Diposting : 23 June 2017 21:36
redaksi - Bali Tribune
ngaben
Keterangan Gambar: 
AUDIENSI - Wagub Sudikerta saat menerima audiensi prajuru serta panitia ngaben massal Desa Jagaraga di ruang rapat Wagub, Kamis (22/6).

BALI TRIBUNE - Terkait rencana pelaksanaan ngaben massal di Desa Jagaraga, prajuru desa pakraman setempat melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta. Bertempat di ruang rapatnya, Kamis (22/6) kemarin, Wagub Sudikerta mengapresiasi semangat kebersamaan krama melaksanakan yadnya.

Dalam audiensi itu, Klian Desa Pakraman Jagaraga I Nyoman Parta menyampaikan, kegiatan ngaben massal dimaksud dijadwalkan berlangsung tahun 2018 nanti.

Meski demikian ungkap Parta, berbagai persiapan telah dilakukan prajuru setempat antara lain, melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk membantu kegiatan dimaksud.

Namun, segala persiapan sudah mulai dilaksanakan pada tahun ini. Untuk itu, Ia berharap Pemerintah Provinsi Bali dapat mendukung pelaksanaaan kegiatan tersebut.

Dikatakan Parta, mengingat pelaksanaan ngaben massal itu bertujuan untuk meringankan beban masyarakat dan mengedepankan prinsip menyama beraya. Dukungan pemerintah Provinsi Bali sangatlah diharapkan.

Menanggapi hal itu, Wagub Sudikerta menyampaikan bahwa semangat gotong royong yang sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia harus terus dipertahankan dan dikembangkan, terlebih pada era yang serba digital saat ini.

Untuk itu, Wagub Sudikerta selalu memberikan apresiasi dan mendorong masyarakat Bali yang melaksanakan upacara adat dengan mengedepankan prinsip gotong royong atau massal.

Terkait pelaksanaan ngaben massal yang akan dilaksanakan masyarakat Jagaraga tersebut, Wagub menilai sangat positif karena dilaksanakan secara bergotong royong dan diyakini dapat meringankan beban krama.

Lebih lanjut, Wagub menyampaikan, dengan menyelenggarakan yadnya secara bersama-sama maka hal itu jauh lebih baik daripada satu upacara dilaksanakan sendiri dan secara besar-besaran namun diakhir upacara meninggalkan hutang atau permasalahan.

“Karena Ngaben sendiri dilaksanakan untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) ke alam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi,” terangnya.

Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya ungkap Wagub, Ia (atma,red) akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.

Ditambahkan Sudikerta, pelaksanaan upacara Pitra Yadnya dan rangkaiannya bagi arwah leluhur merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali sebagai bentuk bhakti, penghormatan dan membayar hutang sebagai anak yang telah dibesarkan oleh para leluhur sesuai ajaran Tri Rna.

Ke depannya Wagub Sudikerta mengingatkan agar masyarakat Bali secara luas untuk terus beryadnya secara tulus iklas, tanpa harus mengutamakan gengsi yang berlebihan, sehingga tidak akan memunculkan persaingan individual dalam tingkat bebantenan, termasuk dalam melaksanakan upacara pengabenan.