Diposting : 30 January 2018 22:09
Komang Arta Jingga - Bali Tribune
P2TP2A
Aksi yang dilakukan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dalam mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Simpang Patung Wagimin-Debes, Senin (29/1).
BALI TRIBUNE - Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendukung langkah kepolisian dalam mengusut tuntas kasus pencabulan terhadap salah seorang siswa SMP yang meninggal dunia belum lama ini.
 
Hal itu sebagai bentuk komitmen Pemkab Tabanan dalam melindungi kaum perempuan dan anak-anak dari kekerasan dalam bentuk apapun. Terlebih kekerasan seksual.
 
Karena itu, selain terus berkoordinasi dengan Polres Tabanan, Pemkab Tabanan juga memberi ruang kepada Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Seperti yang dilakukan pada Senin (29/1) di simpang Patung Wagimin-Debes.
 
“Sejak awal, pimpinan kami berkomitmen memberikan perhatian lebih terkait hak-hak perempuan dan anak-anak. Memberikan perhatian sosial kepada anak-anak yang tidak mampu atau yatim piatu agar bisa meneruskan pendidikan.Termasuk salah satunya menghapus kekerasan kepada perempuan dan anak-anak,” ujar Sekda Tabanan, I Nyoman Wirna Ariwangsa.
 
Sekda Wirna menyampaikan hal itu di hadapan rombongan P2TP2A yang dipimpin Ni Nengah Budawati. Kebetulan menjelang aksi solidaritas dilakukan, mereka bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tabanan mengagendakan audiensi ke kantor Bupati Tabanan. Bahkan, kedua orangtua korban juga turut hadir disertai perbekel serta kepala sekolah korban.
 
Sementara dari pihak Pemkab Tabanan terlihat juga Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra I Wayan Yatnanadi, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Nyoman Gede Gunawan, serta Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga I Gede Susila.
 
“Sebetulnya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah diupayakan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keterlibatan elemen masyarakat lainnya juga sangat besar. Terlebih keluarga maupun lingkungan sekitar pada saat di luar jam sekolah,” jelas Sekda Wirna.
 
Di kesempatan yang sama Sekda Wirna juga menyampaikan dukungan moral yang diberikan Bupati maupun Wakil Bupati Tabanan terhadap kedua orangtua korban. Bahkan, di akhir pertemuan itu, Sekda menyerahkan bantuan materi dari bupati kepada orangtua korban untuk keperluan upacara pengabenan atau penguburan.
 
“Sebagai orangtua, tentu kita akan sakit hati dengan kejadian yang menimpa anak kita. Namun, bagaimana pun juga ini sudah jalannya. Kita yang ditinggalkan harus bisa menerimanya dengan ikhlas. Kepada ibu dan bapak (orangtua korban) saya berharap bisa lebih tabah dan ke depannya semangat menjalani hidup,” ujar Wirna.
 
Sebelumnya, Ketua P2TP2A Tabanan Ni Nengah Budawati menjelaskan bahwa tujuan kedatangannya sebagai bentuk terima kasih kepada Pemkab Tabanan maupun Polres Tabanan dalam menangani kasus ini. Selain itu, pihaknya juga diberikan dukungan untuk menggelar aksi solidaritas dalam kaitan mengampanyekan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
 
“Saat ini kekerasan perempuan dan anak sudah tergolong kejahatan kemanusiaan di samping trafficking, narkoba, dan penjualan senjata ilegal. Isu kekerasan seksual luar biasa masif. Bukan hanya di Indonesia saja tetapi di tingkat internasional juga,” ulasnya.
 
Berdasarkan data Komnas Perempuan, sambung dia, dalam satu jam ada tiga korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ini yang mendorong kami untuk menggelar aksi solidaritas dan ke depannya upaya pencegahannya. “Kalau tidak predator anak akan leluasa melakukan aksinya,” tandasnya.