Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Wajah Guru di Hari Guru

Bali Tribune / I Komang Warsa - Kepala SMAN 1 Tembuku

balitribune.co.id | Belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja adalah jargon  merdeka belajar yang sering terngiang dalam telinga para siswa dan guru. Jargon tersebut menjadi booming di era pembelajaran mediamorfosis ketiga. Jargon ini terdengar seperti suatu kemajuan yang revolusioner, namun perlu dipertanyakan apakah keberadaan guru masih memiliki peran yang signifikan dalam proses pendidikan? Seakan-akan “kehadiran guru tidak diperlukan lagi” karena kemajuan teknologi yang “dianggap” bisa menggantikan guru. Belajar tidak lagi terpaku pada ruang kelas dan jadwal tertentu. Dengan teknologi sebagai katalisator, siswa dapat mengakses pengetahuan di manapun mereka berada. Ini adalah bentuk kebebasan belajar yang mencerminkan semangat merdeka belajar. Namun, perlu diingat bahwa kebebasan ini bukan berarti kehilangan kehadiran dan bimbingan seorang guru.

Pendidikan kapan pun tetap memerlukan sosok gùru yang sangat dirindukan oleh peserta didik untuk mengejawantah peradaban karakter dan moralitas. Belajar bagian dari mentrasfer ilmu pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, proses mendidik adalah menuntun umat manusia agar menjadi selamat dunia akhirat. Masih ingatkah dengan cerita   Bangbang Ekalawya seorang siswa yang ditolak oleh guru Drona sebagai muridnya tetapi tetap memerlukan figur guru Drona yang selalu hadir sekalipun hanya sebatas patung Drona yang terbuat dari tahah liat. Jika kita ilhami dan renungkan sejatinya guru harus hadir di tengah-tengah siswa jika kita berbicara Pendidikan sebagai taksu spirit rumah karakter. Pendidikan bagian proses memanusiakan manusia menjadi manusia yang manusiawi dan berbeda dengan seekor binatang tidak lagi memerlukan proses pembinatangan. Kambing dilahirkan secara otomatis menjadi kambing. Akan tetapi, manusia lahir jika di besarkan di lingkungan harimau otomatis perilakunya menjadi harimau karena naluri kebitangannya ditempa oleh lingkungnan binatang. Makanya guru  (guru rupaka dan guru pengajian)  memiliki tugas untuk mendidik. Oleh karena itu, tugas guru mendidik pikiran agar tidak liar dan membangun akhlak . mengajar jauh lebih mudah dibandingkan mendidik. Guru dalam mengajar tugasnya mentrasfer ilmu kemungkinannya bisa tergantikan oleh teknologi tetapi mendidik adalah penguasaan pengetahuan yang disinkronkan dengan etika moralitas keilmuan. Hanya Pendidikan yang menghasilkan peradaban ilmu sebagai kemasklahatan umat manusia sedangkan belajar tanpa bingkai Pendidikan menghasilkan kehancuran kemanusiaan karena ilmu. Misalnya senjata kimiawi, bom dan senjata biologis semua itu memicu kehancuran manusia jika tidak hadir rasa kemanusiaan. Guru adalah suatu kebutuhan  karena tidak ada  seorang pun akan berhasil dalam kemajuan  dan bisa melepaskan diri dari kegelapan tanpa guru.

Mediamorfosis ketiga  menjadikan siswa dan guru dihadapkan satu pilihan mengikuti   atau akan tertinggal dan tergilas oleh teknologi untuk selamanya. Belajar pada dunia mediamorfosis ketiga seakan-akan dunia pendidikan kehilangan roh ketika konsep belajar lebih ditekankan dibandingkan dengan konsep mendidik. Belajar di era mediamorfosis ketiga menghadirkan kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Siswa dan guru dapat mengakses pengetahuan di mana saja dan kapan saja. Namun, kebebasan ini tidak boleh mengaburkan pemahaman akan hakikat pendidikan sebagai proses mendidik, bukan hanya memperoleh informasi. Jika belajar lebih diutamakan niscaya pendidikan  tanpa roh bahkan ancaman rapuhnya peradaban karakter di depan mata. Jika pendidikan tanpa roh belajar hanya untuk bisa bukan untuk mengubah prilaku ke arah yang lebih baik. Jadi  belajar hanya untuk menjadi tahu dari tidak tahu.  Belajar hanya untuk memperoleh pengetahuan tanpa mengubah perilaku menuju kebaikan akan membuat pendidikan kehilangan substansi. Hakikat pendidikan sejati adalah mengubah prilaku manusia ke arah yang lebih baik, menjadikan mereka lebih manusiawi dalam menjaga harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam menghadapi mediamorfosis ketiga, pendidikan harus tetap memegang teguh hakikatnya sebagai agen perubahan perilaku. Mempertahankan keseimbangan antara belajar dan mendidik adalah kunci untuk mencegah kehilangan roh pendidikan.

Dasyatnya gelombang digital nyaris menghempaskan kita (baca: guru yang tidak melek teknologi)  bahkan terdampar di pantai begitu saja hanya karena tidak bisa berenang di lautan teknologi. Wajah guru akan menjadi kusam pada mirat teknologi tanpa bingkai digital bahkan nyaris wajah kita tidak terlihat pada cermin. Wajah guru mesti menjadi pajangan dan terlihat  indah pada cermin di kelas-kelas karakter seperti layaknya patung guru Drona yang dibuat Ekalawya sekalipun ditolak guru drona hanya karena bukan kalangan ningrat. Guru simbol karakter yang harus hadir dan sebagai sosok panutan yang digugu dan ditiru dan sebagai penghapus kegelapan. Belajar tanpa guru ibarat manusia tanpa jiwa maka penguasaan ilmu seperti hewan-hewan pintar.  guru ibarat napas yang selalu hadir dan ada setiap jiwa sebagai napas kehidupan. Belajar tanpa guru ibarat manusia tanpa jiwa. Proses pemanusiaan, yang tidak hanya terbatas pada pengetahuan, memerlukan kehadiran guru sebagai pemandu. Manusia membutuhkan pendidikan, bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk mengalami proses pemanusiaan yang membuatnya berbeda dengan binatang. Manusia butuh proses pemanusiaan dan akan berbeda dengan binatang. Binatang seperti kambing tidak butuh proses pembinatangan atau pengkambingan karena kambing dilahirkan pasti menjadi kambing sedangkan manusia butuh proses pemanusiaan agar menjadi manusia yang manusiawi melalui pendidikan bukan sebatas belajar.

Dalam kehidupan kita, guru bukan hanya sosok yang berada di bangku sekolah, tetapi juga manifestasi dari nilai-nilai budaya dan spiritualitas. Setiap tanggal 25 November, kita merayakan Hari Guru sebagai penghormatan kepada mereka yang mengajarkan kita tentang tahu dari tidak tahu, dan lebih dari sekadar pendidikan formal, guru juga menjadi panduan dalam membangun pondasi kehidupan. Kita dilahirkan dari guru yang disebut guru reka, yang melibatkan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, etika, dan norma-norma budaya. Kemudian, melalui sang guru, kita memperoleh pengetahuan formal yang membantu kita menjadi tahu tentang tahu. Keduanya adalah pilar penting dalam membentuk karakter dan kepribadian. Kita selalu harus ingat dan perlu dengan guru. Kalau mau kerja ingat sujud sembah kepada betara guru sane melinggih di merajan kemulan, saat membangun pondasi banggunan undagi juga harus membuat sepat siku-siku sebagai guru agar bangunan menjadi pas, jika kita belajar mewirama juga jangan melupakan guru laghu yang bermakna guru "berat"  laghu "ringan". Dan juga tidak kalah pentingnya jika mencari hari baik untuk memulai suatu pekerjaan yang disebut dewasa harus juga memperhatikan guru karena dewasa tanpa guru akan tidak baik. Guru memang harus selalu hadir di setiap napas kehidupan umat manusia. Selamat hari guru disemogakan selalu ada dan hadir di hati para siswa.

wartawan
I Komang Warsa
Category

70 Paskibraka Badung Intensif Berlatih, Siap Jalankan Tugas HUT ke-81 RI

balitribune.co.id | Mangupura - Sebanyak 70 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Badung terus mematangkan kesiapan untuk menjalankan tugas pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026 mendatang. Kamis, (13/8/26).

Baca Selengkapnya icon click

Lolos Seleksi Ketat, Ngurah Baja Jadi Calon Tunggal Ketua IOF Pengda Bali

balitribune.co.id | Mangupura - Seiring berakhirnya masa bakti kepengurusan 2022–2026, seluruh jajaran dan komunitas pecinta mobil 4x4 di Pulau Dewata menanti momen penting Musyawarah Daerah (Musda) Indonesia Off Road Federation (IOF) Pengda Bali. Agenda tersebut akan digelar pada Minggu (16/8/2026) di Hotel Larina, Badung.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Fakta Baru Kasus Pencuri Ayam Tewas di Tabanan: Masih Hidup Saat Diserahkan ke Polisi

balitribune.co.id I Tabanan - Tim kuasa hukum Krama Desa Adat Juwuk Legi, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, mengungkap fakta baru terkait tewasnya terduga pencuri ayam berinisial KD (asal Desa Sidetapa, Buleleng). Mereka menduga ada keterlibatan warga luar desa dalam kematian KD karena korban masih hidup saat diserahkan ke kepolisian.

Baca Selengkapnya icon click

Pelabuhan Gilimanuk Disterilisasi, Pedagang Asongan Beradaptasi

balitribune.co.id I Negara - Perubahan suasana terasa setelah sterilisasi penuh diberlakukan di kawasan Pelabuhan Gilimanuk. Akses keluar-masuk diperketat dan seluruh aktivitas di dalam kawasan pelabuhan ditata berdasarkan zona. Bagi para pedagang asongan yang selama ini menggantungkan penghasilan dari arus penumpang, perubahan tersebut membuat pola berjualan ikut bergeser.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

KUR BRI Perkuat Perajin Gerabah untuk Menjaga Tradisi Pengabenan Bali

balitribune.co.id | Mangupura - Di tengah gempuran produk modern, gerabah tradisional untuk kebutuhan upacara adat Bali masih bertahan. Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, usaha gerabah yang telah diwariskan turun-temurun sejak sekitar tahun 1970-an tetap hidup berkat ketekunan keluarga perajin dalam menjaga tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.

Baca Selengkapnya icon click

Bali Siap Jadi Pilot Project Reformasi Sistem Rujukan Kesehatan Nasional

balitribune.co.id I Denpasar - Pemerintah Provinsi Bali menyatakan kesiapan menjadi daerah percontohan atau pilot project reformasi sistem rujukan pelayanan kesehatan nasional berbasis kompetensi. Gagasan tersebut dinilai dapat memangkas panjangnya proses rujukan sekaligus mempercepat masyarakat memperoleh layanan medis sesuai kebutuhan dan tingkat kompetensi rumah sakit.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.