Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Citra Pemimpin

Bali Tribune / Dr Tjahjono Widijanto - penyair, esais dan pendidik di SMA di Ngawi, Jawa Timur. Alumnus Program Doktoral Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surakarta (UNS).

balitribune.co.id | Pada 508 SM, lebih dari dua ribu lima ratus tahun lampau, seorang pemimpin Yunani bernama Kleistenes mengubah bentuk pemerintahan Kota Athena. Sebuah majelis dipilih bersama secara berkala, lahirlah demokratia.

Sejak itu, rakyat, masyarakat, dan setiap orang diharapkan dapat bertahan memilih pemimpin, sesuai dengan citra dan idealnya masing-masing, sekaligus dapat pula mengajukan dirinya untuk dipilih menjadi pemimpin.

Demokrasi membuka ruang selebar-lebarnya bagi setiap individu untuk memilih dan dipilih sebagai pemimpin.

Memilih dan dipilih, mengkritik dan dikritik, itulah spirit dari gegap gempita "makhluk" bernama demokrasi.

Dalam demokrasi, kita semua, dalam periode waktu tertentu dapat larut dalam gegap-gempita, bahkan, kadang-kadang mengekspresikan rasa gembira dengan membuat persiapan memilih seorang pemimpin yang diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik di masa depan.

Partai-partai politik dengan berbagai cara menawarkan calon-calon kepada masyarakat. Calon-calon pemimpin, terlebih lagi menjelang pemilu, ibarat ayam jago, makin sering dielus-elus dan dilemparkan di tengah gelanggang.

Politik ibarat pasar raksasa, masyarakat sebagai konsumen, dan bakal pemimpin merupakan komoditas yang diupayakan laku di pasaran.

Seorang wakil rakyat di legislatif, seorang presiden, menteri, gubernur, bupati, bahkan ketua RT, pada hakikatnya adalah pemimpin, dan menjadi pemimpin sesungguhnya adalah kebutuhan yang wajar bagi setiap manusia, selain kebutuhan ekonomis-material.

Obsesi menjadi pemimpin telah menjadi bahan perenungan berabad-abad lampau, dan meskipun obsesi menjadi pemimpin adalah hak setiap orang, namun pada dasarnya obsesi itu harus dilandasi dengan takaran kemampuan.

Tersebutlah dalam kitab Ramayana pada episode Aranya Kanda, diceritakan seorang ibu bernama Keikayi memimpikan anaknya yang bernama Barata menjadi seorang raja besar. Untuk mewujudkan harapannya, ia menghasut raja yang juga suaminya, untuk mengusir Rama, sang putera mahkota yang juga kakak lain ibu dari Barata.

Rama memang akhirnya terusir dan gagal menjadi raja, tapi Barata menunjukkan kebesaran hatinya bahwa ia merasa tidak memiliki kecakapan memimpin melebihi Rama, maka ia menolak menjadi raja dan mencari Rama di hutan.

Pada titik ini Barata secara formal gagal menjadi pemimpin tertinggi, tetapi pada hakikatnya ia memiliki kebesaran seorang pemimpin sejati yang menyadari ketakmampuannya dan ikhlas memberikan jabatan pemimpin kepada orang lain yang dianggapnya lebih mampu dan berkualitas.

Demikian pula dalam kisah Mahabarata, yang menjadi pemimpin sejati sebenarnya bukanlah Pandawa, tetapi Bisma, kakek Pandawa dan Kurawa. Bisma-lah yang semenjak awal dan akhir hidupnya mengorbankan haknya menjadi raja, mengorbankan haknya untuk beristeri dan berkeluarga, bahkan mengorbankan perasaan, raga, dan jiwanya ketika harus memihak dan berperang, yang ia tahu tak dapat dimenangkannya.

Tokoh Bisma dalam cerita tersebut secara implisit mengajarkan kepada kita bahwa seseorang, siapapun dia, dapat menjadi pemimpin tanpa harus memakai jubah pemimpin.

Dalam konteks Pilkada 2024, tokoh Barata mengajarkan kepada kita bagaimana seseorang tidak harus memaksakan kehendak untuk terpilih menjadi pemimpin. Di sinilah pernyataan "siap menang dan siap kalah" menemukan ladangnya.

Pemimpin selalu bergandengan dengan kekuasaan, dan bahwa kekuasaan yang sebenarnya bukan merupakan suatu kemutlakan, seringkali dilupakan seorang pemimpin, ketika ia menjadi pimpinan.

Ketakutan kehilangan kekuasaan seringkali membuat pemimpin enggan berhenti memimpin, maka kekuasaan akan diikuti dengan penaklukan untuk melanggengkan "kenikmatan" menjadi pemimpin.

Akibatnya, pemimpin yang pada mulanya dipilih, lambat-laun seringkali bertindak reseptif pada pemilih-pemilihnya dulu. Maka hadirlah utopia, berupa mitos-mitos tentang pemimpin yang adil dan zaman yang gemilang, pemimpin menjadi barang langka dan "keramat" yang dicitrakan teramat ideal pada benak pemilihnya.

Utopia atas datangnya seorang pemimpin yang dicitrakan begitu ideal dan membawa harapan indah, pada realitasnya seringkali berujung pada kekecewaan dan ketakpuasan pada para pemilihnya.

Dalam sebuah naskah drama karangan Ionesco, berjudul "The Leader", diceritakan masyarakat di sebuah negeri yang menanti-nanti datangnya seorang pemimpin agung. Pemimpin yang bakal muncul tersebut telah disebarluaskan sebagai pemimpin yang adil, agung, ideal, ramah, gagah, dan tampan.

Setelah suntuk menanti, muncullah pemimpin itu, tragis dan ironis, ternyata sang pemimpin tidak berkepala.

Tentu Ionesco tidak sengaja menyindir kita, namun sejarah bangsa ini sedikit banyak punya kemiripan dengan naskah drama tersebut.

Ketika era presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati muncul, pada mulanya mereka dicitrakan sebagai sosok yang begitu ideal, tetapi seiring perjalanan waktu, lama-lama dianggap tidak seideal yang dulu dicitrakan. Sejatinya memang tidak ada manusia yang sempurna.

Hal ini, sebenarnya cukup mengajarkan pada rakyat untuk tidak terlampau silau memandang dan menyikapi fenomena kemunculan seorang tokoh calon pemimpin. Masyarakat diingatkan untuk tidak terlampau melambungkan harapan dalam mencitrakan sosok pemimpin, sehingga nantinya tidak terlalu kecewa dan frustasi dengan pemimpin yang realitasnya tidak seideal dengan apa yang dicitrakan sebelumnya.

Itulah risiko demokrasi. Dalam demokrasi, seseorang harus legawa dan siap untuk kecewa (dikecewakan), siap menang, tapi juga sedia menerima kekalahan. Dalam demokrasi seseorang bisa kepincut karena canggihnya strategi kehumasan (PR) berupa kampanye yang digunakan sebagai mesin pendulang simpati dan empati calon pemilih.

Demokrasi sebagai hasil produk akal manusia tetap menyimpan paradoksal, ibarat obat yang baik untuk diminum, tapi tetap punya efek samping.

Dalam alam demokrasi, setiap orang harus pula belajar menerima kekalahan dan kenyataan. Rela menikmati racun dan madu demokrasi, semanis dan sepahit apapun juga.

Sikapilah demokrasi, termasuk pilkada, ini dengan santai dan tetap menjaga perseduluran (persaudaraan) sebagai kemuliaan hidup.

wartawan
Dr Tjahjono Widijanto
Category

BBM Langka, Sekolah di Badung Belajar Daring Mulai 15 Oktober

balitribune.co.id | Mangupura - Pemerintah Kabupaten Badung memutuskan menerapkan pembelajaran secara daring bagi seluruh satuan pendidikan mulai Kamis (15/10/2026), menyusul kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada mobilitas guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

Baca Selengkapnya icon click

Wawali Arya Wibawa Hadiri Rangkaian Pengratep Karya Mamungkah di Pura Gede Batur Sari, Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori Desa Adat Tonja

balitribune.co.id | Denpasar - Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menghadiri Pengratep Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah di Pura Gede Batur Sari, Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori, Desa Adat Tonja, bertepatan dengan Rahina Buda Cemeng Klawu, Rabu (14/10/2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Astra Motor Bali Bagikan Tips Hemat BBM dan Tetap #Cari_Aman

balitribune.co.id | Denpasar - Di tengah kondisi keterbatasan BBM dan antrean di sejumlah SPBU di Bali, Astra Motor Bali membagikan tips berkendara untuk membantu masyarakat menjaga mobilitas sehari-hari. Melalui kampanye #Cari_Aman, masyarakat diajak merencanakan perjalanan dan menerapkan gaya berkendara yang lebih efisien dengan tetap mengutamakan keselamatan.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Antisipasi Kelangkaan BBM, Disdikpora Denpasar Terapkan Pembelajaran Daring 15-17 Oktober

balitribune.co.id | Denpasar - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar menginstruksikan seluruh satuan pendidikan di wilayahnya untuk menerapkan pembelajaran secara dalam jaringan (daring) selama tiga hari, terhitung mulai 15 hingga 17 Oktober 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikhawatirkan mengganggu mobilitas siswa dan tenaga pendidik.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Pasokan BBM Mulai Pulih, BI Bali Pastikan Dampak ke Inflasi dan Ekonomi Terbatas

balitribune.co.id | Denpasar - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengapresiasi langkah cepat Pertamina dan Pemerintah Daerah dalam mempercepat pemulihan pasokan serta distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali. Sinergi antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat guna memastikan kelancaran aktivitas ekonomi serta stabilitas harga barang dan jasa.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Polda Bali Kerahkan Personel Amankan Antrean BBM

balitribune.co.id | Denpasar - Merespons situasi antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU di wilayah Bali, Polda Bali bersama jajaran Polres dan Polsek menerjunkan ratusan personel mengamankan dan mengatur lalulintas di lapangan, Selasa (13/10/2026). Di lapangan personel berkoordinasi dengan pengelola SPBU dan instansi terkait.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.