Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Ada yang Berusaha Mencabut Akar Budaya Bali

MDA
Bali Tribune / I Komang Warsa - Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang dan Guru ajeg Bali

balitribune.co.id | Pulau Bali memang memiliki tradisi adat-budaya unik tetapi bersifat universal holistik dalam napas kehidupan umat manusia terkhusus di Bali. Keunikan kehidupan masyarakat Hindu  Bali bisa dilihat dan dirasakan dalam menjalankan tradisi adat-budaya yang tidak bisa lepas begitu saja dengan ritual keagamaan Hindu.

Pertanyaannya, kenapa tradisi adat dan budaya masih kuat di Bali sampai saat ini padahal infiltrasi dan pengaruh budaya luar begitu massif. Jawabannya sederhana. Karena tradisi adat-budaya terkoneksi kuat dengan ajaran Hindu dresta Bali. Makanya orang kadang sering mencibir mana tradisi adat, mana tradisi budaya, dan juga mana agama. Adat, budaya dan agama untuk di Bali memang beririsan dan dimetaforkan seperti telur ada kulit, putih, dan kuning telur.  Kulit dan putih telur adalah adat-budaya dan kuning telur adalah agamanya sebagai napas kehidupan nak Bali.

Jika satu dari ketiganya tidak berfungsi atau diabaikan maka napas kehidupan orang Bali akan tergannggu apalagi ada yang ingin mencabur akar adat-budayanya pasti terjadi pergolakan bahkan bisa dianggap intoleransi.  Bali miliki nama Tuhan asli Bali Purba, Bali memiliki cara tersendiri dalam mengiplementasikan ajaran agamanya, Bali memiliki cara mengharmoniskan alam,  dan jangan dipaksa-paksa disamakan dengan konsep ajaran lain sekalipun sama-sama Hindu. Karena Bali memiliki keunikan dan tradisi kuat dari leluhurnya. Bali punya nama dan menyebut Tuhan dengan Ida Sang Hyang Widhi bukan berarti Tuhan lokal, ada pemujaan kesuburan yang disebut "celak Kontong Lugeng Luih yang merupakan simbol kemaluan laki-laki dan wanita dalam adegan sanggama sebagai personifikasi siwa sebagai mahapencipta, yang sekarang mulai digeser dengan konsep lingga yoni.

Bisa kita menelisik ke Bali purba seperti  Datonta yang juga disebut Ratu Sakti Pancering Jagat sebagai dewa tertinggi kepercayaan masyarakat Trunyan. Kita meyakini tradisi yang kuat baik sekala dan niskala. Kita memunyai tradisi adat-budaya Gebug Seraya yang diyakini oleh desa adat setempat. Di sisi lain yang mendunia, Bali punya tradisi nyepi yang tidak ada di tempat lain. Tradisi adat ini jelas merupakan napas keyakinan nak Bali dalam menghargai bhuana agung dan alit (semesta alam dan semesta diri). Akan tetapi, mesti direnungkan secara jernih bahwa nyepi bukan hanya urusan agama melainkan itu adalah urusan tradisi adat di Bali yang terkoneksi dengan agama Hindu yang dilabeli Hindu dresta Bali.

Makanya siapapun yang tinggal di wewidangan desa adat di Bali yang terdiri dari 1500 desa adat, wajib hukumnya tunduk dan patuh dengan dresta adat di Bali. Salah satunya nyepi karena nyepi adalah urusan adat bukan semata urusan agama. Ingat urusan adat-budaya untuk di Bali selalu terkoneksi dengan urusan agama Hindu.  Bukan berarti menyelam dalam lautan tradisi adat-budaya yang kuat adalah sebuah kekolotan atau kemunduran. Akan  tetapi, menyelam dalam lautan tradisi sebagai bentuk menghormati ajaran leluhur sebagai bentuk pemupukan tradisi adat-budaya  jangan sampai akar tradisi tercabut dari akarnya hanya karena kita agar dicap modern dalam berkeyakinan sampai mabuk agama.

Setakat ini, Bali sedang menghadapi perubahan zaman dan akulturasi budaya yang tidak bisa kita hindari. Keterbukaan masyarakat Bali menjadi  ancaman yang serius dan perlahan bisa mencabut akar budaya Bali dari tanahnya sendiri jika masyarakat Bali tidak sadar (metangi) dalam mengisi ulang kebalian anak Bali . Akar yang dimaksud bukan sekadar simbol budaya, simbol adat  melainkan nilai-nilai hidup yang diwariskan oleh leluhur melalui spirit keyakinan masyarakat Bali. Keseimbangan semesta alam dan semesta diri  (Bhuana agung dan bhuana alit) yang selama ini menjadi roh kehidupan masyarakat Bali dalam konsep ajaran Tri Hita Karana yang diimplementasikan dalam kehidupan tradisi adat-budaya dan agama harus betul-betul dijaga seperti halnya perayaan hari raya nyepi.

Upaya mencabut akar Bali sering kali tidak datang dalam bentuk penolakan langsung terhadap budaya. Ia hadir secara halus melalui eksploitasi pariwisata yang berlebihan, alih fungsi lahan secara masif, komersialisasi upacara,adat-budaya, hingga perubahan pola pikir masyarakat yang mulai memandang tradisi adat-budaya agama sebagai beban, bukan sebagai sumber kekuatan. Tanah-tanah adat berubah menjadi komoditas, ruang sakral berubah menjadi ruang bisnis, dan generasi muda perlahan dijauhkan dari akar pengetahuan adat-budayanya sendiri. Dan terkadang program pemerintah daerah yang membentengi adat-budaya sering mendapat pem-bulyy-an, ironis. Menjaga adat-budaya Bali harus komitmen tanpa memandang bendera politik dan instrumen pemerintah daerah dalam membentengi tradisi adaat-budaya  harus melibatkan keputusan politik dan dikawal dan dijalankan dengan pikiran jernih.

Pembangunan yang begitu pesat sebagai bentuk modernisasi terkadang kebablasan sehingga berdampak terhadap alam seperti banyak banjir karena batas alam seperti sungai menjadi sempit. Ketika pembangunan tidak lagi menghormati nilai ajaran Tri Hita Karana, maka sesungguhnya yang sedang terjadi adalah pengikisan identitas Bali itu sendiri. Pengingkaran ajaran Tri Hita Karana adalah bentuk ancaman untuk Bali. Pengingkaran hubungan manusia dengan manusia berimplikasi terjadi keributan antar manusia. Pengingkaran hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi berarti hilangnya keyakinan nak Bali terhadap ajaran leluhur.

Pengingkaran hubungan manusia dengan alam, terjadinya bencana alam karena tidak bisa mengharmoniskan semesta alam. Jika Bali diekploitasi secara massif Bali akan berisiko kehilangan taksu karena dalih modernisasi secara holistik. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka yang tersisa bukan lagi Bali yang hidup dengan adat-budaya dan spiritualitasnya, melainkan Bali yang tercabut dari akar adat-budayanya. Akhirnya budaya Bali menjadi dekorasi, tradisi adat menjadi tontonan tanpa taksu, dan karma Bali menjadi penonton di tanahnya sendiri. Sejarah Majapahit  terulang “Sandyakaling Majapahit” dan Bali tidak boleh menjadi ‘Sandyakaling Bali”.

Oleh karena itu, kesadaran untuk menjaga akar Bali harus menjadi gerakan bersama “mengisi ulang ke-Bali-an anak Bali harus diisi terus melalui pendidikan adat-budaya seperti program pemerintah Bali melalui bulan Bahasa Bali, muatan lokal di sekolah dengan materi-materi adat dan budaya untuk sekolah-sekolah yang ada di Bali. Tradisi adat-Budaya harus diperkenalkan ke sekolah-sekolah melalui program MDA dan Dinas PMA agar anak-anak sekolah mulai metangi dan mengerti tentang adat-budaya Bali. Bukan hanya melestarikan bentuk budaya, tetapi mempertahankan nilai-nilai yang menjadi jiwanya. Tanpa itu, Bali mungkin tetap berdiri secara geografis, tetapi kehilangan  roh dan taksu Balinya sebagai peradaban yang diwariskan leluhur. Salam harmoni desa adat. 

wartawan
RED
Category

Padukan Seni dan Kelestarian Alam, Pemkab Badung dan PPBI Sukses Gelar Kontes Bonsai Skala Nasional

balitribune.co.id | Mangupura - Kontes dan Pameran Nasional Pesona Bonsai dan Suiseki Badung 2026 menjadi langkah nyata dalam memadukan pelestarian lingkungan, pengembangan seni, sekaligus penguatan daya tarik pariwisata daerah.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Tiga Pulau Satu Semangat, Puluhan Ribu Bikers Menuju Honda Bikers Day 2026

balitribune.co.id | Jakarta – Semangat persaudaraan komunitas bikers sepeda motor Honda mewarnai rangkaian Honda Bikers Day (HBD) 2026 di tiga pulau besar Indonesia. Ribuan bikers dari berbagai komunitas dan daerah menghadiri gelaran HBD di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang September hingga Oktober.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Bali Hadirkan Layanan '1 Dalam Genggaman' Lewat Motorku X di DBL Bali

balitribune.co.id | Denpasar - Astra Motor Bali kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemudahan gaya hidup digital generasi muda, khususnya pecinta olahraga di Pulau Dewata. Hadir di tengah kemeriahan kompetisi bola basket terbesar di kalangan pelajar, Astra Motor Bali membawa solusi kepemilikan dan perawatan sepeda motor Honda melalui aplikasi digital unggulannya, Motorku X, dengan tagline "1 Layanan dalam 1 Genggaman".

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Bappeda Badung Gelar Rakor Percepatan Penanganan Stunting Tahun 2026, Perkuat Intervensi dari Hulu

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penanganan Stunting Kabupaten Badung Tahun 2026.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Affiliate Game Penghasil Saldo DANA Tanpa Modal: Panduan Pemula (2026)

balitribune.co.id - Affiliate game penghasil saldo DANA tanpa modal: promosikan game gratis lewat konten, dibayar per pemain, tarik ke DANA, GoPay, OVO. Langkah, rencana 30 hari. Cari "game penghasil saldo DANA" dan kamu akan menemukan puluhan daftar aplikasi yang menjanjikan uang hanya dengan bermain, sering dengan syarat pencairan yang tidak jelas.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Suzuki Fronx Journey, UIB Ajak Konsumen dan Media Jelajahi Denpasar–Kintamani

balitribune.co.id | Denpasar - Guna menghadirkan pengalaman berkendara yang berkesan sekaligus mempererat hubungan dengan konsumen, PT Suzuki United Indobali (UIB) selaku main dealer Suzuki roda empat wilayah Bali menggelar kegiatan Suzuki Fronx Journey (SFJ) pada Kamis (22/10/2026).

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.