Diposting : 14 December 2017 22:21
Agung Samudra - Bali Tribune
Pura
Keterangan Gambar: 
Guna kesusksesan pembangunan Pura Luhur Tirta Manik Muncar, Krama Desa Belandingan Bangli mengupayakan berbagai upaya penggalian dana. Tampak puluhan krama Desa setempat tengah bergotong-rotong membangun Pura dimaksud, Rabu (13/12) kemarin.

BALI TRIBUNE - Krama Desa Pakraman Belandingan saat ini tengah bergotong-royong membangun Pura Luhur Tirta Manik Muncar, Kintamani Bangli. Dikarenakan pembangunan dimaksud membutuhkan dana hingga Rp 5,7 miliar, pihak desa pakraman pun melakukan penggalian dana.

Ketua Panitia Pembangunan Pura Luhur Tirta Manik Muncar, I Jero Kabeh, Selasa (12/12) lalu mengatakan, pembangunan pura ini adalah perluasan terhadap Pura Luhur Tirta yang berada di Bukit  Munduk Tamblang.

Dia menyebutkan, lokasi pura tersebut persis di atas lokasi pembangunan pura sekarang.

Dikatakan Jero Kabeh, tahun 2012 silam muncul ide dari krama Belandingan serta atas petunjuk sang sulinggih untuk memperluas pura tersebut menjadi tiga mandala, dan menambahkan pelinggih-pelinggih di dalamnya.

“Karena sudah keinginan segenap krama desa pakraman nanginang (membangun, red) Pura Luhur Tirta Manik Muncar, pembangunan dimulai tahun 2014. Tetapi, karena situasi ekonomi krama agak lemah, pembangunan sempat terhenti dan baru kembali dilanjutkan Pebruari 2017,” kata I Jero Kabeh.

Ia mengungkapkan, proses pekerjaan diawali dengan pembongkaran tebing menggunakan alat berat. Menurutnya,prioritaskan pembangunan di Pura itu adalah, penataan utama mandala seluas 22x15 meter.

Semengtara di Jeroan Pura, nantinya akan dibangun pelinggih Gedong Ratu Mas Membah, Payogan, Piyasan, pelinggih Ratu Pingit, pelinggih purana. Sementara saat ini baru dilakukan pembangunan terhadap satu pelinggih, yakni pelingih purana.

“Untuk material, pondasi menggunakan batu kali, sedangkan pelinggih dan penyengker memakai batu selem,” ujar I Jero Kabeh.
Dikatakannya, setelah utama mandala akan dilanjutkan penataan pada madya mandala.

Lanjut Jero Kabeh mengatakan, di madya mandala nantinya akan dibangun candi kurung, apit lawang, aling-aling, pawedan, bale Tandingan, piyasan, meru tumpang pitu linggih Ida Bhatara Wisnu serta pelinggih Ida Bhatara Dukuh.
“Termasuk juga nanti akan dibangun area parkir. Tetapi itu masih direncanakan, setelah utama dan madya mandala selesai,” imbuhnya.

Dalam upaya menyongsong pembangunan Pura Luhur Tirta Manik Muncar ini, Jero Kabeh menuturkan, Desa Belandingan telah membentuk panitia pada Pebruari 2017.

Adapun susunan kepanitiaan, tidak saja bertanggung jawab atas tahapan perencanaan fisik semata, namun juga upaya menggali dana punia dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, kalangan swasta, maupun dari umat Hindu.
Jero Kabeh menambahkan, dari rencana anggaran biaya (RAB) untuk pembangunan Pura Luhur Tirta Manik Muncar yang semula dipatok Rp 5,7 miliar hanya terpenuhi kurang dari Rp 500 juta.

Atas kondisi ini, panitia pembangunan Pura setempat melakukan penggalangan dana terus.

Dijelaskannya, dalam pendanaan ini, krama Desa Pakraman Belandingan yang berjumlah 205 KK dikenai urunan masing-masing Rp 500 ribu. Sementara dana tambahan diperoleh dari alokasi Dana Desa serta punia krama.

 “Harapan kami dari panitia dan desa pakraman, setelah matangi parahyangan ini, semoga panitia bisa menginformasikan ke luar desa, sehingga para pejabat dan para donatur ada yang mapunia,” harap Jero Kabeh.

Sementara itu, Perbekel Desa Belandingan, I Komang Suastika, menambahkan, semangat krama Desa Belandingan dalam membangunan Pura Luhur Tirta Manik Muncar juga didukung pemerintah desa.

Menurut dia,sinergi desa pakraman dan pemerintah desa nantinya dapat mewujudkan parahyangan tersebut.

“Semoga tahun depan di APBD Induk, apa yang dijanjikan tersebut bisa segerap terwujud sehingga pembangunan bisa berjalan baik,” pungkas Suastika.