balitribune.co.id I Denpasar - Kebakaran hebat yang terjadi di Jalan Nakula Pemecutan Kelod Denpasar menyisakan kesedihan bagi puluhan warga yang tinggal di lokasi. Dari catatan Dinas Sosial Kota Denpasar, baru terdata ada 85 KK yang terdampak dari musibah kebakaran tersebut. Hingga kini Dinsos Denpasar terus melakukan pendataan kepada warga yang terdampak.
"Kami telah memberikan bantuan dasar. Matras dan kebutuhan awal sudah kita salurkan sejak kemarin. Kita terus memantau perkembangan jumlah warga yang terdampak," kata Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, I Gusti Ketut Sudiatmika, Rabu, 2 September 2026.
Ia menambahkan, berdasarkan pendataan awal sesaat setelah kejadian, tercatat ada 23 KK yang terdampak. Namun, setelah dilakukan pemutakhiran data bersama pengurus musala tempat warga mengungsi dan tokoh masyarakat setempat, didapat data 85 KK.
"Saat awal kejadian warga sempat terpencar. Setelah kita lakukan asesmen ulang dan pengumpulan KTP, saat ini jumlahnya menjadi 85 KK. Angka ini masih berpotensi berkembang karena pendataan jumlah jiwa dalam tiap KK masih berlangsung," jelasnya.
Selain sembako dan pakaian layak dari masyarakat, Dinsos juga mendistribusikan family kit untuk penanganan balita serta membuka layanan pemeriksaan kesehatan bagi warga yang terpapar asap. Ia mengatakan sebagian besar korban selamat merupakan warga pendatang dari luar Bali yang menyewa lahan perorangan di lokasi tersebut. "Mereka berasal dari Jawa dan Nusa Tenggara Timur (NTT)," terangnya.
Mengenai kelanjutan penanganan dan potensi pemulangan korban ke daerah asal, Sudiatmika mengatakan akan berkoordinasi intensif dengan pemerintah provinsi. "Sebagian besar korban ber-KTP luar Bali. Kami akan berkoordinasi dengan pihak provinsi terkait komunikasi dan skema pemulangan agar masyarakat yang terdampak merasa aman dan nyaman," paparnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar, I Made Tirana, mengatakan petugas masih melakukan penyemprotan untuk memastikan seluruh bara api benar-benar padam. Kondisi angin yang cukup kencang juga membuat bara di dalam tumpukan material beberapa kali kembali menyala.
“Penyemprotan api terus dilakukan karena api terus muncul. Kebakaran ini sama persis dengan di TPA Suwung. Sehingga harus dibantu alat berat, setelah digaruk baru kita semprot,” ujar Tirana.
Menurut Tirana, penyemprotan dari permukaan saja tidak cukup untuk memadamkan api. Bara telah masuk jauh ke bagian bawah tumpukan material sehingga harus dibongkar terlebih dahulu menggunakan alat berat. "Kalau tidak begitu sulit mematikan api karena api sudah di bawah sampah," jelasnya.
Untuk mempercepat proses pemadaman, Damkar mendapat dukungan alat berat berupa excavator. Sebanyak tiga excavator digunakan untuk menggaruk, membongkar, dan mengurai tumpukan rongsokan sehingga titik-titik bara yang berada di bagian dalam dapat dijangkau petugas pemadam.
Hingga Rabu, Damkar Denpasar telah menghabiskan lebih dari 200 tangki air untuk melakukan penyemprotan di lokasi. Tumpukan sampah dan rongsokan yang mencapai sekitar tiga meter menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.