Diposting : 23 May 2017 18:22
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
BBTF
Keterangan Gambar: 
Suasana BBTF tahun lalu di Nusa Dua, Badung

BALI TRIBUNE - Ajang promosi pariwisata bertaraf internasional (Bali and Beyond Travel Fair/BBTF) tahun 2017 ini tercatat akan mendatangkan pembeli dari 53 negara. Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Ketut Ardana menjelaskan jika calon pembeli pada BBTF tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan gaung BBTF mulai dikenal oleh tour operator di luar negeri.

Disebutkan Ardana, BBTF tahun 2016 lalu hanya mampu menghadirkan 222 pembeli dari 30 negara. Menurutnya, ini akan menjadi catatan luar biasa dengan bertambahnya jumlah negara yang berpartisipasi dalam BBTF 2017. "BBTF akan berlangsung tanggal 7-11 Juni mendatang di Bali Nusa Dua Convention Centre. Itu berarti penyelenggaraannya  lagi sekitar beberapa hari. Persiapan hingga saat ini ya sudah 95 persen lah," ungkapnya di Denpasar kemarin.

Ardana mengakui, hingga saat ini sudah terdaftar sebanyak 255 tour operator selaku pembeli yang berasal dari 53 negara dari target 241 pembeli. Sedangkan untuk penjual produk wisata yang berasal industri pariwisata Indonesia tercatat sebanyak 160 perusahaan. Namun tidak menutup kemungkinan jika dalam beberapa hari ini akan ada tambahan pembeli dan penjual.

"Kalau perencanaan untuk menghadirkan para pembeli/tour operator dari luar negeri dan menghadirkan para penjual dari industri pariwisata Indonesia itu, sudah mantap. Jumlah pembeli tahun ini bertambah dibandingkan BBTF tahun 2016 lalu," sebut Ardana.

Namun pihaknya berharap bisa mendatangkan tour operator yang lebih banyak lagi dari Timur Tengah. Pasalnya sekarang ini pasar Timur Tengah sangat potensial untuk digarap dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Bali. Dikatakan Ardana penyelenggaraan BBTF yang bertepatan dengan bulan puasa menjadi kendala mendatangkan pembeli dari Timur Tengah.

"Sebenarnya harapan kita supaya ada banyak yang hadir dari Middle East (Timur Tengah). Cuma sayang karena penyelenggaraan ini berkaitan dengan Ramadhan, masih bulan puasa. Mudah-mudahan tahun depan tidak lagi kena bulan puasa. Kita coba mengatur strategi supaya tahun 2018 itu tidak kena lagi bulan puasa," ujarnya.