Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Menjadikan Demokrasi sebagai Menara Api

Bali Tribune / I Komang Warsa - Bendesa Adat Alasngandang peduli keadaban demokrasi.

balitribune.co.id | Agenda lima tahunan negara yang biasa disebut Pemilu selalu menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan perpolitikan Indonesia. Setiap pemilihan umum, baik itu Pemilu legislatif, presiden, maupun kepala daerah, menjadi poros utama demokrasi di mana masyarakat turut serta dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Namun, tak jarang, Pemilu juga menyisakan dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat. Pemilu sering kali memperlihatkan polarisasi politik yang tajam di kalangan masyarakat. Dukungan terhadap kandidat atau partai tertentu dapat memecah kelompok-kelompok sosial yang sebelumnya harmonis, baik di lingkup keluarga, komunitas, maupun teman sebaya.

Di media sosial dan ruang publik, perdebatan menjadi semakin intens dan kadang-kadang berubah menjadi konflik yang tak terhindarkan dan muncul perdebatan liar tanpa kontrol yang justru memunculkan asumsi perang dunia maya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Pemilu bukan hanya proses politik, tetapi juga ajang pembentukan opini publik yang bisa membawa ketegangan sosial.

Indonesia yang diberikan julukan seribu pulau dengan raksasa kebhinekaan adalah negara penganut sistem demokrasi dan seharusnya selalu menjunjung nilai-nilai filosofi Pancasila. Hajatan lima tahunan selalu hadir mewarnai sistem perpolitikan Negara Indonesia khususnya Bali yang terkadang memunculkan kejenuhan, apatis dan bahkan terkadang pragmatis.

Rasa apatis atau jenuh apalagi tak acuh tidak boleh terjadi  karena negara tanpa politik sama halnya negara tanpa nahkoda dan tanpa politik arah kebijakan negara akan tidak terkontrol atau menjadi manasuka (arbitrer). Politik itu penting karena dari politik pemimpin dilahirkan, dari politik kebijakan ditetapkan, dari politik pendidikna diformulasikan bahkan pada politiklah semua orang berlindung, politik itu mulia di tangan orang baik dan bijak. Politik itu kotor jika ada pada orang yang yang menghampakan martabat kebaikan yang tidak paham arti sebuah demokrasi. Untuk menjadi politik itu baik maka orang-orang baik dan bijak harus ikut mewarnai perpolitikan Indonesia. Jika politik itu kotor mari kita bersihkan dengan kebaikan dan kejujuran.

Politik yang menganut sistem demokrasi di bawah rumah Pancasila, idealnya menjaga harkat martabat dan kesejahteraan rakyatnya. Demokrasi  sebagai rumah partai politik ibaratnya nyala api mesti mampu menerangi dan menyinari rakyatnya di panggung kesejahteraan. Politik harus bisa menyalakan api agar memberikan cahaya positif bagi masyarakat. Politik merupakan piranti demokrasi harus menuntun arah kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Demokrasi  jangan dijadikan  "menara gading" yang hanya berharga untuk orang tertentu namun tidak bisa memberi sinar kebermanfaatan untuk banyak orang dan hanya bermanfaat/bermakna bagi yang memegang menara gading saja. Sebaliknya, demokrasi yang sehat dan efektif harus berfungsi sebagai alat praktis yang mengutamakan kesejahteraan rakyat, bukan sebagai pajangan elitis yang hanya memberi manfaat bagi segelintir orang atau orang-orang yang ada di sekeliling menara gading demokrasi.

Menyalakan api demokrasi pada setiap partai politik merupakan bagian dari percikan api yang siap menyala dalam demokrasi Indonesia yang bermartabat dan memercikkan terang sekelilingnya. Akan tetapi, politik Indonesia bukan sebagai percikan api dalam sekam yang penuh asap dan membakar tanpa kendali. Menciptakan Nyala api politik sebagai nyala api yang terprogram dan terkendali oleh tungku konstitusi. Api perlu dinyalakan dengan semangat merdeka, untuk memastikan bahwa kekuasaan benar-benar ada di tangan rakyat, dan kebijakan publik diarahkan demi kebaikan dan kesejahtraan rakyat.

Demokrasi yang merdeka bukan sekadar mekanisme politik yang hanya digunakan untuk pemilu setiap beberapa tahun. Demokrasi merdeka adalah sebuah sistem yang menjamin kebebasan berekspresi, kesetaraan hak, dan partisipasi aktif semua warga negara dalam proses pengambilan keputusan. Dalam demokrasi yang sejati, rakyat bukanlah objek kebijakan, melainkan subjek yang menentukan arah pemerintahan. Kebebasan yang ditawarkan oleh demokrasi memungkinkan rakyat untuk berpendapat, mengkritik kebijakan pemerintah, dan terlibat dalam proses politik tanpa takut akan represi atau diskriminasi.

Gaung kebaikan demokrasi bukan mengkritik/menyerang pribadi atau keluarga melainkan kebijakan yang merugikan rakyat banyak. Kritikan kebijakan bukan karena merugikan/menguntungkan kelompok atau personal, sungguh naif. Politik identitas mesti dikubur dalam-dalam. Propaganda politik menghindari jebakan kampanye hitam, mengusung isu soroh (Bali), isu agama dalam sekala nasional ini menyulut disintegrasi bangsa.

Aktor politik harus bangun dari kesadaran “Amutter tutur pinahayu” dan bisa menyusun program agar melahirkan kampanye damai dan bermartabat. Kampanye semestinya adu program melalui visi misi yang jelas  bukan untuk berdebat mencari kelemahan lawan politik.

Demokrasi yang merdeka tidak bisa bertahan jika rakyat hanya mengejar kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampaknya pada kesejahteraan kolektif. Apalagi masyarakat bersifat pragmatis untung sesaat dan buntung selama lima tahun. Apatis terhadap politik akan menghancurkan pilar demokrasi. Kebebasan dalam demokrasi harus diarahkan untuk memajukan keadilan sosial, kesetaraan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, demokrasi yang merdeka bukan hanya sekadar menciptakan ruang untuk kebebasan individu, tetapi juga menjamin bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk hidup sejahtera.

Api demokrasi harus diarahkan untuk menciptakan kebijakan publik yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Pemerintah yang dipilih secara demokratis harus bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya negara dengan adil, memastikan distribusi kekayaan yang merata, menyediakan layanan publik yang berkualitas, dan memperjuangkan hak-hak dasar setiap warga negara.

Demokrasi harus mampu mendengarkan suara-suara yang paling lemah dan memastikan bahwa mereka tidak termarginalkan dalam proses pembangunan. Hal ini hanya dapat terjadi jika ada mekanisme yang transparan dan akuntabel dalam proses demokrasi. Korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah penyakit yang bisa mematikan api demokrasi.

Oleh karena itu, demokrasi yang sehat memerlukan institusi yang kuat dan independen, yang mampu menegakkan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu. Tanpa transparansi dan akuntabilitas, demokrasi bisa berubah menjadi tirani mayoritas atau oligarki yang menguntungkan segelintir elit.

Demokrasi seperti menara api, memiliki potensi besar untuk menerangi rakyat sekelilingnya menuju kesejahteraan. Namun, api demokrasi  ini harus dijaga agar tidak padam atau membakar tanpa kontrol hingga merusak. Demokrasi yang sejati harus merdeka dan inklusif, memberikan kebebasan serta kesejahteraan bagi semua rakyatnya.

Tantangan di era modern ini membutuhkan komitmen yang lebih besar dari semua pihak untuk menjaga demokrasi tetap relevan dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan menyalahkan api demokrasi yang benar, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan penuh harapan. Rahayu.

wartawan
I Komang Warsa
Category

Biadab! Hanya Karena Setoran, Bos Tega Bakar Sopir 

balitribune.co.id | Amlapura - Nasib tragis menimpa I Gede Slamet (20), seorang sopir truk asal Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem. Ia mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya setelah dibakar hidup-hidup oleh bosnya sendiri, I Putu CP (39), asal Kecamatan Rendang, pada Jumat (18/9/2026) siang. 

Baca Selengkapnya icon click

Koster Bagikan Nasi Jinggo di SMPN 13 Denpasar

balitribune.co.id | Denpasar - Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mendampingi Gubernur Bali, Wayan Koster, melakukan kunjungan kerja ke SMP Negeri 13 Denpasar pada Jumat (18/9/2026). Kedatangan orang nomor satu di Bali dan Denpasar ini disambut antusias oleh seluruh siswa, guru, dan jajaran sekolah lewat beragam kreativitas seni dan budaya.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Polres Jembrana Gulung Jaringan Narkoba Antarpulau 

balitribune.co.id I Negara - Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Jembrana berhasil membongkar tujuh kasus peredaran narkotika dalam operasi beruntun periode Agustus hingga September 2026. 

Dari rangkaian penindakan tersebut, polisi meringkus delapan tersangka yang terdiri dari tujuh pria dan satu wanita, serta menyita barang bukti sabu seberat total 111,25 gram netto (119,02 gram bruto).

Baca Selengkapnya icon click

Tagihan Semu PBB Jembrana Capai Miliaran

balitribune.co.id | Negara - Ketidaksinkronan data pertanahan antara instansi vertikal pusat dan daerah memicu pembengkakan piutang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Jembrana hingga menembus angka fantastis, yakni Rp54,5 miliar. 

Data yang tidak akurat ini memicu penumpukan tagihan semu yang terus bertambah setiap tahun.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

DPRD Badung Sepakati APBD Perubahan 2026, Infrastruktur Jadi Prioritas

balitribune.co.id | Mangupura - DPRD Kabupaten Badung bersama Pemerintah Kabupaten Badung menyepakati Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Kabupaten Badung Tahun Anggaran 2026. Kesepakatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat arah pembangunan Badung, khususnya melalui peningkatan porsi anggaran untuk sektor infrastruktur.

Baca Selengkapnya icon click

APBD-P Badung 2026 Tembus Rp13 Triliun, Infrastruktur Dapat Porsi 59,23 Persen

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung bersama DPRD Badung menyepakati Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2026. Dalam perubahan anggaran tersebut, belanja daerah dipatok lebih dari Rp13 triliun dengan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.