balitribune.co.id | Tabanan – Sebuah rumah milik lansia bernama Ni Wayan Darsi (68) di Banjar/Desa Karyasari, Kecamatan Pupuan, porak poranda usai disapu hujan lebat yang disertai tiupan angin kencang.
Musibah tersebut membuat konstruksi bagian atap hingga bangunan rusak dan tidak layak ditempati lagi, sehingga korban terpaksa mengungsi ke kediaman anaknya.
Peristiwa robohnya hunian lansia tersebut terjadi pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 17.30 Wita di tengah cuaca ekstrem yang menerpa wilayah Pupuan dan sekitarnya.
Beruntung, Darsi terhindar dari bahaya reruntuhan karena saat kejadian sedang berada di warung milik anaknya yang lokasinya tidak jauh dari rumah.
Kelian Banjar Karyasari, I Made Surya Darma, mengonfirmasi bahwa amblasnya bagian atas bangunan tersebut dipicu oleh terpaan hujan deras dan angin kencang yang mengguyur pemukiman setempat.
Meski tidak menelan korban jiwa, tingkat kerusakan pada bagian rangka dan atap genteng menyebabkan seluruh area tempat tinggal korban untuk sementara waktu dikosongkan.
"Yang jebol hanya bagian atap dan rangka bangunan atap yang rusak. Untuk sementara, nenek Darsi terpaksa tinggal di rumah anaknya sambil menunggu penanganan dan perbaikan rumah," ujar Surya pada Selasa (3/11/2026).
Surya Darma membeberkan, hunian yang ambruk tersebut merupakan fasilitas bantuan program Bedah Rumah yang disalurkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan pada 2014.
Bangunan sederhana itu sejatinya dilengkapi fasilitas kamar tidur, kamar mandi, serta tempat suci, namun hancurnya komponen atap membuat tempat tinggal ini lumpuh total.
Pasca-kejadian, krama banjar bersama pihak keluarga bergerak cepat menggelar aksi gotong royong untuk membersihkan puing-puing material bangunan yang ambruk demi mengantisipasi risiko lanjutan.
Pihak otoritas desa juga langsung meneruskan laporan resmi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan guna memperjuangkan bantuan pemulihan fisik.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BPBD Tabanan. Harapannya bisa mendapat bantuan untuk perbaikan rumah sehingga nenek Darsi bisa kembali menempati rumahnya," tuturnya.
Merespons musibah di Desa Karyasari tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Sri Nadha Giri, menyatakan pihaknya telah menerima laporan resmi dan melakukan penelaahan awal atas faktor pemicu kerusakan bangunan.
"Sudah ada laporan. Dari informasi awal, bagian atap rumah memang sudah lapuk sehingga tidak kuat menahan beban genteng saat hujan deras," ungkap Giri.
Ia menambahkan, jajarannya saat ini tengah menerjunkan tim teknis ke lapangan untuk mengecek secara langsung kondisi fisik rumah milik Darsi agar proses penyaluran bantuan perbaikan dapat disegerakan.
Langkah ini menjadi bagian dari rekapitulasi pendataan dan penanganan darurat atas maraknya insiden bencana alam akibat cuaca ekstrem di berbagai titik wilayah Tabanan. "Semua kerusakan akibat bencana alam masih kami data dan penanganan saat ini," tandasnya.