balitribune.co.id I Denpasar - Laju inflasi Provinsi Bali kembali meningkat pada Agustus 2026 setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi. Meningkatnya aktivitas pariwisata pada periode puncak kunjungan wisatawan, disertai tingginya permintaan sejumlah bahan pangan dan jasa, menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali pada 1 September 2026, inflasi Bali pada Agustus tercatat sebesar 0,61 persen secara bulanan atau "month to month" (mtm). Angka tersebut berbalik arah dibandingkan Juli 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,51 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, peningkatan inflasi pada Agustus terutama dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan barang dan jasa seiring masuknya periode "peak season" pariwisata.
“Inflasi bulanan Provinsi Bali terutama didorong oleh masuknya 'peak season' pariwisata yang meningkatkan permintaan tiket pesawat dan bahan pangan seperti daging ayam ras,” kata Achris Sarwani di Denpasar, Rabu (2/9).
Menurut dia, tingginya permintaan daging ayam ras juga dipengaruhi oleh berbagai kegiatan masyarakat, seperti penyelenggaraan pernikahan, upacara adat dan ngaben. Selain itu, normalisasi permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah turut memberikan tekanan terhadap permintaan bahan pangan.
Secara tahunan, inflasi Bali juga mengalami peningkatan. Pada Agustus 2026, inflasi tercatat sebesar 3,45 persen secara "year on year" (yoy), naik dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,42 persen.
Capaian inflasi Bali tersebut berada di atas inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan. Meski demikian, Bank Indonesia menilai inflasi Bali masih terkendali karena tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Secara spasial, seluruh daerah yang menjadi kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi pada Agustus 2026. Kabupaten Buleleng mencatatkan inflasi bulanan tertinggi, yakni sebesar 1,12 persen, dengan inflasi tahunan mencapai 3,61 persen.
Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,35 persen secara bulanan dan 2,86 persen secara tahunan. Sementara Kabupaten Tabanan mencatatkan inflasi sebesar 0,33 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan mencapai 3,59 persen.
Berdasarkan kelompok komoditas, kenaikan harga pada Agustus terutama bersumber dari daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, serta biaya sekolah dasar.
Namun, tekanan inflasi yang lebih tinggi masih tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga. Di antaranya bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, serta baju kaos tanpa kerah atau t-shirt pria.
Achris mengatakan, Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi berbagai langkah pengendalian inflasi yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh Bali. Penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya permintaan.
"Ke depan, terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah masih tingginya permintaan barang dan jasa selama periode puncak kunjungan wisatawan mancanegara yang berlangsung pada Juli hingga September," katanya mengingatkan.
Selain itu, potensi musim kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino kuat juga dapat memengaruhi produksi pertanian. Risiko lainnya berasal dari masih tingginya biaya angkutan barang secara global yang berpotensi memberikan tekanan terhadap harga sejumlah barang impor.
"Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi bersama Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota melalui strategi pengendalian inflasi yang berfokus pada empat aspek utama atau 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif," sebutnya.
Implementasi strategi tersebut dilakukan melalui koordinasi antara TPIP dan TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah, pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan, serta optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan.
"Upaya lainnya dilakukan melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani, penguatan koordinasi antarinstansi, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat," imbuhnya.
Dengan berbagai langkah pengendalian tersebut, Bank Indonesia memprakirakan inflasi Bali sepanjang 2026 tetap dapat dijaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.