Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

FOKUS : NEGERI YANG TERCABIK

Bali Tribune

BALI TRIBUNE - Niat dan perjuangan untuk mempersatukan wilayah Nusantara sesungguhnya sudah dimulai sejak Kerajaan Nusantara II; Gajah Mada. Sumpah yang dikumandangkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkhubumi tahun 1258 (1336 Saka) itu menjadi monumental dimana sang raja membiarkan diri menderita dengan berpuasa sampai seluruh wilayah Nusantara yang disebutkan dalam sumpahnya itu bisa direngkuh dalam kekuasaannya.

"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". Artinya: Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Tonggak sejarah tentang konsolidasi persatuan bangsa terjadi lagi di tahun 1928. Kala itu, tepatnya tanggal 28 Oktober, bertempat di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, pada sesi terakhir Kongres Pemuda II yang dihelat dalam dua hari itu, Pemuda-Pemudi Indonesia mengumandangkan sumpah; bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Kongres tersebut dihadiri berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Album sejarah bangsa yang penuh dengan warna-warni ini seakan menyentuh manusia Indonesia masa kini yang mulai kehilangan jati diri. Saling hujat, cari maki dan saling merendahkan antar sesama anak bangsa, demikian masif di ruang publik maupun jagad maya.

Setiap hari produksi kata-kata bernuansa SARA, saling merendahkan dan saling ancam seperti yang kemudian memicu konflik antara tokoh pendukung dan oposan, terus membuat langit nusantara membara.

Kita tak mampu meramu kebhinekaan sebagai mozaik nusantara seperti yang ditunjukkan tokoh-tokoh muda angkatan 1928 dan 1945, yang kondisi penuh tekanan, mampu mengorganize diri dengan identitas daerah masing-masing kemudian menciptakan simpul dengan nama pemuda indonesia.

Kita, anak bangsa generasi milenia saat ini, tak punya nyali sekuat Gajahmada yang dengan keberaniannya, Dia mampu menyatukan nusantara. Kita juga tak sesolid generasi 1928 yang dengan identitas bawaan masing-masing, kemudian menyatu dalam identitas baru.

Padahal, kita, generasi milenia saat ini hidup di dunia yang makin maju, fasilitas hidup yang mendekati sempurna, akses informasi dan ilmu pengetahuan yang mudah dan murah, pun organ-organ sosial yang tumbuh dengan ragam misi. Namun, mereka lelah mengurus dan mencari resolusi konflik yang timbul dari identitas bawaan masing-masing. Perbedaan bukannya menjadi pemerkaya dan penopang persatuan, malah "dipaksa" menjadi sama dengan segala konsekuensinya.

John Naisbitt and Patrisia dalam bukunya Global Paradok-paradok sudah menduga, dalam dunia yang semakin modern, akan tumbuh paradok-paradok yang sosial. Ketika itu, gagasan inklusivitas merambah di segala bidang, sebaliknya eksklusivitas akan tumbuh di sela-selanya. Inilah yang sedang berkembang di Indonesia.

Untuk mengembang erosi persatuan ini, Pemerintah Jokowi-JK sudah saatnya mulai mengubah orientasi dari pengembangan infrastruktur kepada upaya pembinaan bangsa. Agenda aksinya bisa berupa latihan bela Negara dengan konsep yang tepat, menciptakan event pertemuan pemuda dari semua suku bangsa di Indonesia dengan intensitas yang memadai, mendekatkan jarak Negara-Warga dengan mengurus dan memberi perhatian secara proporsional kepada kegiatan keagamaan semua penganut agama dan kegiatan-kegiatan seni budaya bagi semua suku bangsa di Indonesia.

Kita harus malu kepada para pemuda dari berbagai suku dan daerah yang mengumandangkan sumpah di Tahun 1928, para pejuang yang meneteskan darahnya di medan juang selama masa perjuangan kemerdekaan dan para pendiri Negara yang telah meletakkan fondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Janganlah biarkan negeri ini dicabik-cabik oleh ambisi dan emosi sesaat.

Bahwa sangat mahal harga persatuan dalam keberagaman daripada keseragaman dalam benturan. “Bukankah pelangi itu Indah karena menyatunya berbagai Warna?”.

wartawan
Mohammad S. Gawi
Category

31 Persen Aset LPD Berada di Badung, Digitalisasi Jadi Strategi Hadapi Persaingan

balitribune.co.id I Badung - Memasuki usia 26 tahun, Badan Kerja Sama (BKS) Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Kabupaten Badung terus memperkuat kebersamaan dan peran LPD sebagai salah satu penopang ekonomi desa adat. Momentum tersebut ditandai dengan puncak perayaan HUT ke-26 BKS LPD Badung yang dipusatkan di Wantilan Pura Lingga Bhuana, Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Sabtu (22/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Pascamusibah Kebakaran KMP Putri Yasmin, Komisi VII DPR-RI Usulkan One Man One Ticket

balitribune.co.id I Amlapura - Pascamusibah kebakaran yang terjadi pada kapal KMP Putri Yasmin di Selat Lombok pada 12 Agustus 2026 lalu, Anggota Komisi VII DPR-RI, Bambang Haryo Sukartono, Sabtu (22/8/2026) melakukan Kunjungan Kerja (Kuker) dalam rangka pengawasan ke Pelabuhan Padang Bai, Karangasem. Dalam kesempatan itu, Bambang Haryo Sukartono sempat menggelar rapat dengan sejumlah instansi terkait di Ruang Rapat Kantor PT.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

59 Anak Ikuti Khitanan Massal di Masjid Keramat Kuna

balitribune.co.id I Singaraja - Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna mengapresiasi pelaksanaan Khitanan Ceria yang digelar di Masjid Keramat Kuna Kampung Kajanan, Minggu (23/8/2026). Kegiatan tersebut dinilai menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Hadirkan Fitur Test Ride di Aplikasi Motorku X

balitribune.co.id | Denpasar - Di tengah tren konsumen muda yang menginginkan layanan cepat dan serba digital, Astra Motor menghadirkan solusi inovatif melalui aplikasi Motorku X yang kini dilengkapi fitur Test Ride. Fitur ini dirancang khusus untuk mengakomodasi kebutuhan generasi milenial dan Gen Z yang ingin merasakan sensasi berkendara sepeda motor Honda impian secara langsung sebelum membeli, tanpa proses yang rumit.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.