Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Krisis Pangan Sudah Mulai Menjadi Hantu

Bali Tribune

Wayan Windia

Guru Besar pada Fak. Pertanian Unud, dan Ketua Stispol Wira Bhakti

balitribune.co.id | SEJARAH pangan dunia, selalu ditandai dengan pesimisme. Hanya pada tahun 1965, dunia sempat opitimis, karena India sukses melaksanakan revolusi hijau. Setelah itu, nyaris dunia kita selalu dibayangi dengan permasalahan pangan. Kenapa? Karena negara maju (termasuk Uni Soviet) terlalu banyak makan biji-bijian (serealea), melalui kebiasaan yang terlalu banyak makan daging, susu, telur, mentega, dll. Negara maju, lima kali lipat lebih banyak makan biji-bijian dibandingkan dengan penduduk negara miskin. 

FAO sudah agak lama memberi peringatan tentang kecendrungan kenaikan harga pangan. Hal ini diperparah, ketika munculnya perang Rusia-Ukraina. Sementara itu, hampir di seluruh dunia, anak-anak muda tidak tertarik terjun ke dunia pertanian. Jepang memerlukan jutaan tenaga kerja muda (tamatan SLTA), untuk bisa membantu bekerja di sektor pertanian. “Petani di Jepang sudah tua-tua sekali. Perlu bantuan anak-anak muda dari Indonesia” demikian dikemukakan Dr. Naori Miyazawa (Universitas Nagoya).

Apa akibatnya? Dunia menjadi pesimis tentang ketersediaan pangan. Jokowi menyebutkan sebanyak 22 negara di dunia sudah menyatakan stop ekspor pangan. Karena khawatir dengan situasi pangan dunia, dan berjaga-jaga untuk kebutuhan pangan di dalam negeri. Bila pangan sampai kritis, maka pemerintahan bisa jatuh.

Karena sektor pertanian tidak menarik, maka petani ramai-ramai menjual sawahnya. Data di Pemda Bali mencatat, bahwa sebelum Covid, rata-rata sawah di Bali terkonversi lebih dari 2000 ha/tahun. Mungkin di sawah itu, tidak segera didirikan bangunan. Banyak yang dijadikan bahan dagangan dan ajang spekulasi. Sehingga banyak yang berkembang menjadi lahan tidur.

Wacana untuk memanfaatkan lahan tidur untuk diolah agar lebih bermanfaat, telah lama berkembang. Wacana itu berkembang di ruang-ruang sidang DPR dan juga di berbagai seminar. Tetapi karena concern pemerintah tidak pada sektor pertanian, maka wacana yang hebat itu, segera menguap ke atas langit. Harus ada aturan, bahwa lahan yang tidur selama lebih dari 5 tahun, bisa dimanfaatkan oleh publik untuk pertanian selama 25 tahun.

Kini, Presiden Jokowi telah memberikan statemen, agar lahan tidur harus dimanfaatkan. Hal ini disebabkan, karena ada kekhawatiran baru di kalangan pemerintah, tentang permasalahan pangan dan energi. Contohnya sudah mulai muncul. Yakni di Sri Lanka. Negara itu hampir bangkrut, karena permasalahan energi dan pangan. Kalau tidak di antisipasi, maka efek domino akan bisa terjadi.

Apa yang dipikirkan Jokowi adalah pikiran yang strategis. Masalahnya, apakah dilanjutkan dengan adanya program untuk memanfaatkan lahan kosong itu. Rasanya lebih efisien dan efektif memanfaatkan lahan tidur untuk pertanian, dibandingkan dengan membuat proyek rice estate (di Kalimantan). Karena agroklimat di kawasan lahan tidur itu sudah sesuai kebutuhan, sistem irigasinya masih tersedia, penduduk sekitarnya masih bermental agraris, dan pasarnya sudah ada.

Program nyata yang tercermin dalam APBN dan APBD untuk meng-aktifkan lahan tidur sangat perlu realisasinya. Kalau tidak ada dalam politik anggaran, anjuran Jokowi itu akan hilang bagaikan embun di pagi hari. Tidak ada sektor ekonomi yang berkembang, tanpa ada program yang didukung anggaran di APBN/APBD.

Sementara itu, Pemda juga harus hati-hati mengorbankan sawah. Jalan tol yang akan dibangun antara Gilimanuk-Mengwi mengorbankan lahan sawah hampir 500 ha (sesuai catatan Walhi Bali). Kalau hal itu betul-betul terjadi, maka akan sangat membahayakan ketahanan dan kedaulatan pangan kita di Bali dan Indonesia pada umumnya. Saat ini, Bali sangat tergantung dari produk pertanian dari luar Bali. Untuk komiditas cabai saja masih didatangkan dari Jatim.

Hal itu memang bisa terjadi. Karena sawah di Bali tidak cukup untuk menunjang ketahanan pangan. Juga Pemda Bali tidak concern pada pertanian.  Data Bappenas menunjukkan bahwa sejak tahun 2019, lahan sawah di Bali sudah kekurangan sekitar 10.000 ha, untuk menunjang ketahanan pangannya. Apalagi akan dihantan lagi dengan jalan tol. Sangat berbahaya bagi ketahanan pangan Bali. Untuk jalan pintas sementara, pemanfaatan lahan tidur memang sengat stratagis. Pemda harus mendukung wacana Jokowi ini, kalau tidak mau dimakan oleh hantu krisis pangan.

 

wartawan
WW
Category

BNNK Gianyar Obok-Obok Kafe Remang-Remang, 111 Orang Jalani Tes Urine

balitribune.co.id | Gianyar - Tempat hiburan malam yang sering disebuat Kafe Remang-remang kembali diobok-obok. Kali ini Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gianyar gandeng aparat gabungan. Seratus lebih pengunjung, pelayan hingga pengelola tempat tersebut diwajibkan jalani test urine. Hasilnya, seorang diyatakan positif mengandung metamfetamin.

Baca Selengkapnya icon click

Patroli Diperketat, Keamanan Pelabuhan Celukan Bawang Jadi Perhatian

balitribune.co.id | Singaraja - Aktivitas di kawasan Pelabuhan Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, terus mendapat pengawasan kepolisian. Tingginya mobilitas masyarakat, pekerja, awak kapal, hingga pengguna jasa membuat aspek keamanan menjadi salah satu perhatian utama.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Dewan Bangli Kritisi Jalan Rusak hingga Utang PEN 

balitribune.co.id | Bangli - Rapat Paripurna DPRD Bangli yang digelar pada Jumat (25/9/2026) mengungkap RAPBD Bangli 2027 yang disampaikan pihak eksekutif tercatat senilai Rp1,32 triliun. Hal ini mendapat sorotan  DPRD Bangli. Rapat yang berlangsung secara maraton itu. dipimpin langsung Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika. 

Baca Selengkapnya icon click

Dua Rumah Terbakar, Kerugian Tembus Rp260 Juta

balitribune.co.id | Singaraja - Dua rumah warga di Kabupaten Buleleng terbakar dalam waktu berbeda pada Minggu (27/9/2026). Kebakaran terjadi di Dusun Galiran, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, dan Banjar Dinas Padangbulia, Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada. Tidak ada korban jiwa dalam dua kejadian tersebut. Namun, kedua rumah mengalami kerusakan berat dengan total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp260 juta.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Mulai 1 Oktober 2026, Pelaporan Insidental Sektor Pasar Modal dan Bursa Karbon Wajib Lewat Sistem OJK

balitribune.co.id | Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat pengawasan sektor pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon melalui digitalisasi pelaporan. Mulai 1 Oktober 2026, penyampaian laporan insidental kepada OJK wajib dilakukan melalui sistem pelaporan yang terintegrasi.

Baca Selengkapnya icon click

Transaksi Digital Tumbuh 40,36 Persen, QRIS Tembus 69,32 Juta Pengguna

balitribune.co.id | Jakarta - Ekonomi dan keuangan digital (EKD) semakin dipandang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Untuk mengoptimalkan potensinya, sinergi kebijakan, inovasi teknologi, penguatan talenta digital, serta keamanan sistem pembayaran menjadi agenda utama Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 (FEKDI x IFSE 2026).

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.