balitribune.co.id | Tabanan - Sejumlah warga di Kabupaten Tabanan kewalahan hingga harus mengular dalam antrean panjang di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite, Minggu (11/10/2026).
Kelangkaan pasokan bensin subsidi tersebut memicu antrean kendaraan mengular hingga ke bahu jalan raya di kawasan Kecamatan Tabanan dan Kediri. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean panjang kendaraan bermotor dan mobil masih berlangsung hingga Minggu sore.
Pemandangan mengularnya antrean sampai memadati jalan raya salah satunya terlihat di SPBU yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Sanggulan. Kondisi pasokan Pertalite yang kosong membuat warga pengendara kebingungan mencari bahan bakar. Sejumlah warga bahkan rela menyisir beberapa lokasi SPBU sejak pagi hari demi mengisi tangki kendaraan mereka.
I Wayan Ega Antara, seorang warga dari Banjar Pasekan Belodan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, mengaku telah berburu Pertalite sejak pukul 10.30 Wita. Ia sempat mendatangi SPBU di kawasan Pesiapan, Grogak, Sanggulan di Bypass Ir. Soekarno, Desa Banjar Anyar Kecamatan Kediri, hingga SPBU di Jalan Gatot Subroto di desa yang sama.
Upaya Ega menyisir empat SPBU tersebut tidak membuahkan hasil karena seluruh pasokan Pertalite dinyatakan habis. Dari lokasi yang ia datangi, pengelola SPBU hanya menyediakan BBM jenis Solar. “Rencananya mobil mau dipakai ke Karangasem antar keperluan upacara pernikahan adik sepupu. Tapi sudah empat SPBU saya datangi, (Pertalite) kosong,” ujar Ega.
Ega menceritakan, usahanya mencari bensin juga dilakukan oleh pamannya yang sudah berangkat lebih awal sejak pukul 09.00 Wita. Keduanya membutuhkan BBM untuk mendukung kelancaran kegiatan keluarga yang hendak berangkat ke Karangasem pada Senin (12/10).
Di sisi lain, seluruh keluarga perempuan di rumahnya sedang menyiapkan sarana banten dan perlengkapan upacara adat lainnya secara bersama-sama. “Rencana (mobil) mau dipakai besok. Kami juga lagi siapkan banten dan (sarana upacara) lainnya disiapkan semua keluarga kami yang perempuan. Jadi biar sama-sama jalan, kami cari BBM,” terangnya.
Lantaran tidak menemukan ketersediaan Pertalite di lokasi terakhir yang didatangi, Ega terpaksa memutuskan kembali ke rumah dengan rasa khawatir. “Ini yang terakhir di Gatot Subroto. Karena tidak ada, ya balik pulang,” pungkas Ega.