balitribune.co.id | Denpasar - Hari Suci Pagerwesi dirayakan setiap 210 hari sekali atau enam bulan menurut kalender Bali. Perayaan ini jatuh pada Rabu atau Budha Kliwon Wuku Sinta, tepat empat hari setelah Hari Suci Saraswati. Jika Saraswati diperingati sebagai hari pemujaan terhadap ilmu pengetahuan, Pagerwesi menjadi momentum untuk memperkuat dan melindungi pengetahuan tersebut agar memberikan manfaat bagi kehidupan, Rabu (4/11/2026).
Pura Agung Jagatnatha yang sejak pagi sudah didatangi umat yang hendak sembahyang pada hari raya ini. Walau tak sebanyak bila hari besar lainnya namun pengunjung warga Denpasar pun khusuk dalam persembahyangan.
Persembahyangan Hari Raya Pagerwesi di Singaraja, Kabupaten Buleleng, selalu berlangsung sangat ramai dan meriah, bahkan sering disebut sebagai "Galungannya orang Buleleng" karena kemeriahannya setara dengan perayaan Hari Raya Galungan.
Sementara Dayu Indisuari warga asal Buleleng yang tak sempat pulang ke Singaraja karena kesibukan di Denpasar. Namun tetap nyaman bersama keluarga, bisa tetap sembahyang bersama keluarga di Pura Agung Jagatnata.
Hal yang sama diungkap Adi Prayoga asal Gianyar dimana saat hari Raya Pagerwesi ini menyempatkan sembahyang di Pura Agung Jagatnata. "Kami pagi ini bersama saudara menyempatkan sembahyang disini sebelum pulang ke Bangli menengok orang tua. Sebab kami pun tak bisa berlama lama dikampung, karena besok Kamis sudah jadwal kerja kembali," ungkapnya.
Hari Raya Pagerwesi 2026 jatuh pada Rabu, 4 November 2026 (bertepatan dengan Rabu Kliwon Wuku Sinta), yang dirayakan empat hari setelah Hari Raya Saraswati.
Hari Raya Pagerwesi merupakan salah satu hari raya penting bagi umat Hindu yang memiliki makna mendalam tentang perlindungan diri, keteguhan iman, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Perayaan ini menjadi momentum untuk memohon tuntunan Tuhan sekaligus memperkuat diri agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dalam kehidupan.
Secara harfiah, Pagerwesi berasal dari kata pager yang berarti pagar dan wesi yang berarti besi. Gabungan kedua kata tersebut melambangkan perlindungan yang kuat dan kokoh. Dalam ajaran Hindu, makna ini tidak hanya berkaitan dengan perlindungan secara fisik, tetapi juga benteng spiritual yang dibangun melalui pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri.