Diposting : 17 July 2019 14:30
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
Bali Tribune/ Kepanikan di RSU Negara saat gempa Selasa (16/7) pagi
balitribune.co.id | Negara - Gempa bermagnitudo 5,8 yang terjadi Selasa (16/7) pagi getarannya dirasakan cukup kuat di Jembrana membuat warga panik dan berhamburan ke luar rumah. Sejumlah infrastruktur rusak dan beberapa korban mengalami luka.  Sekolah pun memulangkan siswanya lebih awal.
 
 Di Kantor Bupati Jembrana, pegawai berhamburan ke halaman kantor. “Saya baru mulai ngetik surat, tiba-tiba gempa. Semua pegawai dari lantai dua langsung turun keluar ruangan dan sempat berdesakan di tangga,” ujar Gusti, PNS di salah satu OPD Pemkab Jembrana. 
 
Kepanikan juga terjadi di rumah sakit. Warga yang menjenguk pasien behamburan ke halaman. Sedangkan pihak rumah sakit mengevakuasi pasiennya keluar ruangan hingga dirasakan aman. Evakuasi pasien dari lantai tiga hingga lantai satu dilakukan petugas medis dibantu penunggu pasien.
 
“Sempat panik. Mikir anak dan istri yang masih terbaring tadi,” ujar Komang Sutarma, salah satu penunggu pasien bersalin di RSU Negara.
 
Direktur RSU Negara, dr. Gusti Bagus Oka Parwata memastikan tidak sampai ada korban maupun kerusakan bangunan akibat gempa di areal RSU Negara.
 
Selain kepanikan, getaran gempa juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah. Salah satu rumah tinggal milik Putu Adyasa di Banjar Lemodang, Desa Perancak, Jembrana dindingnya rontok setelah diguncang gempa. Begitu pula bangunan gedung TK Handayani di Banjar Baluk II, Desa Baluk, Negara dindingnya retak. Bahkan gempa terjadi di saat para siswa sedang berada di dalam ruangan. Beruntung tidak ada korban. Pihak sekolah pun memulangkan siswanya lebih awal. Bahkan di beberapa sekolah, selain kerusakan bangunan, juga ada siswa mengalami luka-luka.
 
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jembrana, I Made Sapta Budiarta mengatakan kondisi dampak gempa terparah di SMPN 5 Mendoyo di Desa Yehsumbul, Mendoyo. Saat gempa, siswa sedang berada didalam ruangan.
 
“Yang rusak bangunan lab IPA, Tembok dan daknya renggang. Retaknya sejak gempa Situbondo tahun 2018. Ini harus ditangani segera karena berbahaya. Diusulkan perbaikan dan BPBD bersama PU sudah diminta untuk turun mengecek,” ujarnya.(u)