balitribune.co.id | Denpasar - Giat Bank Sampah Gempita yang digencarkan pada siswa SD Negeri 5 Pedungan Denpasar, makin keren dan bersemangat. Selain mendorong kepedulian lingkungan dikalangan siswa, program berjalan sejak 2018 ini juga mengajak siswa memilah dan memberikan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan.
Kegiatan penimbangan sampah dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali, tepatnya pada hari Sabtu. Sampah yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari lingkungan sekolah, tetapi juga dibawa siswa dari rumah.
Ketua Bank Sampah Gempita, I Putu Dede Mahendra, mengatakan program tersebut sempat vakum selama pandemi Covid-19. Namun, kegiatan kembali berjalan dan hingga kini terus dikembangkan.
“Sampah terpilah yang dibawa meliputi botol plastik, kardus, kertas bekas hingga minyak jelantah. Setiap kali penimbangan, siswa akan mendapatkan saldo berupa uang,” ujarnya.
Menurut Dede, pengelolaan administrasi Bank Sampah Gempita saat ini telah menggunakan sistem digital melalui aplikasi SiDarling (Sistem Sadar dan Peduli Lingkungan) milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Denpasar.
Melalui aplikasi tersebut, siswa dapat memantau saldo tabungan sampah mereka secara langsung menggunakan telepon seluler. Khusus siswa, saldo yang terkumpul disimpan secara berkala dan baru dapat dicairkan setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah dasar atau menamatkan kelas 6.
Menariknya, terdapat siswa yang berhasil mengumpulkan saldo hingga Rp1,5 juta saat lulus dari sekolah. Sampah yang terkumpul selanjutnya didistribusikan kepada pihak ketiga untuk diolah dan dimanfaatkan kembali.
Kepala SDN 5 Pedungan, Ni Made Suciningsih, mengatakan pengumpulan sampah di sekolah dikoordinasikan oleh wali kelas bersama para kader. Sekolah juga memiliki kader Gema Ranger yang berasal dari siswa kelas 6.
Para Gema Ranger turut membantu proses penimbangan sampah sekaligus melakukan input data ke aplikasi SiDarling.
“Antusiasme seluruh warga sekolah terhadap keberadaan bank sampah ini sangat tinggi. Tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga guru hingga pengelola kantin sekolah,” kata Suciningsih.
Ia menambahkan, keberadaan Bank Sampah Gempita menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Anak-anak diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak diajarkan bahwa sampahku adalah tanggung jawabku,” ujarnya.
Suciningsih juga menyambut antusias kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq ke sekolah tersebut. Menurutnya, kunjungan tersebut dapat menjadi tambahan motivasi bagi siswa untuk semakin aktif dalam menjaga lingkungan.
“Dengan adanya kunjungan ini membuktikan bahwa anak-anak juga bisa mendapatkan motivasi. Motivasi dari dalam diri itu penting. Setelah mendapatkan kunjungan, anak-anak akan semakin antusias,” katanya.
Keberadaan Bank Sampah Gempita diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi melalui tabungan sampah, tetapi juga membentuk kebiasaan siswa untuk memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab sejak usia sekolah.