balitribune.co.id I Bangli - RSUD Bangli dibawah kepemimpinan Direktur, dr I Dewa Gede Oka Darsana Sp.An terus melakukan berbagai inovasi kreatif guna meningkatakan pelayanan. Salah satu inovasi yang dikembangkan sejak 2025 adalah Satwa Care di Sal Jempiring, ruang rawat inap anak.
Lewat inovasi Satwa Care, anak-anak yang menjalani perawatan dibuat senyaman mungkin dengan menyediakan area bermain dan mural yang mengisahkan cerita rakyat I Lutung Teken I Kakua.
Tidak dipungkiri anak-anak yang menjalani perawatan beberapa hari akan berprilaku rewel dan merasa bosan. Guna menghilangkan rasa bosan tersebut anak- anak diajak ke area tersebut.
Perawat kemudian masatua (bercerita) dengan improvisasi sesuai kondisi pasien agar anak lebih tenang, tidak bosan, serta lebih mudah diajak makan maupun minum obat. Metode ini ini dinilai efektif menjaga ketenangan anak selama menjalani perawatan.
Sal Jempiring kemudian mengembangkan inovasi WhatsApp (WA) Reminder. Gabungan kedua inovasi ini kemudian diberi label Satwa Care. Pasien yang telah pulang akan diingatkan sehari sebelum jadwal kontrol melalui pesan WA, tentunya dengan persetujuan keluarga pasien terlebih dahulu. Menurutnya, layanan ini sangat membantu pasien yang lupa datang untuk kontrol.
"Harapan kami, WA Reminder bisa dikembangkan untuk seluruh pasien kontrol," kata Oka Darsana didampingi PIC inovasi RSUD Bangli Luh Gede Arie Astuti dan lainnya, Selasa (28/7/2026).
Kata Oka Darsana sejatinya sebelum menghadirkan inovasi Satwa Care, RSUD Bangli lebih dulu menerapkan inovasi di ruang VIP berupa layanan pemilihan menu makanan. Lewat layanan ini, pasien dapat memilih menu sehari sebelumnya atau beberapa jam sebelum waktu makan, sehingga makanan yang disajikan sesuai dengan keinginan pasien.
"Dengan pola yang kita terapkan ini menghindari rasa bosan pasien akan menu yang disajikan. Menu disajikan dengan konsep berbeda, tetapi tetap memperhatikan standar gizi. Pola ini akan kami kembangkan ke ruang rawat inap lainnya," jelas Direktur asal Banjar/Desa Sulahan, Kecamatan Susut ini.
Disamping itu RSUD Bangli juga terus menyempurnakan layanan administrasi melalui digitalisasi surat keterangan bebas narkoba dan sehat jiwa. Bagi pemohon surat ketarangan ini, hanya memindai barcode menggunakan ponsel, dan selanjutnya mengisi data secara mandiri. Setelah itu petugas tinggal mencetak dokumen. “Melalui digitalisasi ini selain mempersingkat waktu juga meminiimalisir terjadi kesalahan dan lebih praktis,” sebutnya.
RSUD Bangli juga membuat terobosan yakni memanfaatkan eco enzyme menjadi sabun cuci ramah lingkungan. Ide ini muncul berawal dari sisa eco enzyme yang sebelumnya diproduksi terkait program Pemkab Bangli menuangkannya di Danau Batur. Setelah program terlaksana, ternyata RSUD Bangli masih menyimpan banyak stok eco enzyme. “Melihat cairan serbaguna hasil fermentasi tersebut masih tersisa muncul inisiatif mengolah menjadi sabun cuci yang digunakan di dapur rumah sakit,” jelasnya.
Menurutnya, inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menghemat biaya untuk pembelian sabun. Soal ketersedian bahan bakunya pun mudah diperoleh yakni dengan memanfaatkan sisa buah dan sayur di rumah sakit yang masih layak digunakan. “Proses fermentasi limbah organik butuh waktu beberapa bulan dan untuk diolah menjadi sabun butuh waktu paling lama tiga hari,” kata Oka Darsana.