balitribune.co.id | Tabanan – Pengantaran jenazah di RSUD Tabanan terancam tertunda akibat ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax untuk armada mobil jenazah yang kian menipis.
Di sisi lain, pelayanan kesehatan secara umum baik di poliklinik RSUD Tabanan maupun RS Singasana tetap berjalan seperti biasa. Meskipun, mulai Kamis (15/10/2026), Pemkab Tabanan mulai menerapkan skema Work From Home (WFH) di seluruh organisasi perangkat daerah seperti dinas/badan.
Plt Direktur RSUD Tabanan, dr. I Wayan Doddy Setiawan menjelaskan bahwa layanan pemeriksaan medis secara umum di RSU Tabanan maupun RS Singasana, baik poliklinik umum maupun eksekutif, masih berjalan biasa.
Selain itu, ketersediaan obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) berada dalam kondisi aman karena rumah sakit selalu memiliki cadangan persediaan (buffer stock) untuk jangka waktu dua hingga tiga bulan ke depan. “Selalu disediakan buffer stock seperti itu. Wujudnya ya obat-obatan atau BMHP (Bahan Medis Habis Pakai),” kata dr. Doddy.
Ia membeberkan bahwa persediaan bahan bakar untuk armada ambulans medis juga masih relatif aman karena menggunakan bahan bakar jenis biosolar. Kendala utama justru dialami oleh kendaraan operasional dinas dan dua unit mobil jenazah yang bergantung pada pasokan Pertamax. “Untuk ambulans medis masih aman suplainya. Cuma kendaraan operasional seperti kendaraan dinas selain ambulan,” terangnya.
Ia mengungkapkan bahwa pasokan bahan bakar untuk salah satu unit mobil pengangkut jenazah saat ini sudah menipis, sementara satu unit lainnya masih terisi penuh. Jika kelangkaan BBM berlangsung hingga tiga hari ke depan tanpa ada normalisasi pasokan, pengantaran jenazah dari ruang pemulasaraan berpotensi mengalami keterlambatan. “Sudah mulai menipis pasokannya. Satu unit sudah menipis isinya. Satunya masih full,” ungkap Doddy.
Saat ini, Instalasi Pemulasaraan Jenazah di RSU Tabanan yang memiliki kapasitas total 52 jenazah telah terisi oleh 12 jenazah warga. “Sekarang lagi terizi 12 jenazah,” imbuhnya.