Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Pertumbuhan Versus Keselamatan dan Kesehatan

Bali Tribune / Wayan Windia - Guru Besar FP Unud,dan Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar.

balitribune.co.id | Saya mengikuti dengan cermat, diskusi sekitar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di awal tahun. Khususnya pandangan dan kritik yang diberikan oleh mantan tim KNKT. Bahwa banyak sekali rekomendasi dari KNKT yang tidak bisa dijalankan oleh Kemhub, berkait dengan keselamatan penerbangan. Tentu saja rekomendasi itu diberikan, dengan berkaca dari musibah-musibah sebelumnya.

Saya kira, banyak alasan, kenapa Kemhub tidak bisa menjalankan semua rekomendasi KNKT tsb. Salah satunya, karena Kemhub mungkin perlu memikirkan banyak hal yang holistik, demi pembangunan Indonesia. Pembangunan yang dimaksudkan adalah, agar tetap terjadi pertumbuhan ekonomi, sebagaimana banyak diidam-idamkan oleh masyarakat umum.

Justru di sinilah dilemanya. Karena pengaruh globalisasi yang multi-dimensi, maka masyarakat yang hidup saat ini, banyak sekali memiliki harapan-harapan. Mungkin tidak perduli dengan alasan apapun. Pokoknya kemakmuran harus terus berlanjut dan bertambah. Hal itu hanya dapat dicapai dengan pertumbuhan dan pertumbuhan (ekonomi).

Maka, atas nama pertumbuhan ekonomi, berbagai hal yang berkait dengan keselamatan penumpang, dan juga kesehatan masyarakat, harus di kesampingkan dahulu. Pertumbuhan ekonomi bagi bisnismen, adalah berarti harus meningkatkan keuntungan (profit) dan efesiensi. Tidak perduli dengan kemanfaatan (benefit), dan efektivitas.

Salah satu kritik dari para pengamat yang saya tangkap adalah, dibiarkannya persaingan harga (perang tarif) yang sangat keras dalam bisnis penerbangan udara. Perang tarif terjadi, karena pemerintah membiarkan tumbuh berbagai perusahan penerbangan, yang mungkin tidak berkualitas. Di mana mereka melakukan efesiensi yang berlebihan, demi untuk profit. Tujuannya, tentu saja adalah untuk memenangkan perang tarif.

Wacana seperti ini, selalu muncul dalam setiap kali ada musibah di udara. Tetapi pemerintah tetap saja tidak bisa bertindak dengan ketat. Mungkin dengan alasan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dll. Tetapi haruslah hal itu dicapai dengan mengesampingkan keselamatan penerbangan?

Inilah resikonya, kalau keberhasilan pembangunan ekonomi tetap masih diukur dengan adanya persepsi pertumbuhan, tingginya income per capita, tingginya PAD, dan berbagai indikator lain yang sifatnya fisik-ekonomi. Padahal ukuran pembangunan tidak hanya sekedar fisik-ekonomik. Tetapi juga harus diukur dari aspek sosial.

Profesor Mulyadi (UB, Malang) selalu mengatakan bahwa pembangunan itu analog dengan seseorang yang baru bangun dari tidurnya. Kalau seseorang bangun dari tidurnya, maka yang bangun itu tidak saja fisiknya, tetapi juga kesadaran sosialnya. Jadi, dalam proses pembangunan harus diseimbangkan antara pembangunan fisik-ekonomik dan pembangnunan sosial. Jangan ngotot hanya ingin adanya pertumbuhan fisik semata.

Itulah sebabnya, saat ini sudah mulai banyak ada wacana tentang ukuran pembangunan, yang seharusnya diukur dari indeks kebahagiaan. Bukan sekedar dari ukuran IPM, apalagi diukur dengan ukuran indikator tingkat pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita. Mereka yang pernah berwisata ke Bhutan, selalu bercerita tentang ukuran Indeks Kebahagiaan untuk mengukur keberhasilan pembangunan.

Mungkin cerita dari Bhutan itu, tidak menarik bagi kalangan generasi saat ini, dan bagi ekonom penganut paham Adam Smith. Tetapi membiarkan generasi Indonesia, nyaman hidup dalam zone nyaman (somya), akan sangat membahayakan. Khususnya lagi, kalau pada saat tertentu, muncul krisis. Kita harus mendidik generasi Indonesia, untuk biasa juga dalam hidup prihatin (sunya). Lalu hidup bergotong-royong, selalu menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat, dan bangsa.

Hal itu kiranya dapat dilakukan dengan melaksanakan pembangunan, dan pertumbuhan setahap-demi setahap, berazaskan pemerataan. Prof.Mubyarto (UGM) selalu mengatakan bahwa kita tidak boleh anti pertumbuhan. Tetapi tercapainya pertumbuhan itu, seharusnya melalui proses pemerataan dan keadilan sosial.

Tetapi secara teoritis, akan sangat sulit menurunkan kenikmatan penduduk, yang sedang berada dalam zone nyaman. Kalau ada peningkatan pendapatan, maka konsumsi bisa naik secara vertikal. Tetapi kalau ada penurunan pendapatan, maka konsumsi tidak akan bisa turun secara vertikal. Tetapi turunnya secara diagonal. Hal inilah yang bisa menimbulkan friksi atau konflik di saat-saat krisis.

Misalnya, dalam skala rumah tangga, krisis saat ini sudah mulai menimbulkan banyak perceraian. Hal itu disebabkan karena pasangan tsb, hanya membayangkan harapan-harapan, membayangkan kenikmatan dalam zone nyaman (somya), tetapi tidak siap untuk hidup prihatin (sunya). Kiranya, bisa saja kasus kecil itu berkembang dalam skala yang lebih besar. Kalau masyarakat Indonesia tidak dididik melalui pertumbuhan ekonomi yang berbasis pemerataan dan keadilan sosial.

Kasus serangan korona, juga mengindikasikan hal yang senada dalam kebijakan pemerintah. Pemerintah (dan juga masyarakat) tetap saja ingin adanya pertumbuhan ekonomi dalam serangan korona ini. Bahkan dengan tidak memperhatikan sisi kesehatan masyarakat secara umum. Indikasinya adalah serangan korona yang selalu menanjak tajam, kalau ada hari libur panjang.

Dalam kasus ini, pemerintah nyaris ragu untuk bertindak tegas. Buktinya, sudah diumumkan ke publik bahwa di Jawa-Bali akan ada PSBB. Tetapi tiba-tiba saja berubah menjadi PPKM. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tampaknya tidak tahan terhadap serangan kaum kapitalis, yang profitnya akan berkurang.

Sementara itu, masyarakat Indonesia juga sudah salah-kaprah. Ingin enaknya sendiri saja. Sudah jelas ada wabah hebat, rumah sakit hampir penuh, tetapi mereka tetap saja masih ingin berleha-leha. Apakah kenikmatan hidup untuk menikmati dunia, tidak bisa dikekang dan ditunda, hingga vaksinasi korona sudah tuntas?

wartawan
Wayan Windia
Category

Warung di Mambal Ludes Terbakar, Korban Dapat Bantuan Modal Rp5 Juta

balitribune.co.id I Mangupura - Musibah kebakaran menghanguskan sebuah warung milik Ni Made Karmi di Banjar Trijata, Desa Adat Mambal, Kecamatan Abiansemal, Badung. Warung yang menjadi tempat berjualan aneka gorengan sekaligus menyediakan sarana upacara keagamaan itu terbakar pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.00 WITA.

Baca Selengkapnya icon click

Polres Gianyar Ungkap 55 Kasus Kriminal

balitribune.co.id I Gianyar - Polres Gianyar mengungkap 55 kasus kriminal sepanjang Juli-Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, polisi mengamankan 56 tersangka, terdiri dari 49 laki-laki dan tujuh perempuan. 

Wakapolres Gianyar, Kompol Willa Jully Mendissa, mengatakan kasus yang diungkap meliputi sembilan curanmor, lima curat, dua curas, dan 39 pencurian biasa/penggelapan (cusa). 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Skenario Tahap III Gagal Atasi Macet Ubud, Dishub Sebut Rekayasa Tahap II Paling Efektif

balitribune.co.id I Gianyar - Setelah dilakukan tiga kali tahap dalam rekayasa lalu lintas di Ubud dalam sebulan terakhir,  finalnya jatuh ke skenario Tahap II.  Menyusul terjadinya kemacetan parah (stuck)  di sejumlah ruas jalan saat perberlakukan ujicoba tahap III dalam sehari. 

Baca Selengkapnya icon click

Jaya Negara Serahkan Santunan Rp42 Juta Kepada Ahli Waris Ida Sira Mpu Nabe Dharma

balitribune.co.id I Denpasar - Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyerahkan santunan kematian secara simbolis kepada ahli waris Almarhum Ida Sira Mpu Nabe Dharma Sunu. Almarhum merupakan Sulinggih dari Griya Sira Mpu Pande, Desa Adat Tonja, Selasa (8/9/2026) sore.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Tim SAR Temukan Dua Pendaki yang Tersesat di Gunung Agung

balitribune.co.id I Amlapura - Setelah menerima laporan adanya dua pendaki yang tersesat saat melakukan aktifitas pendakian ke puncak Gunung Agung pada Rabu (9/9/2026), Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar melalui Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem langsung menerjunkan anggota untuk melakukan pencarian terhadap dua pendaki yang hilang tersebut.

Baca Selengkapnya icon click

Bupati Gus Par Buka Festival Literasi 2026, Ajak Warga Hidupkan Pustaka dan Rawat Tradisi

balitribune.co.id I Amlapura - Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata alias Gus Par membuka Festival Literasi Gemar Membaca Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Karangasem, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Karangasem ini mengusung tema “Prana Pustaka: Menghidupkan Cerita, Merawat Tradisi.”

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.