Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Ada Apa dengan Demokrat

pengamat
Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Posisi abu-abu Partai Demokrat sudah mulai tersibak. Setidaknya ada dua peristiwa yang menandai pergeseran itu. Pertama; pada Rapimnas yang dihelat di Sentul, Bogor, 10-11 Maret 2018, Ketua Umum DPP, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) memberi sinyal partainya akan mendukung Jokowi sebagai Capres 2019. Kedua; Ketua Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean terancam sanksi dari partainya gara-gara walkout ketika Jokowi menyampaikan pidato di Rapimnas tersebut.

Sebelumnya; dalam banyak hal, Partai Demokrat selalu mengambil posisi “tengah”. Sidang paripurna pengesahan Perpu Ormas 24/10 yang membela perlemen menjadi dua arus besar misalnya, Partai Demokrat menegaskan posisinya mendukung Parpu tersebut asal direvisi sebagian pasal sebelum disahkan menjadi UU. Ketika itu, barisan partai penyokong pemerintah; PDIP, Golkar, Hanura, NasDem, PKB dan PP kompak mendukung tanpa syarat, sedangkan Gerindra, PKS dan PAN konsisten menolak. Ini hanya satu dari sekian sikap Partai Demokrat yang dinilai publik sebagai abu-abu.

Namun, dengan jargon partai penyeimbang untuk menghaluskan citra abu-abu yang dilabeli public dan pengamat, Partai Demokrat percaya diri bahwa posisi seperti itu menguntungkan. Sampai pada satu titik, kabut politik itu menjadi terang pada momentum Rapimnas. Bahkan, canda politik Presiden Jokowi bahwa dirinya seorang “Demokrat” dengan ciri-ciri pendengar yang baik, menghargai pendapat orang, sekaligus menghargai perbedaan tanpa menjadikannya sebagai sumber permusuhan adalah lampion yang turut membuat sikap abu-abu Partai Demokrat menjadi terang secara sempurna.

Namun, atmosfir politik saat ini belum dapat dijadikan patokan apakah posisi Partai Demokrat saat ini sudah final. Hanya saja, yang mulai dapat dimengerti adalah bahwa Partai Demokrat sedang bermain dalam politik kepentingan. Bus biru dengan ikon perjuangan partai dan gambar diri Agus Harimurti Yudoyoni (AHY) bersafari keliling Jawa, elit-elit Partai Demokrat yang sering mengaitkan nama AHY dengan rivalitas politik 2019, serta Rapimnas yang menampilkan sosok muda-cerdas itu, membuat ruang bawa sadar public terseret ke satu simpul; bahwa Partai Demokrat bakal menawarkan AHY mendampingi Jokowi di 2019 nanti.

Politik kepentingan atau kepentingan politik? Jawabannya adalah kedua-duanya. Politik kepentingan telah membawa Partai Demokrat diprediksi bakal berada dalam satu kapal dengan PDIP, yang tadinya berbeda secara diametral. Perbedaan itu tercermin dalam hubungan dingin SBY-Megawati sebagai nakhoda kedua partai, untuk kemudian diprediksi berada dalam satu kapal; mendukung pasangan calon Presiden-Wapres yang sama. Sedangkan kepentingan politiknya adalah agar dinasti SBY—dalam arti positif, akan dengan mudah menapaki tangga kekuasaan sesuai dengan kapasitas intelektual yang ada padanya.

Dalam teori politik abad pertengahan, politik kepentingan dan kepentingan politik masih bebas nilai. Dia menjadi buruk jika dirasuki pemikiran Niccolo Machiavelli tentang kekuasaan. Melalui bukunya yang terkenal (The Prince, 1513), dia memperkenalkan kekuasaan sebagai “sosok” yang menakutkan. Kata dia, kekuasaan akan diraih dan dipertahankan dengan dua modal; keberuntungan (fortuna) dan kecerdikan (virtu). Dari sana, dia kemudian mengeksplor satu postulat filsat yang terkenal; “Tujuan menghalalkan Cara”. Artinya, jika tujuan sudah ada, maka tidak perlu lagi mendiskusikan cara karena apapun termasuk membunuh, halal untuk dilakukan demi tujuan itu.

Tentu saja, politik kepentingan yang dimainkan Partai Demokrat bukanlah suatu kecerdikan untuk meraih tujuan secara pragmatis. Kepentingan, sebagaimana yang diajarkan dalam teori politik klasik Aristoteles, adalah kepentingan warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan kepentingan partai dan elit-elitnya. Agaknya, karakter politik SBY sebagai lokomotif dan ikon PD, menjamin bahkan maneuver Partai Demokrat merapat ke Jokowi masih dalam koridor makna “kebaikan bersama’ sebagaimana diidamkan Aristoteles.

Bagaimana ujungnya bila benar-benar Partai Demokrat dengan PDIP dberada dalam satu perahu untuk mengusung satu pasangan calon? Kalkulasi politik bisa kita mulai dengan menghitung angka dan marwah kedua partai. Bahwa kedua partai pernah menjadi pemenang pertama  dalam Pamilu Legislatis dan hingga saat ini, kedua-duanya berada dalam kategori papan atas.

Pada Pemilu 2014, PDIP meraih suara tertinggi, 23.681.471 (18,95 persen),  dengan menempatkan 109 kadernya di kursi DPR RI, sedangkan Partai Demokrat di urutan keempat dengan suara 12.728.913 (10,19 persen) dan menempatkan 61 kadernya di DPR RI. Apabila kedua kekuatan besar ini digabung, dengan asumsi mesin partai solid dan bergerak optimal, maka hampir pasti disimpulkan pasangan calon Presiden-Wapres yang diusung, menjadi pemenang.

Apakah itu yang sedang diimpikan Jokowi dan Partai Demokrat? Jawaban terhadap pertanyaan ini, sekaligus menjadi kunci atas pertanyaan induk; ada apa dengan Partai Demokrat. Kita tunggu saja waktu yang membuktikannya.

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Sekda Badung Pimpin Evaluasi Realisasi Fisik dan Keuangan APBD 2026

balitribune.co.id I Mangupura - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Badung, Ida Bagus Surya Suamba, memimpin langsung rapat evaluasi realisasi fisik dan keuangan APBD Tahun Anggaran 2026 di Ruang Rapat Kertha Gosana, Kantor Bupati Badung, Senin (31/8/2026). Evaluasi ini digelar oleh Pemerintah Kabupaten Badung untuk memantau progres pelaksanaan pembangunan, pengadaan barang dan jasa, serta serapan anggaran dari periode Januari hingga Juli 2026.

Baca Selengkapnya icon click

TPA Mandung Masih Berasap, Petugas Guyur Air Pagi-Sore

balitribune.co.id I Tabanan – Upaya pemadaman kebakaran akibat ledakan gas metan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung di Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, hingga kini masih berlangsung.

Meski kobaran api sudah berhasil ditanggulangi, upaya pendinginan dengan cara mengguyur air pada pagi dan sore masih tetap dilakukan lantaran sejumlah titik masih berasap.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

BPBD Buleleng Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih ke Sinabun

balitribune.co.id I Singaraja - Laporan cuaca Stasiun Klimatologi Bali per 31 Agustus 2026 yang menunjukkan sejumlah wilayah Bali mengalami hari tanpa hujan hingga kategori kekeringan ekstrem mulai dirasakan disejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng. 

Kondisi tersebut ditandai dengan berkurangnya ketersediaan air bersih, salah satunya dialami warga Banjar Dinas Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan.

Baca Selengkapnya icon click

Ratusan Ribu Warga Bali Terima Bantuan Beras

balitribune.co.id I Denpasar - Perum BULOG Kantor Wilayah Bali mulai menyalurkan Bantuan Pangan alokasi Juli hingga September 2026 kepada ratusan ribu masyarakat penerima manfaat di seluruh Bali.

Program tersebut ditargetkan menjangkau 302.397 Penerima Bantuan Pangan (PBP) dengan total beras yang disalurkan mencapai 9.071.910 kilogram atau sekitar 9.071 ton.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pengawasan Ketat Balai Karantina Selamatkan Burung Liar dari Ancaman Perdagangan Ilegal

balitribune.co.id I Denpasar - Upaya menjaga Bali dari lalu lintas ilegal satwa liar sekaligus menyelamatkan populasi burung dari ancaman perdagangan ilegal mendapat pengakuan internasional. Balai Besar Karantina Bali menerima penghargaan dari "International Union for Conservation of Nature Species Survival Commission Asian Songbird Trade Specialist Group" (IUCN SSC ASTSG).

Baca Selengkapnya icon click

Percepat Penanganan Kebakaran, Damkar Denpasar Tambah 2 Pos Baru

balitribune.co.id I Denpasar - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Denpasar terus memperluas jangkauan pelayanan penanganan kebakaran dan penyelamatan. Tahun ini, menambah dua pos pemadam kebakaran baru yang berlokasi di Sekar Tunjung, Kesiman dan Kelurahan Serangan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.