balitribune.co.id | Semarapura - Ashram Gandhi Puri Sevagram Klungkung menjadi ruang dialog pendidikan dan pertukaran antarmasyarakat melalui program Education and Exchange: People-to-People Dialogue Indonesia–India, Sabtu (17/10/2026). Pertemuan ini menjadi momentum untuk memperkuat hubungan historis dan kebudayaan kedua negara, sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi generasi muda.
Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar Jawaharlal Nehru University (JNU) India, Prof. Shankari Sundararaman; Praveen Kumar Verma dari Praveen Yoga Academy; Reny Rahmawati dari Prajna Academy; serta Pengasuh Ashram Gandhi Puri Sevagram, Ida Rsi Putra Manuaba.
Dialog ini menyoroti pentingnya diplomasi antarmasyarakat (people-to-people diplomacy) sebagai kekuatan mendasar untuk merawat persahabatan lintas negara di luar jalur formal antarpemerintah. Pendidikan, yoga, nilai-nilai Gandhi, kebudayaan, serta pertukaran pengetahuan menjadi sarana bersama dalam membangun pemahaman dan solidaritas antargenerasi.
Keberadaan Ashram Gandhi Puri Sevagram yang telah berdiri selama tiga dekade mendapat perhatian khusus dalam dialog tersebut. Kiprah Ida Rsi Putra Manuaba dalam merawat ruang perjumpaan dan pertukaran nilai dinilai sebagai langkah nyata mempererat hubungan Indonesia dan India.
Dalam kesempatan itu, gagasan Titi Banda Indonesia–India diangkat sebagai simbol jembatan persahabatan yang menghubungkan sejarah, spiritualitas, pendidikan, dan masa depan kedua bangsa. Semangat ini diharapkan kembali tumbuh di kalangan generasi muda melalui ruang belajar bersama, pertukaran budaya, dialog intelektual, dan kegiatan lintas komunitas.
Prof. Shankari Sundararaman menilai kontribusi Ashram Gandhi Puri sebagai potensi strategis untuk menghidupkan kembali jembatan hubungan kedua negara berbasis masyarakat. Ia menekankan pentingnya pendekatan antarmasyarakat agar persahabatan Indonesia–India semakin dikenal dan berkembang di kalangan orang muda.
Hubungan Indonesia dan India memiliki akar sejarah panjang yang mencakup pertukaran agama, filsafat, seni, bahasa, dan kebudayaan. Namun, keberlanjutan hubungan tersebut memerlukan keterlibatan aktif generasi baru agar warisan persahabatan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan berkembang menjadi kerja sama nyata.
Melalui dialog ini, pendidikan dan pertukaran budaya ditempatkan sebagai sarana mempertemukan pemikiran akademis dengan praktik kehidupan masyarakat. Perjumpaan ini membuka peluang program bersama antarlembaga pendidikan, pertukaran mahasiswa dan pemuda, latihan yoga, serta forum diskusi perdamaian dan kemanusiaan.
Bali, dengan kekayaan tradisi dan sifat inklusifnya, dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong proses tersebut. Ashram Gandhi Puri Sevagram di Klungkung pun menjadi salah satu simpul penting yang mendukung dialog lintas negara.
Salah satu tantangan utama diplomasi kebudayaan saat ini adalah memastikan generasi muda mengenal sejarah sekaligus terlibat langsung. Karena itu, semangat Titi Banda Indonesia–India perlu diterjemahkan ke dalam program yang relevan bagi anak muda—bukan sekadar seremoni, melainkan aksi nyata di bidang pendidikan, kreativitas, dan kolaborasi sosial.
Pertemuan ini diharapkan memperluas jaringan kerja sama antara akademisi India, lembaga pendidikan, praktisi yoga, dan komunitas lokal di Indonesia. Persahabatan antarbangsa tidak hanya diwariskan oleh sejarah, tetapi harus terus dihidupkan oleh generasi yang menjalankannya.