Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Senjakala Bumi Kita

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Dalam penanggalan internasional, tanggal 22 April kemarin, diperingati sebagai "Hari Bumi" oleh 175 negara di dunia. Di Indonesia, hari bumi tak begitu populer, bukan karena kurang peduli dengan keadaan bumi yang kian tua, namun karena sulit menemukan irisan dan narasi untuk disambungkan kepada politik dan kekuasaan. Maaf, ini adalah dendang sarkastis Penulis sekadar untuk melukiskan kealpaan manusia, termasuk bangsa Indonesia yang terlalu sibuk dengan urusan politik sehingga lupa bahwa bumi yang kita pijak sedang menggugat kepedulian kita atas kewajiban yang terlupakan. Ada apa dengan bumi?  Planet yang kita huni, menurut para ahli, telah berusia 4-5 miliar tahun. Artinya, dia sudah lelah melaksanakan tugasnya 'menggendong'  manusia dengan segala kebutuhan hidupnya (tumbuh-tumbuhan dan hewan)  berrotasi mengelilingi matahari dengan waktu tempu 23 jam, 56 menit dan 4.091 detik. Ketika Ptolomeus (200) mencetuskan teorinya geocentris--yang memposisikan bumi sebagai pusat tata surya, planet ini dilukiskan sebagai bentangan sabuk bima sakti yang  memancarkan keindahan dengan memanfaatkan cahaya matahari, gerakan awan dan rintik hujan. Ketiga fenomena alam ini berada tak jauh dari singgasana umat manusia. Kadang bulan, sang satelit yang setia mendampingi bumi, ikut mengatur segala sesuatunya di induk semangnya.  Bulan bahkan ikut menimbulkan peristiwa gerhana dan pasang surut air laut, juga memunculkan kejadian-kejadian aneh yang tak terduga di bumi. Dengan berat lima caturta delapan ratus delapan puluh trilyar kilogram, luas 510.074.600 km2 dan berisi 1.083.208.840.000 kilo meter kubik,  termasuk di dalamnya 18.000 jenis mkhluk hidup--7,4 miliar adalah manusia, bumi telah sampai di titik senja. Demikian tuanya usia bumi, para astronom bahkan mepersonifikasikannya sebaga si tua renta yang sedang  mendendangkan music langit dengan suaranya yang fals, bagai merintih dengan nada tak beraturan. Para astronom dengan ilmu yang dimilikinya, mencoba menalar dengan hukum-hukum eksakta. Isac Newton (1643-1727), Galileo (1564-1642), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 –1923) dipandu para filsuf seperti Plato (421-327 SM), Socrates (469-399 SM), Aristiteles (384-322 SM), hingga Rene Descartes (1596-1650 M), berusaha menguak tentang sampai dimana ujung dari perjalanan planet bumi yang kita tempati kini. Di senja kala pengabdian, bumi sering menunjukkan watak kerasnya di setiap pergantian zaman. Letusan gunung api yang menimbulkan gempa vulkanis memakan nyawa jutaan umat manusia,  memusnahkan ekosisten darat-laut, dan mengubah irama musim.  Peristiwa letusan gunung api di Pompeii, sebuah  kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja. Goncangan dahsyat gunung krakatau di Selat Sunda. Krakatau (bahasa Inggris: Krakatoa) adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra yang termasuk dalam kawasan cagar alam. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan paling dahsyat adalah  Gunung Tambora. Gunung  Tambora  adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki puncak sisi timur hingga utara), Provinsi NTB, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m[2] yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut. Kengerian masih berlanjut pada tragedi berikutnya: guncangan tektonik akibat pergesekan lempeng bumi yang menimbulkan tsunami di Jepang,  Meksico dan Aceh yang secara akumulatif menelan jutaan korban jiwa, merusak harta benda dan ekosistem laut-darat, serta mengharibiru siklus kehidupan manusia. Khusus tsunami Aceh, perlu deskripsi khusus. Gempa bumi Samudra Hindia 2004 itu terjadi pada pukul 08:58:53 UTC tanggal 26 Desember; episentrumnya terletak di lepas pantai barat Sumatera, Indonesia. Guncangan gempa tersebut berskala 9,1–9,3 dalam skala kekuatan Moment dan IX (Violent) dalamskala intensitas Mercalli. Gempa bumi megathrust bawah laut terjadi ketika Lempeng Hindia didorong ke bawah oleh Lempeng Burma dan memicu serangkaian tsunami mematikan di sepanjang pesisir daratan yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Gelombang tsunami yang tingginya mencapai 30 metres (100 ft) menewaskan 230.000–280.000 jiwa di 14 negara dan menenggelamkan sejumlah permukiman pesisir. Gempa dan tsunami ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia adalah negara yang dampaknya paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand. Kadang juga kemarahan bumi ditunjukan lebih soft seperti kekeringan yang menimbulkan kelaparan, hujan badai yang menimbulkan banjir,  air bah dan laut yang begolak hingga memutus matarantai pencaharian umat manusia, juga dalam bentuk pemunculan penyakit-penyakit aneh yang mewabah dan merenggut jutaan nyawa. Dalam suasana yang lain, sebaliknya bumi memanjakan manusia dengan menghadirkan musim hujan untuk menyuburkan tanaman. Bahan makanan berlimpah baik di darat berupa tanaman maupun di laut berupa hasil tangkapan. Dari balik perut bumi yang dalam, manusia menambang emas, batubara, nikel, mangan, aspal dan bahan tambang lainnya yang dimanfaatkan untuk menyejahterakan umat manusia. Sementara ruang udara yang luas yang menjadi bagian dari atmosfir bumi, dimanfaatkan untuk kelancaran transportasi udara, bergelantungnya berbagai satelit untuk menyuplai signal komunikasi dan pancar-siar informasi melalui media audio-visual. Dimanjakan mata manusia dengan keindahan alam laut, lembah dan daerah pegunungan. Manusia lalu memanfaatkan untuk mengembangkan  industri pariwisata, sarana aktualisasi hobi dan bisnis. Bumi juga memancarkan sinar ke bulan yang diterimanya dari matahari  berupa cahaya yang indah dan terang untuk menyela pekatnya malam. Adakah manusia membayangkan jasa bumi yang tak ada tara itu? Ironi memang.  Laku manusia yang dengan rakusnya mengeksplorasi alam tanpa diimbangi dengan reboisasi yang memadai, mengeksploitasi perut bumi tanpa dengan reklamasi yang seimbang, dan memanfaatkan seluruh ruang bumi tanpa menyediakan hutan yang memadai untuk mencegah pemanasan global, kekeringan, dan ancaman kelaparan. Wahai selalian manusia, marilah kita merefleksi!!! Melalui hari bumi yang kita peringati hari ini, adalah momentum yang tepat.  Kita tidak harus hanya sibuk dengan urusan sosial-politik yang mengarah kepada konflik, akomodasi dan kompromi. Mari kita sisakan sedikit ruang dan waktu untuk merenungi dan berkontribusi kepadanya. Dalam hal ini, sains tak mampu menjembatani manusia secara lebih memadai sesuai dengan sifat relativitas dan keterbatasannya. Hanya pendekatan teologi (spirit agama) yang mampu mengantarkan kita menuju puncak kesadaran untuk memaknai jasa bumi sebagai pemberian teragung dari Tuhan, Sang Pencipta alam semesta. Kita mesti melakukan apa? Dalam pendakian menuju Tuhan,  untuk menyikap tabir alam, para ilmuan malah ketinggalan.  Ketika dia (para ilmuan) sampai pada undakan terakhir sebelum menyapa cahaya Sang Pencipta, dia terkejut ketika melihat para tokoh agama sudah lama beristerahat di sana mengkonsolidasi  energi bathin untuk menghadap Tuhannya.

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

20 Jiwa Terdampak Ledakan Petasan di Siulan Denpasar, Dinsos Salurkan Bantuan Logistik

balitribune.co.id | Denpasar - Kebakaran hebat melanda kawasan Jalan Siulan, Gang Nusa Indah, Denpasar Timur, pada Selasa (15/9/2026) sore. Peristiwa yang dipicu oleh ratusan kembang api milik seorang warga tersebut memicu rentetan ledakan hingga api merembet ke pemukiman dan bengkel di sekitarnya. Hingga saat ini, titik pemicu awal kebakaran masih dipasang garis polisi (police line).

Baca Selengkapnya icon click

Bandara Ngurah Rai Gelar Airport Emergency Exercise, Penumpang Diminta Tidak Panik

balitribune.co.id | Mangupura - "Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di dunia. Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan di Pulau Bali, kami berkomitmen untuk senantiasa memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan dan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu terjaga.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Diakui Atas Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Masyarakat, Kawasan Pariwisata Raih BTA 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Sebagai kawasan pariwisata yang mengintegrasikan kualitas destinasi dengan prinsip keberlanjutan dan penciptaan manfaat bagi masyarakat, kawasan pariwisata Nusa Dua mendapat Pengakuan melalui Bali Tourism Awards (BTA) 2026.

Baca Selengkapnya icon click

Memasuki Masa Tenang, Baliho Calon Perbekel di Kemenuh Ditertibkan

balitribune.co.id | Gianyar - Sejumlah baliho calon perbekel masih ditemukan terpasang meski sudah memasuki masa tenang Pemilihan Perbekel (Pilkel) Serentak 2026. Menanggapi hal tersebut, Panitia Pilkel Desa Kemenuh bersama kepolisian menertibkan atribut kampanye tersebut di wilayah Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Rabu (16/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Kera Resahkan Warga Nyalian, Rusak Lahan Pertanian hingga Masuk Pemukiman

balitribune.co.id | Semarapura - Perbekel Desa Nyalian, Cok Gede Agung Putra, mengeluhkan keberadaan kera ganas yang merusak tanaman pertanian warga. Ia menyampaikan kondisi tersebut kepada Kepala BPBD Klungkung, Putu Widiada, S.Sos., melalui grup penanggulangan bencana.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata Tegaskan Rp32,45 Miliar untuk Revitalisasi 94 Sekolah

balitribune.co.id | Amlapura - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 32,45 miliar untuk merevitalisasi 94 satuan pendidikan pada Tahun Anggaran 2026. Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pelaksanaan Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dibuka langsung oleh Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata, di Aula Mall Pelayanan Publik (MPP) Karangasem pada Kamis (10/9/2026) lalu.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.