Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Setelah Gempa Palu

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Tiga hari pasca gempa-tsunami mengharibiru penghuni Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, negeri ini masih terperangkap dalam masalah. Bahkan masalah kian kompleks tidak hanya tentang penduduk yang tewas dan rumah yang porakporanda, tetapi juga bagi meliputi mereka yang masih hidup. Mulai dari kelaparan, perawatan yang tidak memadai bagi yang sakit, maupun upaya mereka mencari keluarga dan harta benda yang berserakan. Dalam kekalutan, ada pelajaran berharga yang dipetik. Bahwa ternyata manusia dengan segala kemampuan ilmu dan tenaganya, tersungkur tak berdaya ketika lempeng bumi bergerak mencari keseimbangan demi kontinuitas tugas-tugasnya. Mengapa bumi mesti bergoncang, menjadikan tanah dan air yang semula jadi sahabat manusia, berubah menjadi hantu yang menyeramkan? Apakah karena posisinya yang selalu disubordinasi dalam sistem tata surya kita? Ketika Ptolomeus (200) mencetuskan teorinya geocentris--yang memposisikan bumi sebagai pusat tata surya, planet ini dilukiskan sebagai bentangan sabuk bima sakti yang  memancarkan keindahan dengan memanfaatkan cahaya matahari, gerakan awan dan rintik hujan. Ketiga fenomena alam ini berada tak jauh dari singgasana umat manusia. Kadang bulan, sang satelit yang setia mendampingi bumi, ikut mengatur segala sesuatunya di induk semangnya.  Bulan bahkan ikut menimbulkan peristiwa gerhana dan pasang surut air laut, juga memunculkan kejadian-kejadian aneh yang tak terduga di bumi. Demikian tuanya usia bumi, para astronom bahkan mepersonifikasikannya sebaga si tua renta yang sedang  mendendangkan music langit dengan suaranya yang fals, bagai merintih dengan nada tak beraturan. Para astronom dengan ilmu yang dimilikinya, mencoba menalar dengan hukum-hukum eksakta. Isac Newton (1643-1727), Galileo (1564-1642), Wilhelm Conrad Röntgen (1845 –1923) dipandu para filsuf seperti Plato (421-327 SM), Socrates (469-399 SM), Aristiteles (384-322 SM), hingga Rene Descartes (1596-1650 M), berusaha menguak tentang sampai dimana ujung dari perjalanan planet bumi yang kita tempati kini. Di senja kala pengabdian, bumi sering menunjukkan watak kerasnya di setiap pergantian zaman. Gempa dahsyat yang diikuti dengan terjangan tsunami di Palu dan Donggala, yang hingga semalam sudah menelan korban tewas ribuan orang, adalah bukti akan wajah seram bumi kita, setelah lelah menjalankan tugasnya menggendong seluruh isinya mengitari matahari selama miliaran tahun. Kadang juga kemarahan bumi ditunjukan lebih soft seperti kekeringan yang menimbulkan kelaparan, hujan badai yang menimbulkan banjir,  air bah dan laut yang begolak hingga memutus matarantai pencaharian umat manusia, juga dalam bentuk pemunculan penyakit-penyakit aneh yang mewabah dan merenggut jutaan nyawa. Dalam suasana yang lain, sebaliknya bumi memanjakan manusia dengan menghadirkan musim hujan untuk menyuburkan tanaman. Bahan makanan berlimpah baik di darat berupa tanaman maupun di laut berupa hasil tangkapan. Dari balik perut bumi yang dalam, manusia menambang emas, batubara, nikel, mangan, aspal dan bahan tambang lainnya yang dimanfaatkan untuk menyejahterakan umat manusia. Sementara ruang udara yang luas yang menjadi bagian dari atmosfir bumi, dimanfaatkan untuk kelancaran transportasi udara, bergelantungnya berbagai satelit untuk menyuplai signal komunikasi dan pancar-siar informasi melalui media audio-visual. Dimanjakan mata manusia dengan keindahan alam laut, lembah dan daerah pegunungan. Manusia lalu memanfaatkan untuk mengembangkan  industri pariwisata, sarana aktualisasi hobi dan bisnis. Bumi juga memancarkan sinar ke bulan yang diterimanya dari matahari, kemudian dipantul balik ke bumi berupa cahaya yang indah dan terang untuk menyela pekatnya malam. Adakah manusia membayangkan jasa bumi yang tak ada tara itu? Ironi memang.  Laku manusia yang dengan rakusnya mengeksplorasi alam tanpa diimbangi dengan reboisasi yang memadai, mengeksploitasi perut bumi tanpa dengan reklamasi yang seimbang, dan memanfaatkan seluruh ruang bumi tanpa menyediakan hutan yang memadai untuk mencegah pemanasan global, kekeringan, dan ancaman kelaparan. Wahai selalian manusia, marilah kita merefleksi!!! Melalui hari bumi yang kita peringati hari ini, adalah momentum yang tepat.  Kita tidak harus hanya sibuk dengan urusan sosial-politik yang mengarah kepada konflik, akomodasi dan kompromi. Mari kita sisakan sedikit ruang dan waktu untuk merenungi dan berkontribusi kepadanya. Dalam hal ini, sains tak mampu menjembatani manusia secara lebih memadai sesuai dengan sifat relativitas dan keterbatasannya. Hanya pendekatan teologi (spirit agama) yang mampu mengantarkan kita menuju puncak kesadaran untuk memaknai jasa bumi sebagai pemberian teragung dari Tuhan, Sang Pencipta alam semesta. Kita mesti melakukan apa? Dalam pendakian menuju Tuhan,  untuk menyikap tabir alam, para ilmuan malah ketinggalan.  Ketika dia (para ilmuan) sampai pada undakan terakhir sebelum menyapa cahaya Sang Pencipta, dia terkejut ketika melihat para tokoh agama sudah lama beristerahat di sana mengkonsolidasi  energi bathin untuk menghadap Tuhannya.

wartawan
Mohammad S Gawi
Category

Bahas Raperda Pencabutan Perda Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, Rai Wirata Pimpin Rapat Pansus

balitribune.co.id | Mangupura – Ketua Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Badung, I Made Rai Wirata, memimpin rapat kerja Pansus dalam rangka membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencabutan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 9 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Badung N

Baca Selengkapnya icon click

Menarik Wisatawan Berkunjung ke Ubud, Pelaku Pariwisata Hadirkan Konsep Spa Tradisional Dipadukan dengan Teknologi

balitribune.co.id I Gianyar - Salah satu akomodasi wisata di Ubud Kabupaten Gianyar menghadirkan inovasi baru agar wisatawan semakin tertarik berkunjung ke Pulau Dewata. Ditengah ketatnya persaingan global di sektor pariwisata, pelaku pariwisata di Bali dituntut semakin kreatif menghadirkan produk-produk wisata yang menarik.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bupati Satria Tinjau Progres Mesin Pengolah Sampah di TOSS Center Kusamba

balitribune.co.id I Semarapura - Bupati Klungkung, I Made Satria meninjau Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center yang berlokasi di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Minggu (7/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung progres perakitan mesin pengolah sampah yang didatangkan dari Australia sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan sampah di Kabupaten Klungkung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Badung Turunkan 1.250 Seniman, Ikuti Seluruh Parade PKB 2026

balitribune.co.id I Mangupura - Kabupaten Badung memastikan ambil bagian dalam seluruh agenda parade dan perlombaan pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Sebanyak 1.250 seniman dan tim pendukung disiapkan untuk mewakili Badung dalam berbagai kategori yang digelar selama rangkaian PKB tahun ini.

Baca Selengkapnya icon click

Vihara Empu Astapaka Jembrana, 50 Tahun Menjaga Toleransi dan Kerukunan

balitribune.co.id I Negara - Vihara Empu Astapaka pada Minggu (7/6/2026) telah berusia 50 tahun. Tempat ibadah yang ada di ujung barat pulau Bali ini dinilai telah menjadi pilar penting terjaganya kerukunan umat beragama di Jembrana. Keberadaannya menunjukkan kematangan, keteguhan, dan keberlanjutan dalam melayani umat serta masyarakat

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.