Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Hari Depan yang Terancam

Bali Tribune/ Hans Itta
Oleh Hans Itta
 
balitribune.co.id - Semakin lama semakin banyak orang percaya bahwa umat manusia harus berusaha untuk menyelamatkan hari depannya. Kegagalan berarti bencana. Tugas sejarah, untuk dua atau tiga generasi yang hidup dalam masa ini yang menentukan hidup di hari depan. 
 
Beberapa pendapat merasa bahwa suatu zaman berganda tiga sekarang sedang berlangsung mendekati akhir. Pertama, abad yang diawali oleh revolusi industri 200 tahun yang lalu; kedua, abad kebangkitan Eropa yang diawali oleh masa Renaisans dan Reformasi 500 tahun yang lalu dan yang ketiga abad peradaban-peradaban penerus Athena, Jerusalem dan Romawi, dimulai sekitar kelahiran Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu. Kesemuanya ini menyarankan suatu perspektif sejarah dan suatu tindakan dalam tugas kita sebagai “bidan” untuk hari depan yang baru.
 
Manusia bergantung pada satu biosfer untuk kelanjutan hidup. Meskipun demikian, setiap masyarakat, setiap negara, berjuang bagi kelangsungan hidup di hari depan dan kesejahteraannya tanpa mengacuhkan dampaknya pada yang lain. Sebagian menggunakan sumber daya bumi pada laju yang akan menyisakan sedikit bagi bagi generasi mendatang. Yang lain, jumlahnya lebih banyak, menggunakan terlalu sedikit dan hidup dalam bayangan kelaran, kemelaratan, penyakit dan kematian yang terlalu awal. Walaupun demikian kemajuan telah dicapai. 
 
Di sebagian besar dunia, anak yang lahir sekarang bisa berharap hidup lebih lama dan dididik lebih baik daripada orang tua meraka. Kemajuan demikian ini menimbulkan harapan ketika membayangkan bahwa perbaikan-perbaikan masih tetap diperlukan dan juga ketika manusia menghadapi kegagalan untuk membuat bumi ini menjadi rumah yang lebih aman dan lebih sehat bagi kita dan bagi mereka yang akan datang. 
 
Skala dan kerumitan kebutuhan akan sumberdaya alam telah meningkat pesat dengan bertambahnya jumlah penduduk dan produksi. Ala mini berlimpah, namun juga mudah rusak dan memiliki keseimbangan yang kritis. Ada ambang-ambang tidak boleh dilampaui tanpa membahayakan integritas dasar sistemnya. Sekarang ini kita berada dekat dengan ambang-ambang tersebut; kita harus harus lebih sadar akan resiko yang membayakan kelangsungan hari depan. Lebih-lebih lagi, kecepatan berlangsungnya perubahan dalam penggunaan sumberdaya meninggalkan sedikit waktu untuk berantisipasi dan mencegah dampak-dampak yang mrupakan ancaman yang tidak diharapkan.
 
“Efek rumah kaca” salah satu ancaman terhadap manusia di hari esok, merupakan akibat langsung penggunaan sumberdaya yang meningkat. Pembakaran bahan fosil serta penebangan dan pembakaran hutan melepaskan karbon dioksida (CO2). Akumulasi CO2 dan gas-gas lainnya dalam atmosfer menahan radiasi matahari dekat permukaan bumi, sehingga menyebabkan naiknya suhu bumi. Ini dapat menyebabkan naiknya permukaan laut dalam 45 tahun mendatang akan cukup menggenangi berbagai kota pantai yang rendah dan delta-delta sungai. Ini juga mengguncangkan produksi pertanian nasional dan internasional serta sistem perdagangan.
 
Ancaman lain muncul akibat menipisnya lapisan ozon di atmosfer oleh gas-gas yang dilepaskan ketika pembuatan karet busa serta penggunaan refrigerant hairspray, AC, aaerosol dan lain-lain, kesemuanya ini memproduksi CFCs yang merobek lapisan ozon dalam jumlah yang berarti dapat menimbulkan dampak yang mengerikan terhadap kesehatan manusia dan hewan serta pada beberapa jenis kehidupan yang merupakan awal rantai makanan di laut. Penemuan pada tahun 1986 (Hembing Wijayakusuma:1995) tentang adanya sebuah lobang dalam lapisan ozon di atas Antartika menunjukkan adanya kemungkinan proses penipisan lapisan ozon lebih cepat daripa sembunya diduga. 
 
Ronald Higgins dalam “The Seven Enemy” memperingatkan tujuh ancaman utama pada umat manusia, yaitu: peledakan penduduk, kekurangan pangan, bekelangkaan sumberdaya alam, pencemaran dan kemerosotan mutu lingkungan, energi nuklir, teknologi tanpa kendali, dan kebutaan moral dan kelumpuhan politik. 
 
Dari ketujuh ancaman tersebut di atas, yang paling menonjol dasawarsa ini adalah peledakan penduduk. Setiap tahun jumlah penduduk dunia, bertambah terus, sedangkan sumberdaya untuk mendukung populasi ini, untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan untuk menghilangkan kemiskinan massal tetap terbatas. Meskipun demikian, pengetahuan manusia yang terus berkembang berhasil meningkatkan produktivitas sumberdaya tersebut.
 
Keinsyafan bersama masalah kependudukan, yag sekarang ini sudah mulai mencemaskan. Pada tanggal 11 Juli yang lalu, adalah Hari Kependudukan Sedunia. Yakni hari untuk mengingatkan kepada seluruh umat manusia bahwa bumi tempat kita hidup sudah semakin sempit. Padahal tugas kemanusiaan lebih sejahtera, berkualitas dan berprestasi, belum selesai. Sumber alam semakin terbatas, sedangkan sebagian besar manusia hidup dalam keadaan papa. 
 
Bahkan dengan program keluarga berencana yang dilakukan oleh seluruh bangsa di dunia dengan kondisi seperti sekarang, dalam jangka waktu 30 atau 40 tahun lagi penduduk dunia akan menjadi di atas delapan miliar dan yang memprihatinkan, sekitar 95 persen pertambahan jumlah penduduk itu berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang kini telah berjumlah 260 juta jiwa. Tahun 2050 jumlah penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 11,6 miliar. 
 
Sedangkan ahli kependudukan dunia, Collin Clark pernah menyebutkan bahwa bumi dengan daya dukungnya berupa air, tanah, hutan dan udara, dalam kondisi seperti sekarang hanya mampu menghidupi maksimal 12 miliar manusia.
 
Indonesia dengan penduduk sekitar 270,6 juta jiwa  (Worldometers, 2019), menunjukkan usaha keras Indonesia untuk mengatasi masalah kependudukan. Sementara jumlah penduduk dunia pada tahun 2019 telah mencapai 7,7 miliar jiwa. Worldometers juga mencatat pada 2019 jumlah penduduk perkotaan di Indonesia sebanyak 150,9 juta jiwa atau 55,8% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 270,6 juta jiwa.  
 
Menurut mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim, bahwa pengendalian jumlah penduduk hanya salah satu segi dari masalah kependudukan. Kondisi penduduk di negara-negara berkembang masih memprihatinkan, sehingga untuk mengatasi masalah kependudukan diperlukan usaha-usaha di bidang peningkatan kesejahteraan, pendidikan, penyebaran penduduk, komposisi usia, hubungan penduduk dengan alam lingkungannya dan peranan wanita. 
 
Salah satu metode yang utama dalam pendendalian “ledakan penduduk” adalah membatasi pertumbuhan penduduk.
Pembatasam pertumbuhan penduduk benar-benar sebuah “metode” untuk menyelamatkan hari depan.” Mari kita renungkan lebih mendalam untuk berpikir yang mendorong kita bersikap dan berbuat. (u)
wartawan
Hans Itta
Category

Kampung Kusamba dan Kampung Gelgel Gelar Tradisi Safaran

balitribune.co.id I Semarapura - Bupati Klungkung, I Made Satria menghadiri tradisi Safaran Desa Kampung Kusamba dan Desa Kampung Gelgel yang berlangsung di pesisir Pantai Desa Kampung Kusamba, Rabu (12/8/2026). 

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap akhir bulan Safar ini menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan leluhur sekaligus memperkuat silaturahmi dan persaudaraan masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click

Cegah Penyebaran Rabies, Bupati Klungkung Minta Vaksinasi Digencarkan di Setiap Desa

balitribune.co.id I Semarapura - Bupati Klungkung, I Made Satria, meninjau langsung pelaksanaan sterilisasi dan vaksinasi gratis terhadap hewan penular rabies (HPR) seperti anjing dan kucing di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kamis (13/8/2026).

Peninjauan ini merupakan wujud komitmen nyata pemerintah daerah dalam menekan serta mencegah penyebaran kasus rabies demi mewujudkan Kabupaten Klungkung yang aman dan bebas dari ancaman rabies.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pangdam IX/Udayana Resmikan Jembatan Perintis Garuda di Buleleng

balitribune.co.id I Singaraja - Panglima Kodam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto hadir dalam peresmian Jembatan Garuda yang berlokasi di Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Jembatan gantung ini menjadi angin segar bagi mobilitas warga setempat karena menghubungkan dua desa strategis yakni Desa Lokapaksa dan Desa Ringdikit.

Baca Selengkapnya icon click

Eco Market 2026 Dorong Perputaran Ekonomi di Kawasan Pariwisata

balitribune.co.id I Badung - Kegiatan pameran yang menghadirkan produk dari sejumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) atau event Eco Market 2026 di kawasan pariwisata Nusa Dua Kabupaten Badung beberapa waktu lalu, diklaim dapat menjadi katalis mempertemukan wisatawan dan pengunjung dengan UMKM lokal sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi kawasan tersebut.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Bali Peringkat 3 Ajang Safety Riding Nasional 2026

balitribune.co.id | Denpasar – Komitmen dan konsistensi Astra Motor Bali dalam membagikan edukasi keselamatan berkendara kembali membuahkan prestasi di kancah nasional. I Nengah Suardiawan, perwakilan Advisor Dealer Astra Motor Bali dari Dealer Karisma Motor Klungkung, berhasil meraih Juara 3 pada ajang bergengsi Astra Honda Safety Riding Instructors Competition (AHSRIC) 2026 untuk kategori Advisor Dealer , Jumat (7/8/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Tabanan Siap Sambut 1.800 Atlet Nasional dalam Cheerleading Championship 2026

balitribune.co.id | Tabanan - Kabupaten Tabanan bersiap menyambut kedatangan 1.800 peserta dari berbagai wilayah Indonesia. Kedatangan ribuan atlet dan penampil ini dalam rangka gelaran "The A Team National Cheerleading Championship 2026" yang berpusat di GOR Debes, Tabanan pada Minggu (23/8/2026) mendatang.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.