Diposting : 21 April 2017 19:49
San Edison - Bali Tribune
pelabuhan
Keterangan Gambar: 
Wakil Ketua DPRD Bali, Nyoman Sugawa Korry, menjadi narasumber dalam Talk Show ‘Bali Economic Challenge’ di Graha Tirta Gangga Lantai 2 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Kamis (20/4).

BALI TRIBUNE - Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, Nyoman Sugawa Korry, menegaskan, saat ini ekspor Bali kalah jauh dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Salah satu penyebabnya, daerah ini belum memiliki Pelabuhan peti kemas.

Karena itu, agar ekspor ini bergairah ke depan, Sugawa Korry mengusulkan agar Bali harus berani membangun Pelabuhan peti kemas. Penegasan ini disampaikan Sugawa Korry, saat tampil sebagai narasumber dalam Talk Show ‘Bali Economic Challenge’ di Graha Tirta Gangga Lantai 2 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Kamis (20/4).

Kegiatan dengan tema ‘Optimalisasi UMKM dalam Mendorong Kinerja Perkembangan Pasar Ekspor Provinsi Bali’ ini dihadiri Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana, Asisten II Setda Provinsi Bali, Kanwil Bea Cukai Wilayah Bali, Ketua ASEPHI, PT Pelindo III Cabang Benoa, Akedemisi dan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).

Salah satu poin menarik yang dibahas dalam talkshow ini adalah terkait optimalisasi UMKM dalam mendorong ekspor bali. “Dari sisi buyer, Bali masih sangat tergantung pada 10 besar buyer yang terdiri dari AS dan negara-negara Eropa dan Asia Pasifik,” kata Sugawa Korry, dalam talkshow yang dihadiri para stakeholder eksportir serta instansi terkait ini.

“Dari sisi komoditi juga selama 5 tahun tergantung dengan 10 komoditi terbesar, dimana yang tertinggi adalah ikan dan udang. Belum ada diversifikasi produk yang dignifikan,” imbuh politisi Partai Golkar asal Buleleng itu. Soal realisasi ekspor, khususnya yang dari laut, diakui Sugawa Korry, juga setali tiga uang. Sebab hampir 90 persen realisasi ekspor justru dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Itu artinya, ketergantungan ekspor dari Surabaya sangat tinggi. Belum lagi waktu kirim dan ongkos kirim menjadi jauh lebih tinggi. “Karena itu untuk meningkatkan peran ekspor menjadi lebih besar dalam pembentukan PDRB daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Bali, maka kita harus berani melakukan terobosan dengan membangun Pelabuhan peti kemas,” tandas Sugawa Korry.

Untuk Pelabuhan peti kemas ini, Sugawa Korry usulkan untuk dibangun di Benoa atau di Celukan Bawang. “Ini butuh perhatian semua pihak. Di samping itu juga pembangunan dan pengembangan Bali Trade Centre harus segera ditindaklanjuti,” ujarnya. Terkait usulan membentuk koperasi eksportir yang mengemuka dalam talkshow yang dipandu Made Suantina ini, Sugawa Korry menyambutnya positif.

“Ini bagus, karena selama ini kaum UMKM skala usahanya masih kecil, sehingga tidak efisien dan kalau bergabung dalam koperasi maka eksportir akan lebih layak dan ekonomis,” tuturnya. Dalam kegiatan itu, berkembang juga usulan agar insentif diberikan kepada investasi yang berorientasi ekspor sebagaimana Perda Nomor 1 Tahun 2016.

Menurut Sugawa Korry, selama ini pemerintah sesungguhnya sudah ada, seperti dalam hal infrastruktur, akses pemodalan, pendidikan, informasi pasar, dukungan regulasi, kemudahan pelayanan, hingga insentif. Ada pula dukungan legislasi berupa Perda Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Perseroan Terbatas Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Provinsi Bali.

Bahkan sudah ada 70 ribu UMKM di Bali yang dibantu oleh Jamkrida ini. “Selain Perda tersebut, DPRD Bali juga membuat Perda Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Perlindungan Buah lokal. Dalam hal ini, pemerintah diminta agar mewajibkan pemilik hotel di Bali untuk menggunakan dan memanfaatkan buah lokal sehingga meningkatkan produktifitas petani lokal,” pungkas Sugawa Korry.