balitribune.co.id | Mangupura - Kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air baku untuk produksi air bersih di Kabupaten Badung. Kondisi tersebut terlihat dari menyusutnya muka air di Estuary Dam Suwung yang menjadi salah satu sumber bahan baku utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung.
Saat ini, level air di Estuary Dam Suwung tercatat hanya sekitar 60 sentimeter, sementara kondisi normal berada di kisaran 150 sentimeter. Penurunan muka air tersebut menjadi salah satu perhatian di tengah persoalan pasokan air bersih yang sebelumnya terjadi di sejumlah wilayah Kuta Selatan.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, I Wayan Suyasa, mengatakan penurunan debit air tersebut berkaitan dengan kondisi kemarau yang cukup panjang. Untuk menjaga ketersediaan dan kelancaran aliran air baku, pihaknya kini melakukan sejumlah langkah penanganan di sekitar Estuary Dam.
“Penurunan debit air ini kami sikapi dengan melakukan normalisasi daerah aliran sungai di seputaran Estuary Dam,” kata Suyasa.
Normalisasi dilakukan menggunakan alat berat. Pengerukan difokuskan pada material sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan pada aliran menuju Estuary Dam. Dengan pengerukan tersebut, diharapkan aliran air dapat kembali lebih lancar dan kapasitas tampungan maupun aliran air dapat dimaksimalkan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Perumda Air Minum Tirta Mangutama menjaga keberlangsungan produksi air bersih, terutama ketika sumber air baku mengalami tekanan akibat musim kemarau.
Kondisi Estuary Dam Suwung tersebut menjadi perhatian karena pasokan air baku memiliki keterkaitan dengan kemampuan produksi air bersih yang selanjutnya didistribusikan kepada pelanggan, termasuk wilayah Kuta Selatan yang dalam beberapa hari terakhir mengalami gangguan pasokan air.
Sebelumnya, krisis air di sejumlah kawasan Kuta Selatan terjadi setelah kerusakan pompa berkapasitas 800 kilowatt pada Sistem 4 IPA Estuary Perumda Air Minum Tirta Mangutama. Kerusakan pompa tersebut menyebabkan debit produksi turun sehingga distribusi air ke sejumlah wilayah ikut terdampak.
Meski pompa telah selesai diganti dan dipasang, pemulihan distribusi air membutuhkan waktu karena kondisi geografis sejumlah wilayah Kuta Selatan yang berada di kawasan lebih tinggi. Di tengah proses pemulihan tersebut, kondisi kemarau dan turunnya muka air Estuary Dam menjadi tantangan tambahan bagi penyediaan air bersih.
Perumda Air Minum Tirta Mangutama kini berupaya mengoptimalkan sumber air yang tersedia, termasuk melalui normalisasi aliran sungai. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga pasokan air baku sekaligus mengantisipasi berlanjutnya musim kemarau.
'Kami imbau gunakanlah air secara bijak, apalagi musim kemarau air baku sangat terbatas," katanya.