Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Reputasi Lembaga Survei

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Di hari pemilu presiden tahun 2016, di Amerika Serikat, koran paling besar, berpengaruh dan kredibel New York Times, menampilkan berita prediksi hasil pemili yang mencolok mata. Tulis koran ini bahkan dalam grafis: Probability Hillary terpilih menjadi presiden hari ini 85 persen. Sementara kemungkinan Trump yang menjadi presiden hanya 15 persen. Namun di hari itu juga, malam harinya, publik Amerika tercengang. Yang terpilih sebagai presiden ternyata Trump. Apa yang terjadi dengan prediksi survei? Tak hanya New York Times, tapi mayoritas lembaga survei paling kredibel yang punya jejak panjang dalam sejarah pemilu Amerika juga memprediksi Hillary Clinton yang menang. Tapi penting pula untuk kita letakkan kasus ini dalam konteks makro. Apakah kekeliruan prediksi survei pemilu presiden itu selalu terjadi, atau hanya kasus khusus. Ini penting agar kitapun mengembangkan penilaian yang proporsional. Sejak beroperasinya lembaga survei modern di Amerika Serikat, Gallup Poll, tahun 1936, sudah terjadi dua puluh kali pemilihan pemilu presiden. Kesalahan prediksi mayoritas lembaga survei yang kredibel hanya terjadi sekali itu. Hanya 5-10 persen kasus saja mungkin terjadi prediksi hasil survei yang salah. Sebelumnya memang pernah pula terjadi kesalahan prediksi pemilu presiden Amerika Serikat yang dilakukan oleh Literary Digest Poll di tahun 1936. Namun itu kesalahan metodelogis sebelum ditemukan prinsip survei modern. Walau hanya 5-10 persen kasus, tetap saja harus ada otopsi untuk menjelaskan anomali itu. Justru penjelasan yang detail dan ilmiah dapat memperkaya ilmu pengetahuan. Kasus kenaikan dukungan melonjak tak terduga di Jateng dan Jabar harus pula ada pertanggung jawaban akademik. Walau secara proporsional tahun ini ada 171 pilkada serentak, termasuk 17 pilkada provinsi.  Yang bermasalah hanya 2 kasus itu saja dari 17 provinsi atau dari 171 pilkada serentak. Di atas 80 persen soal survei dan quick count dalam 171 pilkada serentak itu tidak dipermasalahkan dalam debat publik hari hari ini. Bagaimana kita harus menjelaskan kasus Jateng dan Jatim? Untuk meleset prediksi lembaga survei di Amerika kasus Hillary dan Trump, sudah banyak penjelasan. Salah satunya tulisan di Business Insider: “Why Polls are so wrong in 2016? Trump- Clinton Autopsy Report Explain. Penjelasan atas jauhnya jarak suara Sudirman di Jateng dan Asyik di Jabar (hasil survei terakhir dan hasil Quick Count) dapat pula menggunakan sebagian otopsi kasus Hillary dan Trump itu.  Tiga point ini penting untuk dijadikan kerangka penjelasan umum; sebelum kita masuk ke detail teknis survei.Pertama, hasil survei sebenarnya hanyalah potret dukungan saat survei dilakukan saja. Hasil survei itu bukan prediksi apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian di hari pemilu, hari pencoblosan. Namun umumnya hasil survei paling akhir itu juga dijadikan prediksi hasil pemilu, di Indonesia, bahkan di semua negara modern. Mengapa? Untuk 80-90 persen kasus, jika survei itu dilakukan dengan benar, hanya beberapa hari sebelum hari pencoblosan, sangat jarang terjadi perubahan signifikan di atas margin of error. Kedua, tak ada konspirasi aneka lembaga survei itu untuk mengatur bersama berapa persentase masing masing kandidat dalam survei. Aneka lembaga survei itu bekerja secara independen. Bahkan beberapa lembaga survei itu bersaing dan sering berhadapan dalam pilkada atau pemilu. Soal pilkada DKI Jakarta, sebagai misal, LSI Denny JA dikenal sebagai pollster dan konsultan politik yang bahkan setahun sebelum pilkada DKI memberitakan Ahok yang kuat tapi bisa dikalahkan. Mengapa LSI Denny JA untuk kasus Jateng dan Jabar seirama dengan lembaga survei lain, yang dalam pilkada DKI berhadapan? Datanya memang demikian. Dalam dunia survei yang kredibel, data adalah panglima. Ketiga, berbedanya hasil pilkada dengan survei terkahir untuk kasus Jateng dan Jabar tidak fatal. Itu berbeda dengan kasus Trump dan Hillary. Ukuran fatal atau tidak adalah soal siapa yang menang. Untuk kasus Hillary dan Trump, pemenangnya terbalik. Hillary yang diprediksi menang, tapi Trump yang ternyata menang.  Untuk kasus Jabar dan Jateng, hasilnya sama. Yang menang pilkada sama dengan hasil survei terakhir: RK di Jabar, dan Ganjar Pranowo di Jateng.  Perbedaan hanya terjadi pada lonjakan dukungan Asyik di Jabar yang tetap kalah, dan Sudirman- Ida di Jateng yang juga tetap kalah. Bagaimana menjelaskan lonjakan Asyik dan Sudirman-Ida? LSI Denny JA hanya menjelaskan otopsi survei terakhir Denny JA saja. Lembaga lain tentu dapat menjelaskannya sendiri. Lonjakan Itu terjadi karena kombinasi beberapa variabel ini. Pertama, seminggu terakhir sebelum hari pencoblosan, terjadi mobilisasi dukungan yang efektif untuk Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng. Gerakan seminggu terakhir ini tak lagi terpantau oleh survei LSI Denny JA. Survei terakhir Denny JA di Jabar dan di Jateng, mengambil data sebelum seminggu terakhir. Tentu survei tak bisa membaca apa yang belum terjadi. Kedua, mobilisasi Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng berhasil mengambil mayoritas telak pemilih yang masih mengambang.  Silahkan kita ketik di mesin pencari google. Untuk kasus Jabar, survei terskhir LSI Denny JA mencatat suara yang masih mengambang sebesar 39 persen. Ini gabungan suara yang belum menentukan dan suara yang masih ragu (lihat berita Tribun, Kamis 21 Juni, 6 hari sebelum hari pencoblosan, dengan judul: Survei LSI Denny JA: Pemenang Pilgub Jabar Sangat Ditentukan oleh 39 persen Soft Suporter) Dalam survei itu, dukungan untuk Asyik masih sekitar 8,2 persen. Berdasarkan data Quick Count, dukungan Asyik 6 hari kemudian setelah publikasi survei itu menjadi 28-29 persen. Ada kenaikan Asyik sebesar 20 persen. LSI Denny JA menyimpulkan, dalam mobilisasi seminggu terakhir, Asyik berhasil mengambil 20 persen dukungan dari 39 persen suara mengambang. Asyik sendirian jitu mempengaruhi lebih dari 50 persen suara memgambang (20 persen dari 39 persen). Bagaimana dengan Sudirman-Ida di Jateng? Mari kita cek lagi survei terakhir LSI Denny JA. Silahkan ketik mesin pencari Google. Lihat Kompas. Com 21 Juni berjudul: Survei LSI Denny JA: Ganjar-Yasin 54 persen, Sudirman-Ida 13 persen. Cukup kita melihat judul itu saja, 54 persen + 13 persen, total hanya 67 persen. Karena hanya ada dua calon, suara yang mengambang sebanyak 100 persen- 67 persen sama dengan 33 persen. Hasil Quick Count Denny JA, Sudirman Said enam hari setelah publikasi mendapat dukungan 41-42 persen. Ada lonjakan sebesar 28-29 persen. Dari mana datangnya dukungan ini. LSI Denny JA menyimpulkan, mobilisasi seminggu terakhir dari Sudirman-Ida berhasil membujuk 28-29 persen dari 33 suara pemilih yang masih mengambang. Gerakan seminggu terakhir ini sangat efektif. Ketiga, penjelasan ini tentu diberikan dengan asumsi. Golput yang terjadi dalam pilkada Jabar terbagi secara proporsional. Quick Count LSI Denny JA mencatat Golput di Jabar sebesar 30.86 persen. Golput di Jateng sebesar 35.47 persen. Karena diasumsikan Golput terjadi secara proporsional atas masing masing calon, yang dianalisa hanya kerja mesin politik seminggu terakhir mengambil suara mengambang. Dan itu bisa dijelaskan. Semua data bisa dicek di google. Mengapa hanya Jabar dan Jateng yang heboh diantara 171 pilkada serentak tahun ini? Jawabnya, karena di wilayah itu pilkada terasa pilpres. Dua kandidat, Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng sangat tegas posisinya. Jika menang mereka mengusung #2019GantiPresiden. Kebetulan di dua wilayah itu pula, lonjakan dukungan Asyik dan Sudirman-Ida sangat luar biasa pada seminggu terakhir, yang tak lagi terpantau SURVEI. Di wilayah lain, walau ada pula kontroversi, tapi tidak dimobilisasi sedemikian rupa karena tak terasa “pilpres.” Pilkada memang sudah selesai. Namun aura pilpres 2019 semakin terasa. Melihat begitu panasnya perlawan di Jabar dan Jateng atas hasil Quick Count, juga mungkin atas hasil Real Count KPUD nanti, bersiaplah untuk pertarungan pilpres 2019 yang akan sengit.

wartawan
Redaksi
Category

Gebyar Literasi Denpasar ke-2 Siap Digelar Oktober

balitribune.co.id | Denpasar - Menyusul kesuksesan gelaran perdana, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kembali menggelar Gebyar Literasi (GELIS) kedua tahun ini pada 2–3 Oktober 2026. Acara yang mempertemukan pelajar, penulis, dan pegiat literasi ini akan dipusatkan setiap hari pukul 08.00–17.00 WITA.

Baca Selengkapnya icon click

Pemkab Bangli Genjot Percepatan Verval KDMP, 18 Unit Dinyatakan Layak dengan Catatan Perbaikan

balitribune.co.id | Bangli - Pemerintah Kabupaten Bangli terus memacu percepatan verifikasi dan validasi (verval) fisik, gerai, pergudangan, hingga kelengkapan sarana dan prasarana Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Langkah krusial ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Percepatan Verval Pembangunan Fisik, Gerai, Pergudangan, dan Kelengkapan KDMP yang berlangsung di Gedung Bukti Mukti Bhakti, Kantor Bupati Bangli, Kamis (24/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Capaian Rendah, Komisi III DPRD Bangli Desak Evaluasi Realisasi Retribusi Parkir

balitribune.co.id | Bangli - Realisasi retribusi parkir di Kabupaten Bangli menuai sorotan tajam dari Komisi III DPRD Bangli saat rapat kerja bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bangli, Kamis (24/9/2026). Dewan menilai Dishub kerap gagal memenuhi target pendapatan yang ditetapkan setiap tahunnya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pembongkaran Ruko Jalan Sulawesi Jalan di Tempat

balitribune.co.id | Denpasar - Penataan kawasan ruko di Jalan Sulawesi yang melanggar sempadan Tukad Badung masih berjalan di tempat. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa,Kamis (24/9/2026), menyatakan bahwa pembongkaran bangunan tersebut sepenuhnya masih menunggu kesiapan dari para pemilik lahan.

Baca Selengkapnya icon click

Efisiensi Anggaran Buleleng Dipacu, Bupati Sutjidra Pastikan Pembayaran Iuran BPJS Warga Tetap Aman

balitribune.co.id | Singaraja - Arah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mulai memperlihatkan dilema pengelolaan keuangan daerah. Di satu sisi, pemerintah memangkas sejumlah belanja di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Di sisi lain, agenda pembangunan infrastruktur tetap didorong melalui rencana pinjaman daerah.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.