balitribune.co.id | Gianyar - Mengawali musim hujan akhir tahun 2026, puluhan bencana mulai melanda wilayah Gianyar. Dari laporan tercatat 24 kejadian bencana terjadi dari Minggu malam hingga Senin (2/11/2026).
Dari jumlah tersebut, 16 kejadian merupakan tanah longsor, enam pohon tumbang, dan dua banjir. Selain merusak bangunan dan memutus akses jalan, cuaca ekstrem juga berdampak terhadap pelayanan air bersih di tujuh kecamatan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar Ida Ayu Rukmini, Selasa (3/11/2026), mengungkapkan, berdasarkan pendataan sementara, puluhan kejadian tersebut tersebar di sejumlah wilayah Gianyar. Dalam beberapa kejadian, pohon tumbang juga disertai tanah longsor. "Mulai Senin dini hari petugas BPBD sudah melakukan evakuasi. Kami prioritaskan pada bencana yang mengganggu akses masyarakat dan berhubungan dengan keselamatan jiwa," ujar Rukmini.
Menurutnya, penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dan kondisi di lapangan. Sejumlah titik yang belum tertangani pada Senin dilanjutkan penanganannya pada Selasa. Wilayah Gianyar bagian utara menjadi kawasan yang paling banyak terdampak, terutama Kecamatan Payangan dan Tegallalang. Kondisi geografis yang didominasi perbukitan dan tebing meningkatkan kerawanan longsor saat hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga Desember mendatang. Warga diminta memperhatikan kondisi pohon-pohon besar di sekitar rumah dan akses permukiman. Selain itu, masyarakat yang tinggal di dekat tebing juga diimbau mewaspadai potensi longsor serta memastikan saluran air tidak tersumbat. "Kami imbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama yang huniannya berada di sekitar tebing, memiliki pohon perindang, serta saluran air yang berpotensi tersumbat," harapnya.
Di sisi lain, tingginya intensitas hujan juga mengganggu pelayanan air bersih Perumda Tirta Sanjiwani Kabupaten Gianyar. Sejumlah instalasi pengolahan air mengalami gangguan akibat meningkatnya debit air dan material sampah yang terbawa arus. Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Sanjiwani, Ketut Suastika, menjelaskan, pompa di WTP Air Jeruk, Kecamatan Payangan, untuk sementara tidak dapat dioperasikan akibat banjir dan tingginya debit air. Gangguan juga terjadi pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Petanu. Instalasi tersebut mengalami penyumbatan akibat sampah kiriman yang terbawa aliran air sehingga kapasitas produksi air bersih menurun. "Air berlumpur dan membawa sampah sehingga masuk ke bak penampungan. Karena itu, aliran kami tutup sementara," jelas Suastika.
Akibat gangguan tersebut, pelayanan distribusi air bersih terdampak di tujuh kecamatan. Sejumlah pelanggan mengalami penurunan debit hingga aliran air yang mengecil akibat terganggunya proses produksi dan distribusi. Untuk mempercepat pemulihan, Perumda Tirta Sanjiwani mengerahkan teknisi guna memeriksa dan memperbaiki instalasi yang terdampak. Hingga Selasa siang, penanganan dan pembersihan material masih dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar bersama warga setempat. Pembersihan material menjadi prioritas agar akses jalan dapat segera dibuka kembali.
Perbekel Desa Sebatu, I Wayan Tangsi Asrama, mengungkapkan dampak cuaca buruk di wilayahnya cukup serius. Sedikitnya terdapat tiga titik bencana dengan kondisi kerusakan parah yang membutuhkan penanganan segera. "Di wilayah Desa Sebatu ada tiga titik bencana yang kondisinya cukup parah. Dampaknya tidak hanya terhadap fasilitas umum, tetapi juga mengganggu akses dan aktivitas masyarakat," ungkapnya.