balitribune.co.id | Denpasar - Suadi Putra resmi dilantik sebagai Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, Sabtu (1/8), menggantikan Ida Bagus Kompyang Wiranata yang telah memasuki masa purna tugas. Mantan anggota DPRD Kota Denpasar itu mengaku menerima jabatan tersebut sebagai sebuah tantangan untuk membawa perspektif baru dalam pengelolaan pasar tradisional.
Menurut Suadi, tantangan utama yang dihadapi pasar tradisional saat ini adalah semakin ketatnya persaingan dengan ritel modern. Karena itu, ia menilai pasar harus mampu menghadirkan kenyamanan, kebersihan, keamanan, serta akses yang lebih baik bagi pengunjung tanpa meninggalkan keunggulan khas pasar tradisional, seperti harga yang kompetitif, produk segar, dan budaya tawar-menawar.
"Untuk mewujudkan hal tersebut, kami akan menyiapkan program pembenahan secara bertahap. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada perbaikan fasilitas dasar seperti akses parkir, kondisi pasar yang becek, toilet, kebersihan, serta penguatan sistem e-kinerja guna meningkatkan efektivitas pengelolaan internal," ucap Suadi yang dihubungi melalui selulernya, Minggu (2/8/2026).
Selanjutnya, pada tahap menengah, Perumda akan melakukan pembaruan tampilan pasar serta mengembangkan ruang-ruang pasar menjadi pusat aktivitas komunitas dan digital community melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
"Sementara dalam jangka panjang, kami menargetkan pembangunan dan revitalisasi pasar berskala besar, termasuk Pasar Cokro, melalui sinergi dengan Pemerintah Kota Denpasar dan berbagai organisasi terkait," tuturnya.
Suadi menegaskan, seluruh gagasan tersebut lahir dari pengamatannya selama ini terhadap kondisi pasar tradisional dari luar. Ia berharap pendekatan baru tersebut mampu meningkatkan daya saing pasar sekaligus menjadikan pasar tradisional sebagai ruang ekonomi yang lebih nyaman dan diminati masyarakat.
Tokoh masyarakat yang juga mantan Ketua Komisi III DPRD Denpasar itu berharap Perumda Pasar Sewakadarma dapat menghadirkan pengelolaan yang lebih profesional sehingga pasar-pasar tradisional di Kota Denpasar semakin berkembang dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Sedangkan terkait keberadaan "pasar tumpah" yang juga meramaikan beberapa ruas jalan di Denpasar pada jam-jam tertentu, ia akan membangung pola komunikasi, agar para pedagang tersebut bisa masuk ke dalam pasar.
"Kenapa demikian, karena ini menyangkut wajah kota. Tentu hal ini akan kita komunikasikan dengan pemangku kebijakan terkait, tanpa menimbulkan gesekan di masyarakat," tukasnya. Seraya menambahkan, sepengetahuan dirinya "pasar tumpah" itu ada yang dikelola oleh desa adat ataupun perorangan yang menggunakan lahan miliknya. Lantaran itulah ia akan melakukan komunikasi dengan melibatkan pihak terkait.