Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Bali, Mari Kita Bercermin

pemerhati
Bali Tribune / Drs I Nengah Suardhana MPd - Penulis merupakan pendidik yang juga pemerhati layanan publik

balitribune.co.id | Bali sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, pariwisata terus tumbuh. Hotel berdiri, vila berkembang, restoran dan kafe menjamur, investasi masuk, wisatawan datang silih berganti. Jalan-jalan semakin ramai dan nilai tanah semakin tinggi. Dari luar, Bali tampak semakin maju. Tetapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah Bali benar-benar semakin maju, di persimpangan jalan, atau justru semakin tertekan? 

Kita mungkin terlalu sering terlena, mudah dipuji, mudah dibuai janji investasi, lalu kebingungan ketika perubahan sudah berlangsung terlalu jauh. Kita bangga ketika investor datang. Kita senang ketika Bali disebut destinasi terbaik dunia. Kita merasa hebat ketika pembangunan hotel, vila, restoran dan kawasan komersial terus berkembang. Tetapi apakah kita pernah bertanya secara serius: Siapa yang paling banyak memperoleh manfaat? Siapa yang memiliki usaha? Siapa yang menguasai rantai pasok? Siapa yang memiliki tanah? Dan di mana posisi masyarakat Bali dalam seluruh mata rantai ekonomi tersebut? 

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menolak investasi. Bali tetap membutuhkan investasi. Bali juga membutuhkan wisatawan, teknologi, modal, pengetahuan dan jaringan internasional.

Namun investasi harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan justru membuat masyarakat lokal semakin tergantung kepada pekerjaan yang berada di bawah kendali orang lain. Inilah kegelisahan mendalam yang perlu kita renungkan.

Data BPS menunjukkan bahwa pasar kerja Bali masih didominasi pekerja dengan pendidikan relatif rendah. Pada Februari 2025: 28,75% pekerja Bali berpendidikan SD, Diploma I/II/III sekitar 5,73%. Universitas sekitar 13,19%. Pekerjaan itu tentu mulia. Tetapi persoalannya adalah: mengapa masyarakat Bali tidak lebih banyak berada pada posisi pemilik, pengelola, pengambil keputusan dan pencipta nilai?

Di sinilah kita harus bercermin. Apakah pendidikan kita sudah mempersiapkan generasi Bali network untuk bersaing di tingkat manajemen, teknologi, keuangan, digital business, hospitality management dan kewirausahaan global? Apakah anak-anak Bali sudah cukup menguasai bahasa asing, teknologi digital, kecerdasan buatan, pemasaran internasional dan kemampuan bisnis?

Kalau belum, jangan hanya menyalahkan orang luar. Kita harus memperbaiki diri. Karena dunia tidak akan berhenti datang ke Bali hanya karena kita belum siap. Bali bukan anti-orang luar Kita juga harus jujur. Bali sejak dahulu adalah masyarakat yang terbuka dan adaptif. Bali menerima pendatang, pedagang, seniman, akademisi, wisatawan dan berbagai bangsa. Keterbukaan adalah salah satu kekuatan Bali. Karena itu persoalannya bukan “orang luar datang ke Bali.” Persoalannya adalah apakah masyarakat Bali mempunyai kemampuan yang cukup untuk tetap menjadi pemain utama ketika dunia datang ke rumah kita? 

Orang luar yang datang dengan kompetensi, modal, kreativitas dan keberanian tentu memiliki hak untuk berusaha sesuai aturan. Tetapi masyarakat Bali juga harus mempunyai keberanian yang sama. Jangan sampai kita hanya menjadi pekerja sementara orang lain menjadi pemilik. Jangan sampai kita hanya menyewakan tanah, lalu beberapa tahun kemudian tidak lagi mempunyai aset produktif. Jangan sampai kita menjual ruang hidup hari ini untuk mendapatkan keuntungan sesaat, kemudian anak cucu kita harus membeli kembali kehidupan mereka dengan harga yang jauh lebih mahal.

Bali Tidak Boleh Kalah di Rumah Sendiri 

Kemacetan di jalan raya adalah salah satu tanda bahwa pertumbuhan tidak selalu berarti kemajuan. Ketika kendaraan semakin banyak tetapi jalan tidak bertambah secara proporsional, ketika kendaraan dari luar daerah dan layanan transportasi online memenuhi ruang jalan, ketika kawasan wisata semakin padat, maka yang hilang bukan hanya waktu. Yang hilang adalah kenyamanan hidup masyarakat dan wisatawan yang berlibur.

Bali tidak boleh hanya menghitung berapa juta wisatawan yang datang. Bali harus mulai menghitung: berapa lama masyarakat terjebak di jalan, berapa banyak sampah yang dihasilkan, berapa banyak air yang digunakan, berapa banyak sawah yang hilang, berapa banyak ruang publik yang menyempit, dan berapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di masyarakat Bali. Itulah indikator pembangunan yang lebih jujur.

Jangan Terlalu Senang Dipuji 

Ada satu hal yang mungkin paling perlu kita introspeksi. Kita terlalu senang ketika orang luar memuji Bali. “Bali is paradise.” “Bali is beautiful.” “Bali is the best destination.” Kita tersenyum bangga. Tetapi mungkin sudah waktunya kita bertanya: Apakah Bali masih menjadi surga bagi masyarakat Bali sendiri? 

Surga bukan hanya hotel berbintang lima. Surga adalah ketika seorang petani masih mampu mempertahankan sawahnya. Surga adalah ketika anak muda Bali mempunyai pekerjaan yang layak di tanah kelahirannya. Surga adalah ketika keluarga Bali mampu memiliki rumah. Surga adalah ketika orang tua tidak takut anaknya kalah bersaing. Surga adalah ketika masyarakat berkendara tanpa terjebak kemacetan, menghirup udara yang bersih dan menikmati lingkungan yang sehat.

Dan yang paling penting: surga adalah ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari masa depan Bali, bukan sekadar penonton. Bali Harus Berhenti Bertanya “Berapa banyak?” dan Mulai bertanya “Pariwisata Bali untuk siapa?” Industri pariwisata Bali tidak harus dihentikan. Yang harus dihentikan adalah cara berpikir bahwa semakin banyak wisatawan, semakin banyak bangunan, semakin banyak investasi, berarti  masyarakat Bali sejahtera? Belum tentu.

Akhirnya, Kita Harus Bertanya kepada Diri Sendiri 

Mungkin inilah saatnya kita bercermin. Bukan untuk membenci orang luar. Bukan untuk menolak investasi. Bukan untuk menutup Bali dari investor luar. Tetapi untuk bertanya dengan jujur: Apakah kita masih menjadi tuan rumah di rumah sendiri? Jangan sampai suatu hari nanti Bali tetap terkenal di seluruh dunia, tetapi orang Bali sendiri semakin sulit mencari pekerjaan yang layak, semakin sulit membeli tanah, semakin sulit mendapatkan rumah, semakin lama terjebak di jalan, dan semakin jauh dari ruang hidup yang dahulu diwariskan leluhur.

Bali jangan sampai menjadi lelucon. Kita tidak boleh bangga hanya karena investor datang ke Bali. Kita harus memastikan bahwa ketika mereka datang, orang Bali tetap berdiri tegak sebagai pemilik masa depan Bali. Karena itu, sebelum menyalahkan investor, pendatang, wisatawan, kendaraan dari luar daerah, atau siapa pun yang datang ke Bali, marilah kita bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri: “Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga Bali?”  

Masalah terbesar Bali adalah ketika kita sendiri terlalu lama diam, koh ngomong, terlalu mudah percaya, terlalu senang dipuji, dan terlambat menyadari bahwa rumah kita sedang berubah, semestinya pola pikir (mindset) kita juga harus berubah.

wartawan
RED
Category
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Desa Taro Jalani Penilaian Desa Antikorupsi 2026, Tim Evaluasi Lima Komponen

balitribune.co.id | Gianyar - Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, mengikuti penilaian Percontohan Desa Antikorupsi Tahun 2026 oleh Tim Penilai Provinsi Bali di Kantor Desa Taro, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program perluasan Percontohan Desa Antikorupsi di Kabupaten Gianyar untuk mendorong tata kelola pemerintahan desa yang bersih, transparan, dan akuntabel.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Kapolres Gianyar Motivasi Peserta Program Peduli Pengangguran

balitribune.co.id | Gianyar - Polres Gianyar mendorong peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui Program Polisi Peduli Pengangguran (Poliran). Salah satu upayanya dilakukan dengan memberikan motivasi kepada 16 peserta pelatihan barista di UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) AI Kabupaten Gianyar, Kamis (22/10/2026).

Baca Selengkapnya icon click

Puncak Maligia Punggel di Pantai Mertasari Diikuti 535 Puspa

balitribune.co.id | Denpasar - Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri puncak Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel di Pantai Mertasari, Desa Adat Intaran, Sanur, Rabu (21/10/2026). Upacara massal yang diselenggarakan oleh Griya Karang Tampak Gangsul, Griya Timbul Intaran, dan Griya Tambak Sari Intaran ini berlangsung khidmat dengan diikuti 535 puspa.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.