Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Spirit Natal

Bali Tribune/ Hans Itta
Oleh Hans Itta*)
 
 
 
balitribune.co.id - Setiap tanggal 25 Desember, seluruh umat Kristen di seluruh dunia merayakannya sebagai Hari Kelahiran Yesus Kristus. Atas kelahiran Yesus di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes pada 2000 tahun yang silam, malaikat dan bala tentara surga mewartakan damai sejahtera di bumi. Namun, damai Natal Pertama dirusak politik teror. Atas perintah Herodes Agung, semua anak laki-laki usia dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya dibunuh agar mahkota kerajaannya tidak direbut oleh bayi yang baru lahir yang disebut sebagai “Raja Orang Yahudi” yaitu bayi Yesus.
 
Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yermia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”
 
Herodes adalah diktator yang akan melakukan apa saja asal ia tetap berkuasa. Herodes pencemburu dan paranoid yang menikah sebanyak sepuluh kali itu, juga membunuh istri keduanya Mariamne setelah ia melahirkan kelima anaknya demikian juga tiga anaknya yang dituduh berkonspirasi melawan dia.
 
Disebut orang-orang sebagai raja yang baru lahir, Yesus dipandang sebagai saingan politiknya di kemudian hari. Demi target yang satu itu, Herodes tidak peduli berapa banyak anak menjadi korban sia-sia karena keputusan politiknya. Yesus memang raja, namun kerajaan-Nya bukan dari dan di dunia ini, Ia datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran.
 
Fenomena pengamanan ketat selama perayaan Natal adalah sebuah ironi negeri yang menjamin kebebasan beribadah. Mengapa rasa aman sebagian warga hilang pada hari raya keagamaan. Bertahun-tahun penyelenggaraan perayaan Natal di Tanah Air dilakukan dengan pengamanan ekstra, dibayang-bayangi ancaman teror.
 
Lambat laun fenomena gedung ibadah dan kumpulan orang yang beribadah dengan pengamanan ketat menjadi pemandangan biasa. Sampai kapan gereja menjadi target teror? Ada yang salah dalam kehidupan berbangsa ketika sekelompok warga menjadi obyek viktimisasi. Ada yang salah saat keamanan dan rasa aman menjadi komoditas politik. Pemerintah bertanggung jawab mengembalikan rasa aman yang hilang.
 
Gereja menjadi sasaran teror bertentangan dengan spirit Natal. Natal pertama bersifat inklusif. Kehadiran gembala mewakili kaum marjinal. Gembala kala itu berstatus sosial rendah. Mereka tidak dipercaya untuk memberi kesaksian di pengadilan. Ada lagi kehadiran tiga orang Majus dari Timur  mewakili kaum berbeda agama. Mereka termasuk kaum terdidik pada zamannya dan menguasai pengetahuan berdasarkan astrologi.
 
Natal Pertama merayakan keberagaman. Tanpa seremoni. Tanpa liturgi. Tanpa ibadah. Tanpa kehadiran petinggi agama. Tiada sikap triumfasilitas. Yesus lahir di kandang hewan dalam segala kesederhanaan dan itu membuka jalan bagi siapa saja untuk datang. Tiada sekat sosial menghalangi orang-orang yang merindukan damai dan kebenaran. Supremasi masyarakat sipil mustahil terwujud tanpa demokratisasi ruang publik.
 
Keragaman itu indah dan layak dipromosikan. Keberagaman tidak boleh berhenti pada politik identitas dan supremasi kelompok. Agama bukan untuk membuat penganutnya terkotak-kotak dan saling memperlainkan. Salah satu spirit Natal adalah memperluas ruang kebersamaan. Hidup berdampingan dengan damai. Hidup bersama dalam kesetaraan.
 
Spirit Natal yang kedua adalah pengosongan diri. Kelahiran Yesus memperlihatkan  pemanusiaan total, pengosongan dari segala atribut kemuliaan. Bayi mungil tak berdosa terbalut kain lampin, lahir di kandang hina, dibaringkan di palungan, jauh dari kemuliaan dalam malam dingin nan sepi, tanpa publikasi, warga kota tidak tahu. Perjalanan menurun dari kemuliaan kepada kesederhanaan itu berbeda dengan kecederungan manusia untuk meraih kemuliaan, kadang dengan cara-cara apa saja.
 
Uang, kekuasaan, kekerasan, bahkan agama bisa dimanipulasi. Berapa pun dibayar untuk mencapai kemuliaan duniawi, termasuk mengorbankan integritas moral. Cendikiawan menjadi pengkhianat intelektual. Wakil rakyat mengkhianati kepercayaan rakyat dan hanya mau mewakili kesejahteraannya. Abdi rakyat dilayani warga dengan berbagai pungutan liar. Tetapi kesejatian manusia terletak pada kemampuannya mengosongkan diri dan melayani sesama.
 
Di dalam negeri, kita merasa bangga sebagai bangsa beragama. Namun dalam kancah internasional prestasi kita kelam sebagai salah satu negara terkorup dengan keadaban publik yang kian merosot. Institusi keagamaan menjadi zona aman tempat berlindung koruptor. Premanisme menjadi fenomena biasa dalam ruang publik. Minim korelasi antara keberagaman dengan kesalehan sosial.
 
Mengapa keberagaman kita mandul tak tak berdaya memerangi korupsi? Mengosongkan diri adalah langkah awal dalam proses pemanusiaan dan memperbaiki kerusakan moralitas sosial. Mengosongkan diri adalah langkah awal memperjuangkan kebenaran dan keberpihakan pada kaum tertindas.  
 
Peristiwa kelahiran Yesus sedikit pun tak menarik perhatian penduduk kota Betlehem. Hanya angin malam yang pertama-tama menyapa kulit bayi mungil nan Kudus itu. Tetapi, malaikat mewartakan kabar gembira tentang kelahiran itu kepada para gembala, kaum pinggiran. Natal pertama menjadi saksi pengosongan diri Anak Manusia dari kemuliaan.
 
“Ia telah ada di dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yoh. 1:10). Anak Manusia telah datang, namun dunia tak mengenal-Nya. Tiada tempat bagi-Nya, meski kedatangan-Nya untuk menyediakan tempat bagi kita. Selalu menjadi problem manusia, tidak mengenali wajah Tuhan. Apalagi Natal dikomersialisasikan dan memancing perilaku konsumtif, jika Natal identik dengan belanja dan kemeriahan.
 
Ketika esensi Natal hilang, hidup tetap sebagai sebuah rutinitas tanpa visi. Tiada terobosan rohani untuk memperbaiki kerusakan moral. Tiada kekuatan untuk meruangkan kebersamaan yang saling menghidupkan dan menghargai kemajemukan. Rasa tanggung jawab atas sesama tergerus konsumerisme. Kalau pun perspektif sesama masuk ke dalam dunia yang kompetitif, orang mau selalu menang dan muncul sebagai yang kuat dan cepat.
 
Tetapi peduli sesama justru menjadi tolok ukur dalam penghakiman terakhir (Mat. 25:31-46). Orang diberkati karena peduli sesama dalam memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang, mengunjungi orang sakit dan tahanan, sebab “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Dan memang peduli sesama yang nyaris luput dari perhatian.
 
Natal mestinya mengembalikan kesadaran manusia sebagai ‘homo viator’, pengembara di dunia fana. Bersama pengembara lain dalam rombongan yang sama, menjadi penting ikatan solidaritas sesama teristimewa dengan mereka yang kurang beruntung. Praksis beragama demikian hanya mungkin bila kehidupan sosial didasari pada upaya mengenali wajah Tuhan dalam wajah sesama.
 
Selamat merayakan Natal bagi yang merayakannya. Tuhan Yesus memberkati.***
 
 
 
 *) Penulis adalah Redaktur Pelaksana bali tribune
wartawan
Hans Itta
Category

TP PKK Provinsi Bali Gelar Aksi Sosial "Bergerak dan Berbagi" di Bangli

balitribune.co.id | Bangli - Tim Penggerak PKK Provinsi Bali menggelar aksi sosial bertajuk "Bergerak dan Berbagi" di Kabupaten Bangli guna memperkuat sinergi kesejahteraan masyarakat. Kegiatan pada Rabu (9/9/2026) dipusatkan di Balai Banjar Selat Nyuhan, Desa Pengiangan, Kecamatan Susut, serta dilaksanakan serentak di Desa Pengotan (Kecamatan Bangli) dan Desa Satra (Kecamatan Kintamani).

Baca Selengkapnya icon click

Antisipasi Musim Hujan, Dinas PUPR Keruk Sedimentasi Tukad Badung

balitribune.co.id I Denpasar - Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Denpasar terus melakukan pengerukan sedimentasi pada sejumlah alur sungai dan saluran air sebagai langkah antisipasi menghadapi musim penghujan yang diperkirakan mulai berlangsung pada Oktober mendatang.

Salah satu lokasi yang kini menjadi fokus penanganan berada di alur Tukad Badung, kawasan belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya, Denpasar.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Perkuat Konektivitas Dua Destinasi Pariwisata Global, Bandara Ngurah Rai Sambut Rute Bali–Phuket

balitribune.co.id I Kuta - Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali kembali memperkuat konektivitas internasional dengan hadirnya penerbangan langsung Bali (DPS) –Phuket (HKT) Thailand. Kehadiran rute ini semakin memperkuat konektivitas antara dua destinasi wisata populer dunia tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

Petugas Damkar Evakuasi Ular Kobra di Rumah Bupati Bangli

balitribune.co.id I Bangli - Seekor ular jenis kobra sawah masuk ke rumah Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta di kawasan perumahan LC Uma Aya, Kelurahan Bebalang, Bangli, pada Rabu (9/9/2026). Karena khawatir  bisa membahayakan keselamatan, maka penjaga rumah langsung menghubungi petugas Damkar Bangli guna mengevakuasi ular tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Agendakan Rapat Kerja, DPRD Bangli akan Bedah Kinerja Tiga Perusda

balitribune.co.id I Bangli - DPRD Bangli akan segera mengagendakan rapat kerja dengan tiga perusahan daerah (Perusda) yakni BPR Bank Daerah Bangli, Perumda Tirta Danu Arta (PDAM) serta Perseroda Bhukti Mukti Bhakti (BMB). Rapat kerja  dengan tiga perusda penting guna mengetahui sejauh mana kinerja mereka selama ini.

Baca Selengkapnya icon click

Kontingen Badung Sabet Juara Umum Bakti Negara Cup I 2026

balitribune.co.id I Mangupura - Kontingen Kabupaten Badung sukses mengukuhkan diri sebagai Juara Umum dalam perhelatan bergengsi Kejuaraan Pencak Silat Bakti Negara Cup I Tahun 2026. Gelaran yang menjadi wadah penjaringan talenta muda sekaligus penguat sport tourism berbasis budaya ini resmi ditutup di GOR Purna Krida Kerobokan, Selasa (8/9/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.