balitribune.co.id | Mangupura - Pengembangan sektor Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE) di kawasan pariwisata Nusa Dua, Badung didukung oleh kinerja pariwisata kawasan yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data kumulatif Januari–September 2026, jumlah kunjungan ke kawasan setempat mencapai 363.621 kunjungan, meningkat 2,87% dibandingkan periode yang sama pada 2025, yaitu 353.482 kunjungan.
Kinerja akomodasi juga menunjukkan perkembangan yang positif. Tingkat okupansi hotel pada September 2026 mencapai 84,42%, meningkat 0,61 poin persentase dibandingkan September 2025 yang tercatat sebesar 83,81%. Sementara itu, Average Length of Stay (ALOS) atau rata-rata lama tinggal wisatawan di kawasan Nusa Dua meningkat dari 2,64 malam pada September 2025 menjadi 2,92 malam pada September 2026. Peningkatan lama tinggal ini membuka peluang untuk mengoptimalkan belanja wisatawan melalui layanan kuliner, transportasi, rekreasi, dan berbagai aktivitas wisata lainnya.
Dari sisi pasar, Australia masih menjadi kontributor utama wisatawan mancanegara ke kawasan Nusa Dua, diikuti pasar internasional lainnya serta wisatawan domestik. Keragaman pasar tersebut menjadi salah satu modal penting dalam menjaga daya tarik kawasan dan memperkuat ketahanan industri pariwisata di tengah dinamika permintaan.
Pengelola kawasan pariwisata Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika mengungkapkan, bahwa pertumbuhan kinerja pariwisata perlu diikuti dengan strategi pengelolaan kawasan yang berorientasi pada nilai ekonomi jangka panjang. “Ke depan, pengelola kawasan akan terus memperkuat sinergi dengan pengelola hotel, penyelenggara kegiatan, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mengoptimalkan peluang MICE. Kami ingin memastikan bahwa peningkatan aktivitas di Nusa Dua berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan, pengalaman wisatawan, dan peluang usaha bagi masyarakat lokal,” ujarnya dalam siaran persnya, Selasa (20/10).
Kata dia, sebagai salah satu kawasan pariwisata terpadu unggulan di Indonesia, Nusa Dua didukung oleh fasilitas akomodasi, infrastruktur pertemuan, serta lingkungan destinasi yang mendukung penyelenggaraan kegiatan berskala nasional maupun internasional. Kombinasi tersebut menjadi modal strategis untuk menarik konferensi, pertemuan bisnis, dan berbagai agenda global yang berpotensi memperluas aktivitas ekonomi pariwisata.
Pengelola kawasan pariwisata Nusa Dua terus mendorong pengelolaan kawasan yang mengedepankan kualitas layanan, koordinasi lintas pemangku kepentingan, serta keberlanjutan destinasi. Melalui sinergi dengan pengelola hotel (tenant), penyelenggara acara, pemerintah, dan pelaku usaha, pengelola kawasan Nusa Dua berupaya memastikan bahwa pengembangan aktivitas MICE berjalan selaras dengan peningkatan kualitas destinasi serta manfaat ekonomi bagi berbagai pihak.
Lebih lanjut ia mengatakan, sebagai pengelola kawasan, optimistis Nusa Dua dapat terus berkembang sebagai destinasi MICE unggulan di Indonesia. "Upaya ini diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing pariwisata Bali di tingkat global, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi industri pariwisata dan pelaku usaha lokal," imbuhnya.