balitribune.co.id | Singaraja - Perumda Swatantra Kabupaten Buleleng berupaya menjaga ketersediaan jagung untuk pakan ternak di tengah meningkatnya kebutuhan peternak ayam petelur. Hingga Oktober 2026, perusahaan daerah tersebut telah menyerap sekitar 280 ton jagung dari petani lokal. Namun, terbatasnya produksi dan meningkatnya permintaan membuat pasokan mulai menipis.
Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Bobi Suryanto, mengatakan pengembangan jagung melalui petani binaan saat ini baru mencakup sekitar 70 hektare. Angka tersebut masih jauh dari potensi lahan yang dipetakan Dinas Pertanian Buleleng, yakni sekitar 26.000 hektare.
“Kalau kita pantau di lapangan, para peternak di Buleleng bisa dikatakan berlomba-lomba berburu jagung. Saat ini kami di Perumda Swatantra yang sudah membangun ekosistem hulu-hilir baru membina sekitar 70 hektare dari potensi 26 ribu hektare yang disampaikan Distan. Karena itu, produksi lokal kita masih sangat sedikit,” ujar Bobi, Kamis (22/10/2026).
Untuk mendorong petani meningkatkan produksi, Swatantra membeli hasil panen secara langsung dengan pembayaran tunai. Harga jagung tongkol berkulit atau bontang ditetapkan Rp3.000 per kilogram. Sementara itu, jagung pipil basah dibeli seharga Rp4.500–Rp5.000 per kilogram dan pipil kering Rp6.000–Rp6.500 per kilogram.
Adapun harga jual jagung pipil kering kepada peternak berada pada kisaran Rp7.000–Rp7.500 per kilogram. Menurut Bobi, tingginya kebutuhan membuat pasokan yang tersedia belum mampu memenuhi permintaan secara optimal.
Satu peternak ayam petelur skala menengah, kata dia, rata-rata membutuhkan sekitar satu ton jagung per hari atau 30 ton per bulan. Saat ini, Swatantra baru bekerja sama dengan tiga peternak, tetapi pemenuhan kebutuhan mereka pun mulai menghadapi kendala akibat keterbatasan pasokan.
Untuk mengantisipasi kekurangan hingga akhir tahun, Swatantra mulai mendatangkan jagung dari luar daerah. Perusahaan telah memesan 60 ton jagung dari Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta menjajaki pasokan dari Lombok, Bima, Banyuwangi, dan Jember.
Langkah tersebut dilakukan karena pasokan jagung di sejumlah daerah di Bali, termasuk Tabanan, Badung, dan Karangasem, juga mengalami keterbatasan. Bahkan, peternak dari Jembrana sempat meminta bantuan pasokan jagung dari Buleleng.
“Tujuan utama kami mencari pasokan luar daerah adalah menstabilkan ketersediaan pakan. Jangan sampai kelangkaan jagung ini memicu lonjakan drastis pada harga telur dan daging ayam di pasaran yang berimbas pada inflasi daerah,” tegas Bobi.
Sebagai langkah jangka panjang, Perumda Swatantra bersama Dinas Pertanian Buleleng mendorong perluasan lahan tanam jagung. Swatantra siap memfasilitasi bibit unggul varietas dua tongkol dengan potensi produksi 10–12 ton per hektare dalam masa tanam sekitar empat bulan. Dukungan juga disiapkan melalui pendampingan permodalan, pupuk, dan pengairan yang diperhitungkan saat panen.
“Dengan demikian, fokus pengadaan saat ini diarahkan untuk menjaga ketersediaan jagung pakan agar kebutuhan peternak tetap terpenuhi dan gejolak harga telur serta daging ayam dapat ditekan,” tandas Bobi.