Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Warisan Tradisi ‘Subak Ubung’ Terancam Punah

Bali Tribune/ DEWI NINI- Simbolik Dewi Sri atau Dewi Kesuburan di Pura Ulunsuwi, Subak Ubung.


balitribune.co.id | Denpasar - Pesatnya pembangunan, membuat keberadaan subak di perkotaan semakin terancam. Profesi petani juga masih dipandang rendah dan semakin ditinggalkan. Di tengah berbagai persoalan, "Subak Ubung" berupaya agar warisan tradisi tersebut tetap terjaga.

Seperti diketahhi bahwa Subak adalah organisasi yang secara tradisional mengatur sistem pengairan sawah di Bali. Keberadaanya kini semakin terancam setelah diperkirakan 1.000 hektar sawah tergerus setiap tahun.Seperti halnya Subak Ubung. Menurut data Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, luas Subak Ubung tahun 1980-an tercatat seluas 380 hektar. Namun, saat ini tersisa hanya tersisa 5 hektar. Itu artinya terjadi penyusutan yang sangat signifikan karena lahan pertanian itu kemudian berubah fungsi menjadi lahan pemukiman penduduk dan industri.

Pekaseh (Ketua Subak) I Dewa Suma Putra (42) kepada Bali Tribune, Jumat (15/4) pekan lalu, membenarkan kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, minimnya kepedulian masyarakat membuat subak semakin ditinggalkan.

Oleh sebab itu, lanjut Dewa dengan semangat untuk melestarikan tradisi warisan, ia mengajak krama subak untuk membangkitkan seraya mengedukasi masyarakat tentang keberadaan subak di Ubung. Karena, Tri Hita Karana menjadi dasar bagi Dewa untuk memperbaiki "Subak Ubung".

"Kita perbaiki Puranya (parhyangan), perlahan kita tata subak (palemahan), dan tak lupa jaga hubungan antar krama subak (pawongan)," ujarnya.

Menurutnya, proyek ini sudah terencana sejak akhir 2020 dan dimulai pengerjaannya Mei 2021. Untuk pendanaan sendiri, kata Dewa, disokong BWS (Balai Wilayah Sungai) dan dari pemerintah pusat.

Upaya memperbaiki Subak Ubung dimulai dari penataan sawah, perbaikan akses pengairan, kemudian penyelesaian masalah di hulu. "Kami perbaiki hilir terlebih dahulu setelah siap baru garap di hulu, agar langsung bisa dialiri," kata Dewa menjelaskan.

Adapun pengerjaan di bagian hulu diantaranya pembersihan sekaligus pengerukan aliran air, perbaikan senderan sungai, penanganan pencemaran air, dan perbaikan Pura Ulunsuwi.
 
"Akar masalahnya terletak di hulu, termasuk juga renovasi Pura, atapnya sudah ada yang lepas, itu sudah 20 tahun baru diperbaiki,”Dewa menambahkan.

Aliran air yang tersumbat disebabkan oleh endapan sedimen lumpur. Setelah diperiksa endapan tersebut ternyata menutupi seluruh terowongan yang menyebabkan air tidak mengalir dengan baik.
Oleh sebab itu, untuk menangani itu, lanjut Dewa diperlukan alat berat. Krama (anggota) subak sebanyak 13 orang kewalahan dalam menanganinya.

"Sebulan dua kali saya ajak krama subak untuk bersihkan lumpur, tapi tak lama lumpur mengendap lagi, makanya perlu alat berat, sekalian diperdalam supaya aliran air benar-benar lancar," ujarnya.

Tebing sungai yang rawan longsor juga jadi pertimbangan, agar alat berat yang dikerahkan tidak terkendala. Oleh sebab itu, tambah Dewa diperlukan solusi dari Dinas PUPR dalam menangani hal tersebut.

Upaya pemulihan subak di Ubung, diakuinya tidaklah mudah. Mulai dari pengulangan penanganan masalah yang sama, kurangnya kepedulian masyarakat, hingga adanya pihak-pihak yang berlawanan pendapat.

Seperti salah satu usaha pengolahan ikan yang membuang limbahnya ke aliran subak. Itu menyebabkan air jadi bau menyengat dan diperkirakan mengandung gas.
"Ketika disulut api airnya menyala dan itu berbahaya bahkan bisa menimbulkan kebakaranbukan tanda yang baik,” ucapnya.

Beberapa pemilik usaha diakuinya sudah dimediasi, permasalahan limbah pun diberi solusi dengan menggunakan Eco Ensime. "Kami belikan mereka Eco Enzime, tapi pelaksanaanya dari mereka sendiri," terangnya.

Dari segala upaya yang dilakukan kelompok Subak Ubung, kini telah membuahkan hasil. Sawah sudah dialiri air dengan baik. Bahkan sudah mulai ditanami padi. Begitu juga pencemaran air yang dirasa sudah banyak berkurang. Namun Dewa mengaku masih ada beberapa rencana yang belum terealisasi.

Untuk kedepan, lanjut Dewa sebagian dari sawah akan dijadikan lokasi pengembangan tanaman hidroponik. Permasalahan di hulu juga belum teratasi 100%, beberapa perlu dikerjakan secara berkala, dan terkait senderan sungai, karena terkendala dana jadi belum bisa dikerjakan. "Semua kami kerjakan bertahap, apalagi kondisi pandemi dana agak sulit," terangnya.

Dewa juga berharap agar kedepan subak lebih diperhatikan. Tidak hanya pemerintah terkait, juga masyarakat, terutama kepedulian bersama-sama memelihara subak, karena apa yang dilakukan sekarang semata untuk kepentingan dimasa depan.

wartawan
HAN
Category

Bupati Pimpin HLM Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi Jelang Idul Adha, Galungan dan Kuningan

balitribune.co.id | Mangupura - Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa didampingi Sekda Badung IB. Surya Suamba memimpin rapat High Level Meeting (HLM) terkait upaya mewujudkan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi menjelang hari besar keagamaan Idul Adha, hari raya Galungan dan Kuningan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

'Bali Tourism Run 2026' Bakal Digelar di Jatiluwih Juni Mendatang

balitribune.co.id I Denpasar - Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DPD Bali siap menggelar ajang sport tourism (wisata olahraga) bergengsi bertajuk Bali Tourism Run 2026. Event lari ini akan dilaksanakan pada Minggu, 21 Juni 2026, dengan mengambil lokasi di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, yang telah mendunia sebagai situs warisan budaya.

 

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Bunda PAUD Denpasar Kawal Program Wajib Belajar 13 Tahun

balitribune.co.id I Denpasar - Bunda PAUD Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara, membuka resmi Kegiatan Penguatan Peran Bunda PAUD dalam Program Wajib Belajar 13 Tahun di Kantor Camat Denpasar Selatan, Selasa (19/5/2026). Langkah ini merupakan komitmen daerah untuk menjamin akses pendidikan anak usia dini lewat Program 1 Tahun Prasekolah.

Baca Selengkapnya icon click

TP. Pembina Posyandu Badung Luncurkan Gerakan "Badung Peduli Residu" di Semarak Posyandu 2026

balitribune.co.id | Mangupura - Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, resmi membuka Semarak Posyandu Kabupaten Badung Tahun 2026 di Banjar Kembangsari, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Selasa (19/5/2026). Acara ini dirangkaikan dengan peluncuran inovasi lingkungan hidup bertajuk "Gerakan Badung Peduli Residu" yang ditandai lewat pemukulan kulkul.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.