Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

Bali Tersanjung, Lalu Hilang?

dosen
Bali Tribune / Drs. I Nengah Suardhana, M.Pd - Dosen Undiknas

balitribune.co.id | "Paradise Island for Everyone, bukan Paradise Island for Capital." Selama lebih dari setengah abad, Bali dikenal dunia bukan karena gedung pencakar langit, kawasan finansial internasional, atau pusat perdagangan global. Bali dicintai karena sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang: alamnya yang indah, budayanya yang hidup, masyarakatnya yang ramah, serta filosofi hidup yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Inilah kekuatan Bali yang sesungguhnya.

Masyarakat Bali sejak dahulu diajarkan hidup berdasarkan Tri Hita Karana dan Tri Kaya Parisudha berpikir baik (manacika), berkata baik (wacika), dan berbuat baik (kayika). Nilai-nilai tersebut melahirkan masyarakat yang sederhana, penuh toleransi, dan menjaga harmoni. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak orang Bali memandang setiap pembangunan bukan hanya dari sisi keuntungan ekonomi, tetapi juga dari dampaknya terhadap keseimbangan kehidupan.

Rencana menjadikan Bali sebagai pusat kegiatan ekonomi atau keuangan berskala internasional atau International Financial Center (IFC). tentu dapat dipandang sebagai upaya memperkuat perekonomian nasional. Namun, pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur adalah: apakah Bali benar-benar membutuhkan proyek sebesar itu? Ataukah justru Bali sedang diminta memikul beban yang tidak sesuai dengan karakter dan daya dukungnya? Are you ready? 

Yang paling dikhawatirkan bukanlah perubahan semata, melainkan perubahan yang mengorbankan identitas Bali. Pengalaman di banyak destinasi dunia menunjukkan bahwa pembangunan berskala besar dapat meningkatkan harga tanah, mempercepat alih fungsi lahan, mendorong spekulasi properti, serta meningkatkan biaya hidup masyarakat lokal. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat asli Bali berisiko semakin sulit memiliki rumah, mempertahankan lahan warisan leluhurnya, maupun mengembangkan usaha sendiri. Mereka tetap tinggal di Bali, tetapi perlahan kehilangan ruang ekonomi di tanah kelahirannya.

Kekhawatiran lain adalah semakin besarnya tekanan terhadap lingkungan. Bali saat ini masih menghadapi berbagai persoalan seperti kemacetan baru di Serangan, keterbatasan air bersih di beberapa wilayah karena lapangan golf, pengelolaan sampah, serta tekanan terhadap kawasan pesisir abrasi tiap tahun 10cm dan lahan pertanian berkurang. Pertanyaannya kritisnya adalah: jika tantangan hari ini saja belum sepenuhnya terselesaikan, apakah pembangunan berskala jauh lebih besar tidak akan menambah beban baru?

Yang membuat Bali istimewa bukanlah kemewahan infrastrukturnya, tetapi keaslian kehidupan masyarakatnya. Wisatawan datang untuk melihat upacara agama yang masih hidup, sawah yang masih hijau, pura yang tetap sakral, serta masyarakat yang menjaga tradisi dan budaya dengan tulus. Apabila identitas tersebut perlahan memudar karena tekanan pembangunan yang terlalu agresif, maka Bali berisiko kehilangan keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain.

Bali memang harus berkembang, tetapi perkembangan tidak selalu identik dengan proyek raksasa. Bali membutuhkan pembangunan yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat peningkatan Pendidikan SDM, kesehatan, pengelolaan sampah, transportasi publik, konservasi lingkungan, perlindungan lahan pertanian subak, serta pemberdayaan UMKM lokal. Pembangunan seperti inilah yang lebih sejalan dengan semangat Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

Di sisi lain, Indonesia saat ini juga menghadapi tantangan untuk terus memperkuat kepercayaan investor. Kepercayaan tersebut tidak hanya dibangun melalui pembangunan kawasan baru, tetapi juga melalui kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, transparansi, serta stabilitas ekonomi. Faktor-faktor inilah yang dalam banyak penelitian ekonomi menjadi fondasi utama masuknya investasi jangka panjang. Oleh karena itu, penguatan tata kelola nasional akan jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar membangun simbol-simbol ekonomi baru.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah wajah Bali dalam puluhan tahun ke depan, diperlukan kajian SWOT yang benar-benar komprehensif. Kajian tersebut hendaknya melihat grand design Bali kembali dengan  melibatkan akademisi, pebisnis, tokoh bendesa, desa adat, pelaku pariwisata, organisasi lingkungan, generasi muda, serta masyarakat Bali sendiri. Pembangunan yang baik bukan hanya layak secara ekonomi, tetapi juga dapat diterima secara sosial, budaya, dan lingkungan.

Bali bukan sekadar aset ekonomi nasional. Bali adalah warisan budaya dunia yang hidup. Menjaga Bali berarti menjaga salah satu wajah Indonesia di mata dunia. Jangan sampai demi mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek, kita justru kehilangan modal terbesar yang selama ini menjadikan Bali terkenal: keaslian budaya, keindahan alam, dan harmoni masyarakatnya.

Sudah saatnya kita bertanya, apakah Bali ingin dikenang sebagai "The Last Paradise", atau perlahan berubah menjadi "The Lost Paradise"?

Semoga para pembuat kebijakan dan anggota legislatif menimbang setiap langkah dengan hati-hati. Apabila masih terdapat ruang untuk mengevaluasi maupun mengkaji ulang rencana tersebut, maka dialog yang terbuka, berbasis data akurat, dan melibatkan masyarakat merupakan pilihan yang bijaksana. Masa depan Bali bukan hanya milik generasi sekarang, tetapi juga titipan bagi anak cucu yang akan datang.

Bali tidak membutuhkan kemegahan untuk diakui dunia. Dunia telah lebih dahulu mencintai Bali karena kesederhanaannya. Tugas kita bukan mengubah jati diri Bali, melainkan menjaganya tetap menjadi Paradise Island for Everyone.

"Peradaban besar tidak runtuh karena kehilangan kekayaan, tetapi karena kehilangan jati dirinya. Bali tidak akan kehilangan keindahannya dalam semalam. Bali akan kehilangannya sedikit demi sedikit, ketika keseimbangan dikalahkan oleh ambisi, ketika kearifan lokal dikalahkan oleh keuntungan sesaat, dan ketika masyarakatnya tidak lagi menjadi tuan rumah di tanah leluhurnya."

wartawan
RED
Category

Rekam Jejak Brigjen Pasma Royce, Pakar Reserse yang Kini Nahkodai Polda Bali

balitribune.co.id | Denpasar  - Kapolri melakukan mutasi terhadap 88 Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen) melalui Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026. Mutasi ini mencakup sejumlah posisi strategis, mulai dari tingkat Mabes Polri hingga kepolisian wilayah.

Tags
Baca Selengkapnya icon click

Baru Sehari Menjabat Kapolri, Jenderal Suyudi Geser Kapolda Bali

balitribune.co.id | Denpasar - Sehari usai dilantik sebagai Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto merombak jajaran Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen) Polri. Melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, sebanyak 88 personel dimutasi, termasuk posisi Kapolda Bali dan Kalabfor Polda Bali.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Lansia Hilang di Nusa Penida Ditemukan Meninggal di Perbukitan

balitribune.co.id | Semarapura - Upaya pencarian terhadap I Nyoman Selir (79), warga Banjar Semaya, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, yang dilaporkan hilang sejak 24 Agustus 2026 berakhir duka. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan perbukitan Bukit Rempaan, Banjar Ampel, Desa Pejukutan, pada Jumat sore sekitar pukul 14.00 WITA.

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Saksi BPN Tak Tahu Soal Pemalsuan, Tim Hukum Sebut Kasus AA Dharmawan Kriminalisasi

balitribune.co.id | Denpasar - Sidang sengketa tanah di Subak Kerdung, Pedungan, Denpasar Selatan (Densel) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (01/10/2026), makin bergulir menarik. Tim kuasa hukum terdakwa AA Dharmawan menilai perkara yang menimpa kliennya makin benderang dan memperkuat dugaan adanya kriminalisasi.

Baca Selengkapnya icon click

Hingga Agustus 2026, Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang 

balitribune.co.id | Mangupura - Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mencatat pelayanan kepada 15,5 juta penumpang pada periode bulan Januari hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 10 juta penumpang rute internasional dan 5,5 juta penumpang domestik. 

Tags
Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.