balitribune.co.id | Denpasar - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Denpasar menggelar kegiatan pelestarian naskah kuno atau lontar sekaligus penguatan literasi budaya dalam rangka menyambut Hari Suci Saraswati pada Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi upaya menjaga warisan pengetahuan leluhur Bali sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap aksara dan tradisi lokal.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui Program Pelestarian Koleksi Nasional dan Naskah Kuno, khususnya pelestarian naskah kuno milik daerah kabupaten/kota, di Perpustakaan Umum Kota Denpasar, Senin (26/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak tiga cakep lontar dikonservasi, yakni Budha Kecapi, Sila Kramaning Aguron-guron, dan Dharma Pamaculan dengan angka tahun 1991. Naskah-naskah tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat agar kondisi fisik serta pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.
Selain konservasi lontar, kegiatan juga diisi dengan praktik menulis aksara Bali di atas lontar (nyurat aksara Bali) yang diikuti 25 siswa-siswi SMP Negeri 2 Denpasar. Para peserta menulis dengan tema perjuangan, yang bersumber dari penggalan cerita pendek berbahasa Bali.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar, Cokorda Gede Partha Sudarsana, mengatakan pelestarian naskah kuno tidak hanya berfokus pada perawatan fisik, tetapi juga menjaga isi, nilai, serta pengetahuan yang diwariskan melalui lontar.
“Pelestarian naskah kuno tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisiknya, tetapi juga dengan isi yang terkandung di dalam naskah atau lontar tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya merawat sekaligus mengenali nilai pengetahuan yang diwariskan melalui lontar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian naskah kuno menjadi langkah penting untuk memastikan warisan pengetahuan leluhur tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Upaya ini dilaksanakan melalui Bidang Deposit dan Pengembangan Perpustakaan.
Melalui program tersebut, Perpustakaan Umum Kota Denpasar juga diharapkan semakin berperan sebagai ruang belajar dan memperoleh informasi, sekaligus sarana rekreasi edukatif yang memperkenalkan masyarakat pada kekayaan budaya Bali.
Sebagai bagian dari pengembangan literasi budaya, Disperpusip Kota Denpasar turut membuka kelas literasi yang mengajarkan seni metembang, khususnya sekar agung bagi pemula. Kelas ini diharapkan dapat menarik minat pelajar dan masyarakat untuk mengenal serta mempelajari tradisi tembang Bali lebih mendalam.
Cokorda Gede Partha Sudarsana berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya, sekaligus mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pelestarian naskah kuno dan pengembangan tradisi literasi Bali.
Dengan demikian, momentum Hari Suci Saraswati tidak hanya menjadi perayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga dan meneruskan kekayaan pengetahuan serta budaya leluhur kepada generasi berikutnya.