balitribune.co.id | Negara - Aktivitas penyeberangan Jawa–Bali di lintas Ketapang–Gilimanuk kembali terganggu akibat kondisi alam. Surutnya air laut di Selat Bali pada Rabu (28/10/2026) menghambat proses bongkar muat kapal di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. Dampaknya, antrean kendaraan menuju Jawa sempat mengular hingga melebihi 1 kilometer.
Fluktuasi muka air laut di Selat Bali menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran operasional Dermaga LCM, khususnya ketika permukaan air terlalu rendah untuk memungkinkan kapal merapat dan membuka pintu ramp door dengan aman. Gangguan di dermaga yang dikenal sebagai dermaga plengsengan itu dilaporkan terjadi sejak pukul 04.00 Wita. Rendahnya permukaan air laut menyebabkan kapal kesulitan bersandar secara sempurna.
Posisi kapal yang tidak sejajar dengan bibir dermaga membuat pintu ramp door tidak dapat menjangkau permukaan dermaga sehingga proses bongkar muat terhambat. Kapal-kapal yang hendak melakukan bongkar muat harus menunggu permukaan air kembali naik. Meski aktivitas dapat dilanjutkan saat air pasang, proses bongkar muat tetap membutuhkan penyesuaian karena kondisi perairan belum sepenuhnya mendukung operasional secara normal.
Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang Bintang Felfian mengatakan surutnya air laut sejak dini hari menyebabkan kapal kesulitan melakukan bongkar muat di Dermaga LCM dan berdampak langsung terhadap antrean kendaraan di Gilimanuk.
“Air laut surut jadi kapal sulit bongkar-muat di LCM dari dini hari. Untuk antrean per jam 10.00 Wita, ekornya sampai di depan Gereja Gilimanuk atau sekitar 1,5 km,” ujarnya.
Meski Dermaga LCM mengalami hambatan, penyeberangan menurutnya tidak sepenuhnya terhenti. Dermaga movable bridge (MB) masih beroperasi, meskipun Dermaga 2 sedang ditutup untuk perbaikan. Layanan penyeberangan tetap berjalan dengan mengandalkan dermaga yang beroperasi. Memasuki siang hingga sore, kenaikan permukaan air laut memungkinkan kendaraan yang telah mengantre sejak pagi tersebut diseberangkan secara bertahap.
Namun, kondisi pasang surut masih memengaruhi kelancaran aktivitas kapal di Selat Bali. Bintang Felfian Ia menyebutkan, berdasarkan pemberitahuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), surut terendah diperkirakan terjadi sekitar pukul 17.00 Wita. Pada pukul 16.30 Wita, ekor antrean kendaraan tercatat berada di depan Pegadaian Gilimanuk, dengan panjang antrean sudah sekitar 1,3 kilometer dari gerbang tol (tollgate) pelabuhan Gilimanuk.
Kondisi tersebut diakuinya menyebabkan waktu bongkar muat bertambah dan arus kendaraan menuju pelabuhan tertahan hingga permukaan air kembali mendukung aktivitas penyeberangan. Pihaknya pun memastikan aktiftas bongkar muat muatan kapal di Dermaga LCM akan dimaksimalkan saat kondisi air laut di selat Bali kembali pasang “Bongkar muat memang terhambat. Saat pasang, bongkar muat juga jadi lebih ekstra,” tandasnya.