balitribune.co.id I Denpasar - Penanganan banjir di kawasan Jalan Bumi Ayu, Kelurahan Sanur, Denpasar Selatan, telah memasuki hari ketiga pada Kamis (26/2).
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Denpasar masih terus berupaya melakukan penyedotan genangan air yang melumpuhkan akses jalan utama dan pemukiman warga.
Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Denpasar, I Wayan Karma, menjelaskan bahwa penyedotan dilakukan secara intensif karena saluran drainase di lokasi tersebut tidak berfungsi optimal."Kami mengerahkan unit mobil pompa (BW). Awalnya ada tujuh unit, dan saat ini empat unit masih terus beroperasi menyedot air untuk dibuang ke kawasan mangrove," ujar Wayan Karma.
Ia menambahkan bahwa proses pemulihan bisa memakan waktu lama, bahkan hingga satu bulan, tergantung pada intensitas curah hujan. Kendala utama di lapangan adalah kontur lahan yang tidak merata."Wilayah selatan lebih tinggi, sehingga aliran air tidak lancar. Kami sudah menyarankan agar saluran diperbesar atau ditembuskan ke arah selatan, namun terkendala perbedaan ketinggian tanah tersebut," imbuhnya.
Bencana banjir ini memberikan dampak ekonomi yang cukup berat bagi pelaku pariwisata. Direktur Nike Villas, Wayan Suka, mengungkapkan bahwa seluruh tamunya terpaksa mengungsi akibat air masuk ke dalam kamar. "Hujan terus-menerus selama tiga hari menyebabkan air merendam kasur dan barang-barang di dalam kamar. Dari total 16 kamar, ada 5 vila keluarga yang terdampak parah," ungkap pria asli Sanur tersebut.
Kondisi ini membuat para tamu memutuskan untuk membatalkan masa inap dan pindah ke lokasi lain. Bahkan, pihak vila harus menanggung kerugian karena tamu enggan membayar penuh setelah menjadi korban banjir. Akibatnya, seluruh pesanan (booking) yang masuk terpaksa dibatalkan untuk sementara waktu.
Hingga saat ini, para karyawan vila terpantau bergotong royong membersihkan sisa-sisa lumpur dan genangan di dalam area properti mereka sembari berharap cuaca segera membaik.