Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan.

"Ni Lukat Lakut" Ekspresi Kritis Atas Kondisi Alam Bali

kesenian
Bali Tribune / GONG KEBYAR - Penampilan Sekha Gong Kebyar Genta Gargita menjadi sebuah kritik tajam terhadap degradasi lingkungan dan hilangnya keseimbangan alam di Bali

balitribune.co.id | Negara - Tidak sedikit kegelisahan dan kritik terhadap kondisi dan persoalan yang terjadi di pulau dewata disuarakan melalui pertunjukan seni. Teranyar kritik tajam terhadap degradasi lingkungan dan hilangnya keseimbangan alam di Bali kembali disampaikan oleh Duta Seni Kabupaten Jembrana pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025.

Lebih dari sekadar persembahan seni, garapan seni Duta Gong Kebyar Dewasa Kabupaten Jembrana menjadi sebuah kritik tajam terhadap degradasi lingkungan dan hilangnya keseimbangan alam di Bali. Sekha Gong Kebyar Genta Gargita dari Banjar Anyarsari Kangin, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya menyuarakan suara hati nurani dengan cara yang cerdas, artistik, dan penuh makna hingga memukau ribuan penonton.

Kritik tersebut diekspresikan melalui Tari Kreasi Kekebyaran "Ni Lukat Lakut". Tarian ini adalah representasi Jagat Kerthi, konsep keseimbangan fundamental antara manusia (buana alit) dan alam semesta (buana agung), yang seharusnya selaras dan harmonis. Konsep ini mengajarkan tindakan merawat tanah, menjaga air, menyucikan udara, dan menempatkan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam, bukan sebagai penguasa.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ladang-ladang dibisniskan, hutan dijadikan wacana dan sungai hanya mengalirkan sampah dan janji. Di tengah absurditas ini, muncullah sosok Ni Lukat Lakut, sebuah tubuh buatan dari jerami dan kain lusuh. Ia bukan manusia, tetapi menanggung beban kemanusiaan yang lupa arah. Nyi Lukat Lakut adalah simbol orang-orangan sawah, yang dipasang untuk menjaga, namun tak pernah diberi hak untuk hidup.

Ia berdiri kokoh dibawah terik mentari berselimut gelapnya malam, diterjang angin dan diguyur hujan demi panen yang tak ia nikmati, menjadi simbol perlindungan sekaligus keterikatan terhadap tanah, terhadap kuasa, dan terhadap harapan yang diam-diam memudar. Ni Lukat Lakut adalah pertanyaan tentang siapa yang menjaga dan siapa yang dijaga, siapa yang berkuasa, dan siapa yang hanya dipasang untuk terlihat berguna.

Jika Jagat Kerthi adalah harmoni, maka Nyi Lukat Lakut adalah pengingat. bahwa harmoni bukanlah sekadar janji kosong, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus diwujudkan. Tarian ini lahir dari tafsir koreografis atas sosok lakut, dengan "Ni" sebagai pengingat bahwa alam harus dimuliakan dan disucikan (Lukat). Estetika gamelan jegog dalam lanskap bunyi memberikan semangat kekebyaran yang khas dan berbeda.

Begitupula fragmen tari Nusa Sari yang terinspirasi dari nama sebuah desa di Kecamatan Melaya. Fragmen penggambaran historis ini secara implisit juga menyinggung hubungan kompleks antara manusia dan alam, serta upaya mewujudkan keseimbangan agar kehidupan dapat berjalan harmonis. Fragmen ini mengisahkan sejarah migrasi penduduk dari Nusa Penida ke Jembrana atas titah Raja Klungkung, I Dewa Agung Jambe.

Dikisahkan, karena Nusa Penida terlalu padat dan minimnya sumber pencarian, Sang Raja memutuskan memindahkan 121 kepala keluarga ke wilayah Jembrana yang kala itu masih berupa hutan belantara yang kondisinya asri dan belum terjamah. Rombongan yang dipimpin I Gusti Ketut Tangeb menghadapi berbagai rintangan di hutan angker Jembrana, dihuni satwa liar dan makhluk gaib. Banyak hal yang tidak diinginkan terjadi.

Tidak sedikit anggota rombongan yang diganggu binatang buas, tersesat tidak tau arah, sakit karena racun pohon hingga gangguan makhluk gaib. Gangguan ini menghambat proses pembukaan hutan. I Gusti Ketut Tangeb lalu kembali menghadap raja untuk meminta petunjuk. Berdasarkan kekuatan bhatin dan petunjuk/pawisik yang didapat, raja memberikan tumbal/ pakelem yang harus ditanam di tengah area pemukiman baru.

Setelah mendapatkan petunjuk dari raja I Gusti Ketut Tangeb pun kembali ke hutan belantara yang terletak di sisi barat pulau dewata. Ia pun menemui rombongannya dan mengintruksikan agar menjalankan petunjuk dari sang raja tersebut. Setelah melaksanakan titah raja, barulah proses pembukaan hutan dapat berjalan, dan masyarakat mendirikan perahyangan suci untuk memuja dan memohon perlindungan di tempat yang baru ini.

Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan mengungkapkan kehadiran duta seni Jembrana tidak hanya membawa kultur yang kuat, tetapi juga menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali. Dengan penampilan ini, Sekha Gong Kebyar Genta Gargita tidak hanya mengharumkan nama Jembrana, tetapi juga memperkuat eksistensi seni tradisi di kalangan generasi muda masa kini.

Pihaknya pun menyatakan keinginannya agar seni di Jembrana terus berkembang, tidak hanya dalam bentuk hiburan tetapi juga sebagai medium yang efektif untuk menyuarakan isu-isu penting dan mendorong kesadaran kolektif. "Tentu ke depannya kita berharap duta-duta Kabupaten Jembrana yang akan datang lebih kreatif dan inovatif sehingga bisa memberikan suguhan yang menarik dan memukau masyarakat," ujarnya.

wartawan
PAM
Category

Ribuan Pecalang Siap Amankan Nyepi 1948 Saka, Gubernur Koster Tekankan Peran Strategis Keamanan Berbasis Desa Adat

balitribune.co.id I Denpasar -  Ribuan pecalang dari desa adat se-Bali mengikuti Gelar Agung Pacalang Bali Tahun 2026 di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung Gubernur Bali Wayan Koster, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara atau Manggala Utama.

Baca Selengkapnya icon click

Aksi Bersih Sampah Kawasan Danau Batur Libatkan Lima Ribu Peserta

balitribune.co.id I Bangli - Pemkab Bangli terus melakukan upaya dalam hal penanganan sampah. Kali ini, aksi bersih-bersih menyasar kawasan Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Minggu (8/3/2026). Kegiatan yang merupakan bagian dari gerakan Bali Bersih Sampah ini melibatkan lebih dari 5.000 peserta dari berbagai unsur pemerintah, pelajar, serta masyarakat.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Anak-Anak PAUD di Klungkung Gembira Ikuti Parade Ogoh-Ogoh

balitribune.co.id I Semarapura - Bupati Klungkung I Made Satria membuka Parade Ogoh-Ogoh Jenjang PAUD se-Kabupaten Klungkung dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948 di depan Monumen Ida Dewa Agung Jambe, Kabupaten Klungkung, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan parade ogoh-ogoh ini mengusung tema Ogoh -Ogoh Ceria Menuju Harmoni, Peduli Sesama dan Alam Semesta.

Baca Selengkapnya icon click

Hari Ketiga Pencarian, Tim SAR Temukan Jenazah Bocah 12 Tahun Korban Banjir Bandang Desa Banjar

balitribune.co.id | Singaraja - Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban banjir bandang di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, memasuki hari ketiga pada Minggu (8/3/2026). Dalam operasi tersebut, tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads

Jelang Nyepi, Seluruh Krama Adat Peliatan Terima Sembako

balitribune.co.id I Gianyar -  Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Peliatan kembali menyalurkan program sosial kepada seluruh krama menjelang hari raya.  Digelar serantak Minggu (8/3/2026), sembako berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng  dibagikan pada masing -masing  banjar dengan jumlah keseluruhan mencapai 2.050 krama (kepala keluarga) yang tersebar di 12 banjar adat.

Baca Selengkapnya icon click

Kadisnaker Ingatkan Perusahaan, THR 2026 Wajib Dibayar Penuh

balitribune.co.id I Gianyar - Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gianyar I Gede Suardana Putra secara tegas menginstruksikan seluruh perusahaan di wilayah Kabupaten Gianyar untuk mematuhi Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan.

Baca Selengkapnya icon click
Iklan icon ads
Iklan icon ads
Bagikan Berita
news

Dikeluhkan Pelaku Usaha, Dewan Badung Siap Kaji Ulang Pajak Hiburan

Lorem, ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquid, reprehenderit maiores porro repellat veritatis ipsum.