Diposting : 9 September 2016 11:47
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
desa
Bedeng reot yang saat ini dihuni dadong Bawak setelah meninggalkan bantuan bedah rumahnya. Insert: Ni Wayan Bawak (75)

Negara, Bali Tribune

Di tengah gencarnya upaya pengentasan kemiskinan dari pemerintah melalui berbagai program, salah satunya bedah rumah bagi keluarga tidak mampu, ada saja warga yang justru tidak mau menerima manfaat bantuan kendati hidupnya di bawah garis kemiskinan.

Itulah Ni Wayan Bawak (75), seorang janda yang meninggalkan bantuan bedah rumah yang diberikan desa setempat, dan justru bertahan tinggal di bedeng kumuh di tengah tegalan, di Banjar Pangkung Medahan, Desa Pulukan, Pekutatan.

Ditemui di gubuknya Kamis (8/9), ia tampak istirahat usai santap siang dengan lauk nasi rebusan daun singkong. Dengan napas yang sudah terengah-engah, ia mengisahkan, setelah ditinggal suaminya Alm pekak Camat belasan tahun lalu, bersama anaknya Komang Arini (40) yang memiliki keterbelakangan mental, ia tetap hidup nomaden menumpang di tanah milik saudara dan tetangganya. Sempat beberapa bulan menempati rumah bantuan di tanah saudaranya, kini Ni Wayan Bawak dan Komang Arini menempati tanah milik anak tirinya I Wayan Ladri sejak setahun lalu.

Bawak mengaku pernah mendapat bantuan bedah rumah, namun karena merasa tidak enak tinggal di rumah yang bagus di tanah saudaranya, iapun akhirnya meninggalkan rumah dua kamar itu untuk kembali hidup nomaden. Saat ini ia hidup di bedeng seluas satu meter yang hanya beratap plastik bekas kulit semen dan beralaskan terpal. Saat hujan, ia basah kuyup bersama anaknya karena selain bocor, air masuk ke bedengnya. Jangankan tempat MCK, seluruh aktivitasnya, baik masak dan tidur dilakukannya di dalam bedeng setinggi kurang dari satu meter itu.

Saat ini lansia yang sudah tidak kuat terlalu lama berdiri dan tremor ini bertahan hidup dengan bantuan beras dari pemerintah dan uluran tangan tetangga sekitar. Ia tidak mau berharap banyak dari bantuan pemerintah karena ingin bertahan hidup seadanya  saja walau berpindah-pindah di kebun tetangganya.

Derita Bawak tak berhenti di situ, anak-anaknya yang dari dua kali pernikahan sebelumnya, juga tidak mau peduli walaupun Bawak kini dalam kondisi sakit. Sedangkan anak dari suami ketiganya, Ni Komang Arini yang saat ini diajaknya, hanya bisa bekerja seadanya walau kondisi fisiknya normal.

Beberapa tetangga termasuk juga pemilik lahan bedah rumah yang pernah dihuninya, ditemui kemarin selain mengaku prihatin dengan kehidupan dadong Bawak yang menelantarkan diri ini, mereka juga kecewa karena Bawak justru keukeuh meninggalkan rumah yang  berdinding batako tersebut untuk pindah-pindah tinggal di tegalan hanya untuk mengikuti keinginan anaknya yang keterbelakangan mental.

 Belakangan Bawak diketahui berniat tinggal di hutan bersama anaknya, namun pihak desa dan adat setempat melarangnya terlebih sudah sering menerima bantuan dari pemerintah dan donatur.

Perbekel Pulukan, I Wayan Armawa dikonfirmasi siang kemarin membenarkan Ni Wayan Bawak adalah salah satu warganya yang memang masuk dalam buku merah. Bahkan pihaknya sudah memberikan bantuan bedah rumah, tetapi justru ditinggalkannya.

Semasih suami Bawak hidup, kata Armawa, juga diberikan bantuan beras baik raskin maupun beras lansia termasuk bantuan uang seperti BLT dan bantuan lain. Tetangganya juga setiap hari memberikan bantuan makanan seadanya.

“Kami juga sering mencarikan donatur agar bisa memberikan bantuan kepada lansia ini. Bahkan jika ada warga yang siap menerimanya lagi dengan memberikan lahan untuk ditempati minimal 15 tahun, kami sudah urunan dengan Kelihan Banjar Pangkung Medahan secara pribadi untuk membangun rumah yang akan diberikan pada Ni Wayan Bawak,” ujarnya.

Armawa juga mengungkapkan bahwa suaminya alm pekak Camat sebenarnya memiliki warisan di Nusa Penida, Klungkung, namun Ni Wayan Bawak tidak pernah menikmatinya. Saat ini pihaknya mengatensi dadong Bawak agar tidak melarikan diri ke hutan.