Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Yang Miskin Memberi, yang Kaya Menerima

Bali Tribune

Wayan Windia

Guru Besar (emeritus) pada Fakuktas Pertanian Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti

balitribune.co.id | Setelah lama tenang, akhir-akhir ini kita kembali dikejutkan oleh berita terorisme. Seorang cewek ingin “menyerbu” istana, membawa pistol jenis FN. Saya pikir-pikir, apa yang salah di negeri ini?  Kok masih ada saja radikalis. Padahal sudah ada Pancasila, sebagai “jalan tengah”, yang mampu mempersatukan seluruh elemen pluralis di Indonesia.

Pancasila adalah bagian dari konsensus nasional Indonesia, sejak awal perang kemerdekaan. Kalau tidak setuju, seharusnya melakukan introspeksi diri. Jangan ngamuk-ngamuk begitu.

Karena kasus itu, saya kembali membuka-buka buku tentang Pancasila. Judulnya: Pancasila Sebagai Ideologi, yang diterbitkan BP-7 Pusat (tahun 1992). Banyak ahli yang menulis dalam buku itu. Diantaranya Prof Mubyarto. Beliau menulis tentang Ideologi Pancasila Dalam Kehidupan Ekonomi. Di sana dikutip hasil penelitian  dua peneliti dari Australia National University (ANU), berbasis data Susenas tahun 1981.

Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut. (1) Keluarga di kota, menerima transfer pendapatan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga di desa. Keluarga di kota menerima 17%, dan keluarga di desa hanya menerima 2,7% dari total pendapatan per tahun. (2) Semakin kaya seseorang, ternyata secara neto ia lebih banyak “menerima” daripada “memberi”.  Sebaliknya, semakin miskin seseorang, ternyata mereka secara neto setiap tahunnya lebih banyak “memberi” dari pada “menerima”.

Saya agak terkejut membaca hasil penelitian itu. Lalu saya merenung. Tampaknya hasil penelitian itu, masih relevan hingga sekarang ini. Petani miskin di pedesaan harus menerima kenyataan Nilai Tukar Petani (NTP)-nya di bawah 100. Yakni sebesar 96. Itu artinya petani kita merugi. Tetapi tatkala harga cabai dan bawang merah meningkat, maka pemerintah buru-buru melakukan operasi pasar, sehingga petani tak jadi menerima pendapatan yang menguntungkan. Alasannya, untuk mencegah inflasi menanjak.

Jadi, demi menjaga inflasi, maka petani harus “dikorbankan”, untuk kepentingan orang-orang kota dan orang-orang kaya. Hal ini bermakna bahwa petani yang sudah miskin di pedesaan, harus “memberi” kepada orang kaya dan orang kota. Tentu saja orang kaya dan orang kota itu “menerima” dengan senang hati, karena mereka “dilindungi” oleh pemerintah, atas nama inflasi.

Padahal untuk cabai dan bawang merah, sama sekali tidak ada kebijakan harga eceran tertinggi (HET). Kalau tidak ada HET, maka logikanya tidak harus ada operasi pasar, yang menyebabkan petani terus menerus gigit jari. Kalau begini kebijakan pemerintah, lalu kapan petani kita bisa kaya? Pemerintah terlalu keras memihak produsen, dibandingkan dengan keberpihakannya pada konsumen. Barangkali, inilah sebabnya, kenapa Bank Dunia dan Bappenas mencatat bahwa alih fungsi lahan sawah di Jawa (dan Bali) sangat massif. Padahal Pulau Jawa dan Bali lah paling cocok untuk untuk sawah, karena tanahnya berada di kawasan vulkanik.

Kita belum mendengar cerita tentang rice estate yang dibangun pemerintah di Kalimantan. Kiranya banyak hambatan. Terutama berkait dengan aspek agroklimat, sistem irigasi, dan aspek sosial dari masyarakat setempat. Proyek semacam ini sudah ada sejak Zaman Pak Harto, Zaman SBY, dan sekarang di Zaman Jokowi. Tetapi tidak ada cerita, seberapa jauh bisa menyumbang pada pangan nasional. Bank Dunia dan Bappenas tetap mencatat bahwa sebagian besar sumbangan gabah nasional disumbangkan oleh Jawa dan Bali. Untunglah, generasi sekarang sudah banyak yang beralih konsumsinya ke non beras. Kalau tidak, maka cadangan pangan nasional akan kritis.

Beberapa waktu yang lalu, saya diwawancarai oleh wartawan RRI Denpasar, Dayu Fris. Juga tentang subak, pertanian, dan petani.  Saya mengatakan bahwa petani tidak saja memberi kepada bangsanya, untuk ketahanan pangan. Tetapi petani (Bali) pada khususnya, juga memberi kepada pulaunya, yakni ikut menunjang dan memelihara kebudayaan Bali.

Pihak UNESCO sampai terkagum-kagum. Karena petani Bali yang tergabung dalam organisasi subak, dengan teguh menerapkan sebuah filsafat yang sangat agung, yakni Tri Hita Karana (THK). Meskipun mereka dalam kondisi miskin, tetapi mereka tetap teguh menerapkan filsafat THK tersebut. UNESCO wanti-wanti, apakah petani dan subak di Bali, masih tetap melakukan ritual.

Tetapi, sampai kapan petani dan subak di Bali masih tahan dengan kemiskinannya? Sampai kapan petani dan subak di Bali masih tahan untuk tidak menjual sawahnya? Sampai kapan petani dan subak di Bali masih mampu bertahan untuk melakukan ritual? Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar, yang menentukan goyah-tidaknya ketahanan pangan dan ketahanan budaya masyarakat Bali. Juga, pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang menentukan, apakah masih ada wisatawan yang tertarik untuk datang ke Bali.

Sebaiknya, jangan hanya petani yang miskin di pedesaan yang harus memberi kepada orang kaya yang ada di kota. Sebagai ganjarannya, pemerintah harus memberi kepada petani, agar sektor pertanian lebih berperan dalam struktur ekonomi Indonesia. Misalnya, dengan merubah kebijakan pemerintah yang selama ini berpihak kepada konsumen, lalu berpihak kepada produsen.

Saya paham, bahwa merubah kebijakan seperti itu sama sekali tidak mudah. Karena masyarakat sudah terlanjur nyaman dengan harga-harga pangan yang mencekik petani. Oleh karenanya diperlukan konsensus nasional. Bangsa Indonesia harus dibangun kesadarannya tentang pentingnya membela petani produsen. Penting untuk membangun kesadaran untuk hidup sederhana, seperti halnya pesan Jokowi untuk jajaran kepolisian. Pada hakekatnya, pesan Presiden Jokowi itu, tidak hanya berlaku untuk polisi, tetapi berlaku untuk bangsa Indonesia.

wartawan
WW
Category

Dewan Bangli Kritisi Jalan Rusak hingga Utang PEN 

balitribune.co.id | Bangli - Rapat Paripurna DPRD Bangli yang digelar pada Jumat (25/9/2026) mengungkap RAPBD Bangli 2027 yang disampaikan pihak eksekutif tercatat senilai Rp1,32 triliun. Hal ini mendapat sorotan  DPRD Bangli. Rapat yang berlangsung secara maraton itu. dipimpin langsung Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika. 

Baca Selengkapnya icon click

Dua Rumah Terbakar, Kerugian Tembus Rp260 Juta

balitribune.co.id | Singaraja - Dua rumah warga di Kabupaten Buleleng terbakar dalam waktu berbeda pada Minggu (27/9/2026). Kebakaran terjadi di Dusun Galiran, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, dan Banjar Dinas Padangbulia, Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada. Tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut. Namun, kedua rumah mengalami kerusakan berat dengan total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp260 juta.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Mulai 1 Oktober 2026, Pelaporan Insidental Sektor Pasar Modal dan Bursa Karbon Wajib Lewat Sistem OJK

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pengawasan sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon melalui digitalisasi pelaporan. Mulai 1 Oktober 2026, penyampaian laporan insidental kepada OJK wajib dilakukan melalui sistem pelaporan yang terintegrasi.

Baca Selengkapnya icon click

Transaksi Digital Tumbuh 40,36 Persen, QRIS Tembus 69,32 Juta Pengguna

balitribune.co.id | Jakarta - Ekonomi dan keuangan digital (EKD) semakin dipandang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Untuk mengoptimalkan potensinya, sinergi kebijakan, inovasi teknologi, penguatan talenta digital, serta keamanan sistem pembayaran menjadi agenda utama Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Gaya Asyik AHM Edukasi Safety Riding 4.603 Mahasiswa Lewat "Secangkir Kopi, Sejuta Mimpi

balitribune.co.id | Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) menggelar edukasi keselamatan berkendara bagi 4.603 mahasiswa yang dikemas dengan gaya khas anak muda sepanjang September 2026. Bersama seluruh jaringan main dealer sepeda motor Honda, para generasi muda diajak menjadikan aktivitas berkendara sebagai bagian dari perjalanan dalam mewujudkan mimpi dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Baca Selengkapnya icon click

Pemkab Badung Siapkan Kuliah Gratis 8 Semester untuk Keluarga Kurang Mampu

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung memperluas akses pendidikan tinggi melalui program beasiswa kuliah hingga delapan semester bagi anak dari keluarga kurang mampu dan keluarga petani.

Program tersebut menjadi salah satu perhatian Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal di tengah perkembangan ekonomi dan investasi di Kabupaten Badung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.