balitribune.co.id | Denpasar - Pemerintah Kota Denpasar resmi menjajaki kerja sama maritim dengan Kota Piraeus, Yunani, pada Selasa (20/10/2026) untuk menata kawasan pesisir pantai yang selama ini terkesan kumuh dan dipenuhi parkir jukung nelayan.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai upaya menyulap wajah pantai Denpasar menjadi kawasan pelabuhan maritim yang apik dan bernilai ekonomi tinggi.
Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat pengelolaan kawasan maritim. Penjajakan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan pihak Yunani, Selasa (20/10/2026).
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, mengatakan Piraeus dipilih karena memiliki karakteristik yang dinilai relevan dengan Denpasar. Kedua kota memiliki kawasan pesisir dan pelabuhan yang berperan penting dalam mendukung aktivitas maritim serta perekonomian daerah.
Menurut Arya Wibawa, pengalaman Piraeus dalam mengelola pelabuhan dan aktivitas kapal pesiar dapat menjadi referensi bagi Denpasar, khususnya dalam mempersiapkan pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai marina hub pada masa mendatang.
“Kota ini memiliki pantai dan pelabuhan yang cukup baik di dunia. Kondisi tersebut memiliki kesamaan dengan Kota Denpasar yang juga memiliki kawasan pesisir, serta rencana pengembangan Pelabuhan Benoa atau Pelindo sebagai marina hub oleh pemerintah pusat,” ujarnya.
Arya Wibawa menjelaskan, salah satu aspek yang menarik untuk dipelajari dari Piraeus adalah kapasitas pelabuhannya dalam melayani kapal pesiar berukuran besar. Berdasarkan informasi yang diterima Pemkot Denpasar, pelabuhan tersebut mampu menampung sekitar 20 hingga 30 kapal pesiar berukuran besar dalam satu waktu.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Denpasar dalam merancang pengelolaan pelabuhan yang terintegrasi dengan pengembangan pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia juga menegaskan, kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata, tetapi berlanjut melalui pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan praktik terbaik dalam pengelolaan kawasan pelabuhan.
Salah satu fokus yang menjadi perhatian adalah optimalisasi manfaat ekonomi dari kunjungan kapal pesiar, terutama bagi pelaku usaha lokal di sekitar pelabuhan. Sektor kuliner, restoran, dan usaha pendukung pariwisata dinilai memiliki peluang untuk berkembang seiring meningkatnya aktivitas maritim dan arus kunjungan wisatawan.
Ia menuturkan, berdasarkan informasi dari Wali Kota Piraeus yang pernah berkunjung ke Denpasar, aktivitas kapal pesiar berukuran besar memberikan dampak positif terhadap perkembangan usaha di sekitar pelabuhan.
“Berdasarkan informasi dari Wali Kota Piraeus yang pernah berkunjung ke sini, kehadiran kapal-kapal pesiar besar dalam satu hari dapat membawa dampak positif bagi lingkungan ekonomi di sekitarnya. Restoran yang berada di kawasan pelabuhan juga berkembang cukup besar,” kata Arya Wibawa.
Pengalaman Piraeus tersebut dinilai dapat menjadi acuan bagi Denpasar dalam mengantisipasi peluang ekonomi yang muncul apabila pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai marina hub terealisasi.
Melalui peningkatan konektivitas maritim, Pemkot Denpasar berharap pengembangan pelabuhan dapat memberikan efek berganda terhadap sektor pariwisata, usaha kuliner, dan perekonomian masyarakat. Meski demikian, Ia mengingatkan bahwa potensi tersebut perlu didukung perencanaan yang matang dan tata kelola yang tepat.
Dengan demikian, pengembangan kawasan pelabuhan tidak hanya berorientasi pada peningkatan aktivitas maritim, tetapi juga mampu terhubung dengan kegiatan ekonomi perkotaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Denpasar.