Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Kampanye ‘Eksklusif’

Bali Tribune

Oleh: Izarman

NIAT Partai Koalisi Capres 02 Prabowo – Sandi memutihkan Jakarta, Minggu 7 April 2019 setidaknya berhasil ‘memutihkan’ Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Dari menjelang subuh sampai pukul 10.00 WIB stadion berkapasitas 150 ribu itu memutih oleh umat. Dari podium di tengah-tengah stadion, Capres 02 Prabowo Subianto menyampaikan orasinya dengan penuh semangat, sampai keringatan.

Tak ada yang baru dari pidato Prabowo selain narasi-narasi kegeraman terhadap situasi bangsa dan negara yang menurutnya salah urus. Kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri, negara sedang sakit dan ibu pertiwi sedang diperkosa! Narasi ini, ditambah dengan orasi sang mantan jenderal yang meledak-ledak (bahkan kesannya membentak-bentak) – di mata sebagian orang ‘menakutkan’.

Menurut sebagian orang yang ‘ketakutan’ ini, Indonesia ke depan tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berorasi, bermimpi dan berhalusinasi. Indonesia di era digitalisasi ini membutuhkan pemimpin yang melek teknologi, pemimpin yang memberikan rasa damai, pekerja keras, serta paham apa yang harus dilakukan untuk mensejajarkan, bahkan mengungguli negara-negara lain di semua lini.   

Eforia putihkan Jakarta seakan ingin mengulang sukses demo 212 di Lapangan Monas. Polanya sama, menggunakan sentimen agama, mengusung atribut agama dan membangun semangat beragama, melebelinya dengan gerakan bela agama. Bahkan ada yang menyamakan dengan jihad fisabilillah.

Di tengah hingar bingar kampanye Capres 02 ini, tiba-tiba menyeruak suara keprihatinan dari Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Mantan Presiden Indonesia ke-6 ini menyurati tiga petinggi Partai Demokrat terkait gelaran kampanye akbar capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Inti dari suratnya, SBY menyebut soal ketidaklaziman di kampanye Prabowo-Sandi di lapangan GBK itu dan kecenderungan polarisasi dukungan yang membahayakan keutuhan NKRI.
SBY yang selama ini dicap suka baperan menyurati Ketua Wanhor PD Amir Syamsuddin, Waketum PD Syarief Hasan dan Sekjen PD Hinca Panjaitan. Pesan SBY itu tersebar di WhatsApp dan dibenarkan politikus Partai Demokrat Andi Arief. SBY yang sedang berada di Singapura menemani Ibu Ani Yudhoyono yang sedang dirawat, menulis:

"Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari Tanah Air tentang 'set up', 'run down' dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif,” kata SBY.

Menurut SBY, penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan 'inclusiveness', dengan sasanti 'Indonesia untuk Semua' juga mencerminkan kebhinnekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. 'Unity in diversity'. Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem.

Bagi awam mungkin sulit menangkap kekhawatiran SBY yang menenggarai kampanye di GBK itu bersifat eksklusif. Bahkan jajaran Badan Pemenangan Nasional (PBN), para elit partai koalisi pun tak melihat unsur eksklusifisme dalam kampanye akbar tersebut. Bagi mereka ‘memutihkan Jakarta’ jauh lebih strategis untuk membuktikan bahwa calon yang mereka usung sungguh-sungguh dicintai pendukungnya.

Namun simak lebih jauh, surat SBY:

Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal 'set up'-nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap 'Semua untuk Semua' atau 'All For All'. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insyaallah akan berhasil.

Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal 'kawan dan lawan' untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

SBY mengingatkan telah terjadi kekeliruan set up dalam kampanye akbar di GBK, yang tidak disadari kubu Prabowo. Para pendukung, simpatisan dan pengurus partai diundang melaksanakan Shalat Subuh dan Munajat Akbar (Iklannya: Ayo Jihad Total!). Siapa yang datang? Sudah pasti umat Islam. Maka jadilah acara di GBK itu kampanye eksklusif! Kampanye yang seharusnya untuk seluruh warga negara tanpa memandang suku, ras, agama dan antar-golongan, dialeniasi oleh kegiatan ibadah (agama Islam). Apakah Capres 02 hanya didukung oleh umat Islam, sebagaimana selama ini ditunjukkan PA 212, FPI, FPUI, bahkan HTI?  Mengapa Prabowo-Sandi tega sekali ‘meniadakan’ suara saudara-saudara kita yang Kristen, Protestan, Katolik, Budha dan Hindu? Kalau pun ada pimpinan agama lain yang memberi sambutan, akhirnya hanya terkesan sekadar basa-basi.     

Mari lanjutkan membaca surat SBY:
Saya pribadi, yang mantan capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai 'pro Pancasila' dan 'pro Kilafah'. Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya justru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya.

Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya. The tragedy of devided nation. Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada pilpres tahun 2004, 2009 dan 2014. Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu disatu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.
Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah. Politik begini bisa menyesatkan. Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya. 
Eksklusifme kampanye 02 sebagaimana kekhawatiran SBY menjadi ukuran kenegarawanan politikus di kubu Prabowo-Sandi. Akibat kekeringan ide, akhirnya yang mereka kedepankan masih seputar sentimen agama. Caranya, ajak pendukung beribadah, untuk memberi efek kejut kepada lawan bahwa kita militan. Padahal, tanpa disadari cara tersebut justru ‘mengabaikan’ dukungan yang lebih luas: dari seluruh rakyat Indonesia. Ini menjadi blunder serta bumerang bagi pasangan Prabowo-Sandi.

Belum lagi muncul berbagai pro-kontra cara pelaksanaan ibadah shalat di GBK yang dinilai banyak orang menyalahi syariat agama. Misalnya, syaf shalat laki-laki dan perempuan campur aduk. Wajar kalau ada yang memposting di medsos: Memangnya Indonesia dalam kondisi darurat perang ya?***

 

wartawan
redaksi
Category

Ratusan Layang-layang dari 23 Negara Mengudara di Sanur

balitribune.co.id I Denpasar - Festival layang-layang bertaraf internasional turut memeriahkan "Rare Angon Festival" yang diadakan di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. Acara tahunan ini berlangsung selama empat hari, sejak Kamis (23/7/2026) hingga Minggu (26/7/2026) mendatang, dengan menghadirkan kolaborasi antara pelayang mancanegara dan pelayang tradisional Bali.

Baca Selengkapnya icon click

Ukir Prestasi Internasional dan Aksi Sosial, Advokat Yuli Utomo Dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Universitas Warmadewa

balitribune.co.id | Denpasar - Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Warmadewa (Unwar), Advokat Yuli Utomo, S.H., M.H., C.Med., resmi menerima penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Unwar. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan prestasinya yang luar biasa, baik di kancah internasional maupun dalam aksi sosial kemasyarakatan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Sinergi BPJS Ketenagakerjaan dan JAMDATUN dalam Meningkatkan Kepatuhan Pemberi Kerja

balitribune.co.id | Jakarta - Pemerintah terus memperkuat langkah untuk memastikan setiap pekerja Indonesia memperoleh haknya atas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penandatanganan Perpanjangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPJS Ketenagakerjaan dengan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (JAMDATUN) Kejaksaan Agung Republik Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Baca Selengkapnya icon click

OJK Serahkan Hasil Pemeriksaan Khusus PT Dana Syariah Indonesia ke Bareskrim Polri

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya penegakan hukum dalam penanganan kasus PT Dana Syariah Indonesia (PT DSI). Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyerahkan hasil pemeriksaan khusus kepada Bareskrim Polri, termasuk temuan sejumlah aset yang diduga diperoleh dari penggunaan dana milik para lender.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

DJP Tegaskan Babinsa dan Bhabinkamtibmas Bukan Petugas Pajak

balitribune.co.id | Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan penjelasan terkait pemberitaan yang berkembang di media massa maupun media sosial mengenai keterlibatan Babinsa (TNI AD) dan Bhabinkamtibmas (Polri) dalam pelaksanaan tugas DJP. Melalui siaran pers yang diterbitkan pada Selasa (21/7/2026), DJP menegaskan bahwa kedua unsur tersebut bukan petugas pajak dan tidak memiliki kewenangan dalam pelaksanaan tugas perpajakan.

Baca Selengkapnya icon click

Hari Anak Nasional 2026, Bunda PAUD Karangasem Ajak Tanamkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

balitribune.co.id | Amlapura - Bunda PAUD Kabupaten Karangasem, Nyonya Mas Parwata, menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 yang mengusung tema "Membangun Generasi Sehat, Ceria, dan Berkarakter melalui Senam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" di GOR Gunung Agung Amlapura, Kamis (23/7/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.