Diposting : 8 May 2017 16:14
redaksi - Bali Tribune
TUMOR
Keterangan Gambar: 
Bayi malang Ni Kadek Melantika Intania Putri dalam gendongan ibundanya.

BALI TRIBUNE - Bayi berusia enam bulan yang juga anak yatim dari keluarga miskin, kondisinya sangat mengenaskan. Bayi malang bernama Ni Kadek Melantika Intania Putri buah kasih sayang dari pasangan suami-istri Ni Nyoman Murniati dan Nengah Mulianan (alm) warga asal Dusun Pesangkan, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat ini hanya bisa terbaring dan terkadang menangis lantaran sakit pada bagian dada kirinya, yang mengalami tumor pembuluh darah dengan benjolan cukup besar.

Kepada awak media yang menyambangi rumahnya, Minggu (7/5), Murniati ibu bayi malang itu menceritakan, awalnya hanya ada benjolan kecil di dada kiri anaknya tersebut, dan saat itu dia sempat membawa anaknya periksa ke RSUD Karangasem. Oleh dokter yang memeriksanya saat itu, benjolan tersebut diduga terjadi karena bekas imunisasi.

“Waktu itu benjolannya masih kecil Pak, dan karena khawatir saya kemudian membawa anak saya ini periksa ke RSUD Karangasem, dan dokter saat itu menduga jika benjolan itu karena bekas imunisasi,” sebut Murniati.

Namun dugaan itu meleset, karena ternyata benjolan di dada kiri Kadek Melantika itu terus membesar dan terjadi peradangan. Dan, saat ini benjolan tersebut mulai membuat bayi malang itu rewel karena menahan rasa sakit. “Saya membawa anak saya kembali periksa ke RSUD Karangasem dan anak saya ini dirujuk ke RSUP Sanglah,” ungkap Murniati.

Dengan biaya seadanya, Murniati yang semangat ingin anaknya sembuh itu pun lantas membawa anaknya periksa ke RSUP Sanglah sesuai rujukan RSUD Karangasem. Di rumah sakit umum pusat itu, anaknya menjalani CT-scan dan cek darah sebelum kemudian dokter di RSUP Sanglah memvonis anaknya mengalami tumor pembuluh daerah kategori tumor ganas.

Tim dokter juga menyarankan agar anak malang itu bisa mendapatkan perawatan dengan  baik termasuk harus segera dilakukan operasi pengangkatan tumor ganas itu. Sementara Murniati dan keluarganya sendiri mengaku siap jika anaknya tersebut dioperasi. “Kami siap, tapi sampai saat ini kami masih menunggu karena belum dijadwalkan sampai sekarang kapan operasinya itu akan dilaksanakan,” ucapnya.

 Saat ini Murniati sedang berpikir keras bagaimana menyiapkan biaya untuk operasi sang anak termasuk biaya hidup dan perawatan nanti selama di RSUP Sanglah, sementara saat ini saja dirinya harus berjuang sendiri menghidupi keluarga setelah suami tercintanya meninggal dunia akibat sakit.

Kendati pasrah dengan keadaan, namun Murniati tidak akan menyerah, dia berharap ada bantuan dari Pemkab Karangasem dan Provinsi atau pihak lain yang peduli dengan nasib dan kondisi anaknya itu.

“Kalau kontrol ke RSUP Sanglah saya biasanya dibonceng oleh keluarga, tapi sepulang dari kontrol anak saya kadang rewel, dan badannya sering panas. Mungkin karena masuk angin,” bebernya.

Saat ini Murniati harus bekerja keras sendiri meski hanya dengan berjualan pisang goreng yang dititipkan di warung. Dan dia berharap anaknya bisa segera dioperasi dan bisa sembuh serta bermain seperti anak lainnya.