Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Blunder Orang Dekat

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) naik tahta dengan gegap gempita.  Pesta rakyat, peluncuran lampion, arak-arakan sang dwiwarna dan berpacunya kereta kencana menuju Istana, telah menorehkan sejarah dalam menyambut pemimpin baru di level nasional. Bahwa penyambutan pemimpin negara tidak hanya harus berlangsung di gedung-gedung megah atau lapangan upacara dengan kilauan pedang komando, tetapi justru lebih khikmat adalah melalui pesta rakyat seperti yang terjadi sepanjang hari tanggal 20 Oktober 2014 lalu. Di hari bersejarah itu, Jokowi-JK (Presiden dan Wakil Presiden) baru pilihan rakyat, memulai langkahnya merealisasi janji-janji kampanye hingga kurun waktu lima tahun ke depan.  Di berbagai media sosial; rakyat menebar harap, pengamat melontar komentar dan para oposan mengasah taji untuk siap mengeritik. Seremoni unik itu, khabarnya merupakan inisiatif Jokowi untuk menggambarkan kesan bahwa pemerintahan yang dipimpinnya lima tahun ke depan, dekat dengan rakyat dan bebas dari intervensi pihak manapun. Kedua kesan tersebut,  untuk ukuran tertentu memang tampak pada kepemimpinan Jokowi ketika menjadi Walikota Solo maupun Gubernur DKI. Maka, seiring dengan itu, ekspektasi publik pun tumbuh bersama kehadirannya di tampuk kepemimpinan nasional. Setelah 3,5 tahun berkuasa,  apa yang saya prediksikan terjadi.  Kelompok oposisi demikian gencar dan masif melakukan manuver untuk mengakhiri kepemimpinan Jokowi di Pilpres 2019, terakhir dengan aksi Tagar #2019GantiPresiden. Demikiaan juga ekspektasi sebagian besar rakyat masih tetap tinggi (sesuai mayoritas lembaga survei), juga komentar para pengamat yang terus ramai di ruang publik. Hal yang tak terprediksi oleh sebagian besar orang adalah bahwa Jokowi-JK ternyata tidak merdeka dalam mengelola negara.  Dia terbelenggu oleh kepentingan orang atau kelompok tertentu yang berjasa mengantarkanya meraih sukses.  Dalam mengambil keputusan atau menghadapi krisis tertentu, Jokowi dinilai tidak 'merdeka' mengambil sikap. Sejumlah fakta belakangan ini menunjukan ketidakmerdekaan itu. Operasi pelarangan atau pembatasan ruang gerak pengguna kaos bertagar #2019GantiPresiden oleh Satpol PP dan atau oknum Polri merupakan salah satu bukti. Ini adalah langka blunder para penyokong Jokowi karena justru akan menyulut kebencian masif di lapis akar rumput yang umumnya lebih mencerna sesuatu dengan perasaan. Mereka merasa bahwa ada keikutsertaan negara dalam rivalitas politik sehingga ada pihak yang terdholimi. Hal ini diperparah lagi dengan kesan bahwa Presiden dan orang-orang di lingkar dalam kekuasaan memandang remeh oposisi dan menganggap bahwa hampir semua rakyat saat ini mencintai pemerintah. Beberapa bukti misalnya, ketika kaos betagar #2019GantiPresiden beredar,  salah seorang anggota DPR RI dari partai penyokong pemerintah secara sinis menegaskan: "ah, itu paling hanya 13 orang." Demikian juga pidato Presiden,  yang mungkin atas masukan orang dekatnya, mengeluarkan pernyataan yang meremehkan oposisi. Padahal, dalam politik dan perang, kita mesti mengenali lawan dengan seksama dan tidak memandang remeh. Sebab, sikap itu berpotensi untuk menimbulkan kelengahan dari dalam. Kita bisa berkaca pada Pilkada DKI dimana menurut amatan saya keberpihakan oknum Polisi atas kompetisi politik itu, sangat kuat.  Demikian menguatnya sehingga masyarakat awampun tahu keberpihakan itu.  Jika negara dibawa untuk memihak, maka rakyat pasti merasa kurang nyaman. Akibatnya, barisan yang sebelumnya mendukung Gubernur Petahana, akhirnya tarik diri dan apa yang diprediksi sebagian besar pengamat menjadi meleset. Type asli Jokowi tidak tampak saat ini karena pengaruh orang-orang dekat. Jokowi yang biasa santai menghadapi kritik, matang dalam memecahkan masalah serta tenang dalam berpikir dan bertutur, menjadi lain karena masukan yang salah. Maka menarik analisis budayawan Eros Djarot dalam artikelnya "Siapa Musuh Terbesar Jokowi" yang menyodorkan kesimpulan bahwa musuh terbesarnya bukan Prabowo dan Kelompok pendukungnya, tetapi malah orang-orang dekat Jokowi sendiri. Apa yang ditulis Eros memang benar.  Karena sosok Jokowi yang dahulu, dengan gaya dan karakter kepribadiannya yang asli, menjadi hilang. Negara yang dikelolanya saat ini selalu mempelihatkan posisi offensif dalam menghadapi oposisi. Hal ini terjadi bukan karena sikap asli Jokowi namun atas pengaruh orang-orang dekat baik atas pengetahuan Jokowi maupun tidak. Untuk menghadapi arus yang berlawanan,  kita bisa belajar pada hukum fisika. Bahwa gerak sebuah benda akan menimbulkan kontraksi amat kuat jika dihadang dengan benda bermassa sama.  Kontraksi itu justru menjadi insentif energi baru yang berdaya ledak tinggi. Oleh karena itu,  sikap paling tepat yang diambil para pendukung dan negara yang dikelola Petahana saat ini adalah divensif. Karena dengan begitu, energi yang dikerahkan oposisi malah menimbulkan pemborosan. Pada titik tertentu, Jokowi vs. Prabowo hanya akan mengulang sejarah di Pilpres 2014. 

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

Kasus Penggelapan Asal-Usul Orang Pertama di Bali, Ibu dan Anak Jadi Tersangka

balitribune.co.id | Denpasar - Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polresta Denpasar resmi menetapkan seorang ibu berinisial LJL dan anaknya berinisial KC sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penggelapan asal-usul orang sesuai Pasal 401 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tertanggal 2 September 2026.

Baca Selengkapnya icon click

DPRD Badung Dukung STT Yowana Dharma Kertha Perkuat Pelestarian Adat

balitribune.co.id | Mangupura – DPRD Badung mendorong Sekaa Teruna Teruni (STT) Yowana Dharma Kertha, Lingkungan Bumi Kertha, Kelurahan Kerobokan Kaja, Kuta Utara, terus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga adat, seni dan budaya Bali.

Dukungan tersebut disampaikan anggota DPRD Badung I Wayan Sandra saat menghadiri HUT ke-25 STT Yowana Dharma Kertha di Balai Banjar Bumi Kertha, Perumahan Dalung Permai, Sabtu (5/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

DPRD Badung Dukung ST Tunjung Mekar Perkuat Peran Generasi Muda

balitribune.co.id | Mangupura – DPRD Kabupaten Badung memberikan dukungan terhadap keberadaan Sekaa Teruna (ST) Tunjung Mekar Banjar Sedahan, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, yang memperingati HUT ke-55, Jumat (4/9/2026). Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat peran generasi muda dalam menjaga adat, tradisi, seni dan budaya Bali.

Baca Selengkapnya icon click

DPRD Badung Kawal Penghijauan Canggu, Pariwisata Diminta Tak Korbankan Lingkungan

balitribune.co.id | Mangupura – DPRD Kabupaten Badung ikut mengawal penataan kawasan Canggu, Kecamatan Kuta Utara, di tengah pesatnya pembangunan pariwisata. Salah satu perhatian legislatif adalah menjaga keseimbangan antara perkembangan kawasan wisata dengan kelestarian lingkungan melalui penguatan ruang terbuka hijau.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Kelelahan, Pendaki Remaja Terjatuh ke Jurang Gunung Agung

balitribune.co.id | Amlapura - Seorang pendaki remaja asal Banjar Yeha, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Komang Sandi Darmawan (15), dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam 12 meter di Gunung Agung, Minggu (6/9/2026). Insiden terjadi saat korban dalam perjalanan turun usai mencapai puncak gunung tertinggi di Bali tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

In Memoriam: I Gusti Ayu Badri, Figur Sentral Pendukung Tokoh Kebudayaan Bali

balitribune.co.id | Denpasar - Kabar duka menyelimuti keluarga besar mantan Wali Kota Denpasar sekaligus Anggota DPD RI masa bakti 2024–2029, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Ibunda tercinta, I Gusti Ayu Badri, berpulang pada usia 97 tahun saat menjalani perawatan intensif di Bali Royal Hospital, Jalan Tantular No. 6, Renon, Denpasar Timur.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.