ini.

Terkait cuaca buruk di perairan Selat Lombok tersebut, Kasi Penjagaan dan Keselamatan Pelayaran, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Padang Bai, I Ketut Mulyana, kepada koran ini menyatakan masih aman untuk pelayaran. “Kalau tinggi gelombang di Selat Lombok bagian utara 1-2 meter, itu masih aman untuk pelayaran,” sebut Mulyana.

Sedangkan untuk kecepatan angin ditengah perairan antaran 15-26 Knot. Memang dari prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG wilayah III Denpasar, ketinggian gelombang untuk Selat Lombok bagian selatan cukup tinggi yakni 1.5-4 meter, namun itu bukan merupakan jalur penyeberangan Ferry Padang Bai-Lembar.

Dalam kesempatan ini, Mulyana juga membantah adanya penundaan penyeberangan kapal cepat dari Padang Bai dengan tujuan ke Gili Trawangan. “Dapat informasi dari mana ada penundaan penyeberangan kapal cepat? Semuanya lancar kok, aman-aman saja!” bantahnya.

Terkait dengan kondisi cuaca di tengah perairan yang mulai memburuk, pihaknya mengaku akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan nahkoda kapal. Artinya jika kondisi cuaca dan gelombang ditengah perairan Selat Lombok ketinggiannya sudah membahayakan untuk pelayaran, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan memberlalukan sistem buka tutup.