Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Desa Wisata Mesti Jadi Subjek bukan Objek

NARASUMBER - dari kiri: Made Suarnatha, Wisnu Murti, dan AA Gede Putra, dalam diskusi yang diselenggarakan Kagama Bali di Kubu Kopi, Denpasar, Selasa (19/4).

Denpasar, Bali Tribune

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan desa wisata di Bali. Menurut Made Suarnatha dari Yayasan Wisnu, desa wisata harus diperlakukan sebagai subjek bukan objek dari pariwisata itu sendiri. Demikian terungkap dalam diskusi Pariwisata Bali di Era MEA yang diselenggarakan Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) Bali, di Warung Kubu Kopi, Tanjung Bungkak, Denpasar, Selasa (19/4).

Suarnatha yang telah malang melintang menjadi pendamping sejumlah desa wisata di Bali ini mengatakan, beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam membangun desa wisata antara lain potensi desa, sumber daya alam, tanah, alam, sumber daya manusia, seniman, kuliner, artistik. sumber daya capital, dan sumber daya infrastruktur. “Membangun potensi desa wisata juga harus memperhatikan potensi finansial yang jelas sumbernya,” katanya, mengingatkan.

Lebih lanjut, Suarnatha mengatakan, desa wisata juga perlu membangun jaringan sebagai bentuk modernisasi pengelolaan. “Dari desa itu sebaiknya dibangun jaringan ekowisata desa yang dikelola secara modern, juga membangun ownership dari masyarakat sebagai wujud transparansinya sistem ekonomi masyarakat,” paparnya. Sedangkan dari perwakilan My Bali Home Stay mengatakan, sebetulnya desa ini apa adanya sudah bagus.

Dengan adanya nilai tambah mampu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat desa. “Kalau akomodasi, sarana dan prasarana tersedia jelas ekonomi masyarakat desa akan terwujud,” katanya. Yang disesalkan, selama ini belum terjadi pemerataan di sektor pariwisata yang perkembangannya masih tertumpu di Bali Selatan. “Pemerataan itu tidaklah mudah, namun demikian yang perlu dilakukan bagaimana desa wisata yang ada layak dipromosikan,” imbuhnya.

Dikatakan, selain meng-upgrade hospitality desa wisata, perlu juga memposisikan desa wisata di mana sebenarnya. “Sebenarnya kegagalan kita adalah pasar, jadi kalau kita berurusan dengan pariwisata, pemikirannya mesti kapitalistik. Jika kita membawa wisatawan ke desa paling mesti menggunakan gambaran kapitalistik. Kita sebenarnya ingin menarik tamu ke desa untuk merasakan ambience desa, aktivitas di desa dan kalau itu terjadi sungguh hal yang luar biasa,” kata dia.

Terkait dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), ia menilai, sumber daya manusia (SDM) pariwisata di Bali sudah ada di situ. “Artinya SDM sudah cukup kompeten untuk terlibat dalam MEA, namun faktanya tetesan hasil dari pariwisata itu tidak terjadi, dan sepertinya pemerintahpun sudah gagal paham juga akan keberadaan desa wisata ini, “ katanya lagi.

Dari sisi lain, Sekjen Kagama Bali, AA Gede Putra, mengatakan, dari segi investasi, Bali itu masih menarik karena keunikannya. Bali masih jadi magnet pariwisata. “Keunikan Bali masih jadi daya tarik investasi, akibatnya harga pergerakan investasi di Bali terus semakin bergerak naik,” terangnya. Ia mencontohkan, hitung-hitungan membangun hotel sudah tidak bisa diterima, karena butuh waktu yang sangat panjang untuk balik modal, tapi investor tetap tertarik untuk berinvestasi di Bali.

Hanya saja, ia menyayangkan konteks pendekatan yang dilakukan investor selama ini bukan secara kultural. Akibatnya pariwisata Bali hanya menjadi objek. “Para pemilik modal ini kan sebenarnya ingin return yang cepat, akibatnya mereka mengabaikan pendekatan secara kultural,” ujarnya.

Ketua Kagama Bali, Wisnu Murti, menyatakan, ia pernah terlibat dalam kerja sama UGM, Udayana dan Warmadewa untuk meneliti desa wisata di Bali tahun 90-an lalu. “Tahun 90-an kami meneliti dengan mengambil objek tiga desa. Konsepnya ada, rencananya ada, dan hasil kajian waktu itu bisa dikatakan spektakuler,” katanya.

Namun demikian, rupanya pemerintah belum mampu menggunakan hasil kajian yang dihasilkan waktu itu. “Kalau saja hasil kajian itu bisa digunakan sebagaimana mestinya, pasti konsep desa wisata di Bali sudah bisa berjalan, walaupun saat ini ketiga desa yang diteliti (Penglipuran, Batuan, dan Jatiluwih) telah jadi bagian dari desa wisata,” ungkapnya. Pendampingan, menurutnya, sangat penting, di mana pihaknya berusaha menjaga karakter dari desa tersebut.

“Dalam pemikiran saya, pemerintah terjebak karena salah memahami pariwisata sebagai suatu industri. Kalau pariwisata sebuah industri yang diposisikan sebagai objek maka tidak akan berjalan, pasalnya kegagalan pemahaman tadi,” kata Wisnu Murti, menegaskan. Terakhir ia mengatakan, pemahaman tentang pariwisata Bali perlu ditinjau dari berbagai aspek. Hal itu bagi perkembangan periwisata itu sendiri, yang akhirnya mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

wartawan
Arief Wibisono
Category

Rokok Ilegal Marak di Badung, Tim Gabungan Sita 23 Slop dan 15 Bungkus dari Warung

balitribune.co.id | Mangupura - Peredaran rokok ilegal di Kabupaten Badung mulai mendapat perhatian serius. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung bersama Kantor Bea Cukai Denpasar menggelar inspeksi mendadak (sidak) dengan menyasar sejumlah warung dan tempat usaha yang diduga menjual rokok tanpa cukai.

Baca Selengkapnya icon click

Komisi I DPRD Badung Tinjau Pasar Ikan Higienis Kedonganan, Hibah Aset Rp 6,15 Miliar Masuk Tahap Pembahasan

balitribune.co.id | Mangupura - Komisi I DPRD Kabupaten Badung bersama Ketua DPRD Badung melakukan peninjauan lapangan ke Pasar Ikan Higienis Kedonganan, Kamis (1/10/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari proses verifikasi terhadap permohonan hibah sejumlah aset milik Pemerintah Kabupaten Badung kepada Desa Adat Kedonganan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Capaian Pendataan Perlinsos Digital di Badung Masih Rendah, 79 Ribu KK Belum Terdata

balitribune.co.id | Mangupura - Pendataan Perlindungan Sosial (Perlinsos) digital di Kabupaten Badung masih menghadapi tantangan, khususnya di kawasan Kuta. Kecamatan Kuta bersama Kuta Utara dan Kuta Selatan tercatat sebagai wilayah dengan capaian pendataan terendah hingga September 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Perkuat Peringatan Dini dan Respons Bencana, BPBD Bali Eksplorasi AI

balitribune.co.id | Denpasar - Ketika cuaca ekstrem melanda beberapa wilayah sekaligus, informasi kebencanaan dapat mengalir dari berbagai sumber dalam waktu yang bersamaan. Laporan masyarakat, pemerintah daerah, media sosial, hingga petugas lapangan menghadirkan peluang sekaligus tantangan, bagaimana memastikan informasi yang berlimpah tersebut dapat diolah menjadi dasar pengambilan keputusan yang cepat, akurat, dan dapat diandalkan. 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Perumda Pasar Rencanakan Revitalisasi Total Pasar Kreneng Senilai Rp140 Miliar

balitribune.co.id | Denpasar - Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar menyiapkan rencana revitalisasi total Pasar Kreneng yang telah beroperasi sejak 1983. Memasuki usia lebih dari empat dekade, kondisi pasar dinilai membutuhkan pembaruan menyeluruh untuk mengoptimalkan sirkulasi dan ruang perdagangan.

Baca Selengkapnya icon click

Bertepatan Hari Kesaktian Pancasila 2026, Pemkab Klungkung Serahkan Bantuan Rp3,8 Miliar untuk Nelayan dan Petani

balitribune.co.id | Semarapura - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di Alun-Alun Ida Dewa Agung Jambe, Kamis (1/10/2026). Mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", peringatan tahun ini dirangkaikan dengan aksi nyata penguatan ekonomi warga.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.