Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 28 June 2018 13:25
Ketut Sugiana - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Pencak Belebet merupakan alkulturasi budaya masyarakat Islam dan Hindu di Buleleng. Tampak, sekeha Burdah Burak Desa Pegayaman Buleleng saat latihan jelang pementasan mereka pada ajang PKB XL di Denpasar.
BALI TRIBUNE - Serangkaian pelaksanaan PKB XL, Rabu (27/6) kemarin, tampil Sekeha Burdah Burak Desa Pegayaman. Bersaranakan Rebana, duta kesenian asal Kabupaten Buleleng ini menampilkan pertunjukan seni beladiri, Pencak Belebet.
 
Disela-sela pementasannya, Ketua Sekeha Burdah Burak Desa Pegayaman Buleleng, Ketut Muhammad Suharto menjelaskan, mempergunakan sarana Rebana berukuran besar, sekeha ini lebih banyak menonjolkan seni tabuh.
 
Dia menambahkan, selain seni tabuh, sekeha ini juga mempertunjukkan seni beladiri berupa  Pencak Belebet.
 
“Kesenian ini merupakan warisan leluhur sebagai perwujudan akulturasi budaya agama Islam dengan agama Hindu,” terangnya.
 
Dikatakan Suharto, syair nyanyian pada kesenian itu mempergunakan Bahasa Arab yang bersumberkan kitab Al-Berzanji.
 
“Biramanya bersumberkan kidung Bali,” imbuh Suharto sembari menyebutkan kesenian itu merupakan implementasi konsep menyama braya warga Islam dengan warga Hindu di Buleleng.
 
Ditanya, hambatan jelang pementasan kesenian dimaksud, Suharto menyebutkan kendala utama terletak pada waktu berkumpulnya penari.
 
“Maklum, sebagian besar penari adalah petani yang tentunya akan sulit mencari waktu untuk mereka berkumpul,” ucapnya.
 
Meski demikian, kerja keras selama 6 bulan terbayarkan dengan penampilan sekeha ini di Kalangan Angsoka Ardha Candra Denpasar kemarin.
 
“Semoga, Seni Burdah ini bisa berkiprah lebih banyak, tidak saja Bali namun bisa merambah manca Negara,” tandas Suharto.