Diposting : 3 March 2019 22:40
habit - Bali Tribune
Bali Tribune/esy Seorang Ibu dan anaknya menggunakan tangga darurat.

Denpasar | Bali Tribune.co.id - Pasar Badung mentereng dengan teknologi modern ternyata bukan jaminan mutu. Pasalnya, walau baru dua minggu diresmikan Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, tetapi  beberapa sarana di dalam bangunan pasar tersebut sudah dikeluhkan oleh para pedagang.

Pantauan Bali Tribune, Sabtu (2/3) terdapat railing tangga yang menuju ke lantai tiga copot dari dindingnya. Kendati tidak menelan korban jiwa namun sejumlah ibu-ibu pedagang merasa khawatir dengan keamanan mereka.

Menurut keterangan sejumlah pedagang, copotnya railing tangga tersebut terjadi sejak hari Sabtu lalu atau tujuh hari setelah pasar itu diresmikan oleh Walikota Denpasar. Dengan kondisi demikian para pedagang merasa kurang aman saat mengangkut barang dagangannya melewati tangga tersebut.

Para pedagang juga mengeluhkan, di beberapa tangga darurat kurang penerangan sehingga tidak membantu mereka saat mengangkut barang dagangannya terlebih saat jelang dinihari.

Selain itu, lift dan escalator juga sering mati seperti yang terjadi pada hari Sabtu lalu.

“Lift dan escalator mati sejak pukul 08.00 pagi hingga 13.00 siang,” kata sejumlah pedagang.

Lain lagi dengan toilet di lantai 1 hingga lantai 3 terdapat aroma busuk yang tidak tahu dari mana sumbernya. Tetapi menurut pantauan Bali Tribune, di toilet wanita misalnya, yang paling menyebarkan aroma busuk yaitu di lantai 2. Sedangkan di lantai 1 dan 3 agak kurang aroma busuk ketimbang lantai 2.

“Setiap orang yang masuk ke toilet harus menutup hidung rapat-rapat. Jika tidak maka bisa muntah lantaran baunya sangat menyengat,” kata sejumlah ibu-ibu di pasar.

Di semua toilet dilengkapi dengan air kran yang cukup namun begitu masuk ke ruang toilet wanita langsung disambut dengan aroma busuk yang menyengat.

“Penggunaan toilet biasanya dipungut biaya suka rela, ada yang Rp1.000 dan ada juga Rp 2.000. Ada penjaga toilet untuk bersih-bersih,” kata sejumlah pedagang.

Sementara itu, Ibu Ketut seorang pedagang buah, misalnya, mengeluhkan tata letak meja yang menurutnya kurang cocok bagi para pedagang buah. Demikian juga pedagang pakaian, canang, dan kue mengeluhkan hal yang sama seperti ibu Ketut. 

“Omzet penjualan dan keuntungan makin berkurang lantaran masih banyak pedagang yang berjualan di luar pasar. Dengan begitu, pembeli lebih memilih berbelanja di luar daripada masuk ke dalam pasar,” kata ibu Ketut.

“Kami meminta Pemerintah Kota Denpasar segera menertibkan para pedagang yang berjualan di luar pasar. Bila tidak ditertibkan akan berpengaruh pada omzet penjualan kami,” kata Ibu Ketut dan Ibu Ayu, penjual canang. cw/esy